3.6K
Saya bukan tipe orang yang mudah untuk move on ketika sudah merasa nyaman dengan seseorang.

Di antara teman-teman saya, saya paling terkenal dengan sifat defensif. Mungkin itu sebabnya saya tidak pernah menyayangi seseorang sampai terlalu berlebihan. Saya juga tidak pernah bergantung pada siapa pun. Saya pun tak pernah berharap untuk dicintai.

Semua ini menjadi sebuah problema begitu saya sudah mulai tumbuh dewasa. Saya dituntut untuk menjadi lebih pengertian, lebih bisa ngemong, juga mulai mencoba untuk mengalami apa yang namanya ‘jatuh’.

Bukan rahasia baru jika saya takutnya bukan main untuk ‘jatuh’. Entah itu jatuh cinta atau jatuh hati (saya pun tak tahu bedanya.) Yang saya tahu, kedua hal tersebut hanya akan berakhiran dengan satu hal: patah hati.

Saya bukan tipe orang yang mudah untuk move on ketika sudah merasa nyaman dengan seseorang. Saya tipikal orang yang akan terjun bebas-sebebasnya apabila saya jatuh hati/cinta. Saya tidak tahu bagaimana cara meng-undo perasaan saya pada seseorang.

Oleh karena itu, saya selalu overprotective dengan perasaan saya. Bahkan ketika saya merasa kalau saya ini sedang memendam rasa dengan seseorang, saya akan memfilternya seperti ini:

Merasakan rasa ‘itu’-mengurung diri di kamar, overthinking, menimbang baik dan buruk apabila saya tetap terus memiliki perasaan tersebut.

Kakak saya—yang notabene sudah bosan dengan kelakuan saya—akhirnya berkata pada saya pada suatu sore, “Kamu harus bisa stop second guessing everything. Kamu, lho, sama sekali belum pernah ada dalam suatu hubungan. Tapi kamu udah takut duluan. Kalo jatuh, ya, jatuh. Kalo sakit, ya, sakit.” Dia mulai berkata seenak jidat. “Semua ini simple,” ujarnya sejurus kemudian.

Mungkin mudah bagi dia, namun tantangan besar bagi saya. Saya tidak bisa membiarkan diri saya sendiri tersakiti di saat masih ada kesempatan untuk mencegah hal itu terjadi. Kakak saya mengibaratkan selama ini saya hanya bisa memandangi sebuah bongkahan es tanpa ingin menyentuhnya sama sekali.

Kakak bilang, “Kamu sudah berasumsi yang macam-macam tentang es itu, padahal megang aja belum. Ayolah, coba untuk sentuh. Kedinginanlah. Membekulah. Mati rasalah, sama seperti halnya es itu.”

“Oh, jadi Kakak mau saya sakit hati karena seorang cowok yang nggak worth untuk segala risiko ini?”

Kakak berdecak. “Bukan begitu.”

“Lalu?”

“Yang mau aku bilang, hanya jangan takut untuk mencintai seseorang.”

Kalimat itu mampu membuat saya tercenung selama beberapa saat. Rasanya aneh sekali ketika menyadari remaja di umur saya sibuk pacaran bahkan kakak-adikan, sementara saya di sini masih saja mempertanyakan apa esensi dari cinta itu sendiri.

Banyak orang yang mengira saya ini terlalu kritis. Tetapi, saya rasa hal ini wajar. Kita perlu untuk mengkritisasi segalanya demi mencari kebenaran yang sebenar-benarnya. Saya tentu tidak ingin menjadi budak bagi perasaan saya sendiri.

Saya akui, saya mungkin bisa bicara ngalor-ngidul tentang banyak hal, namun apabila sudah dihadapkan dengan perasaan saya sendiri, saya tidak paham. Perasaan adalah hal paling abstrak, tidak pernah stagnan, yang berarti saya tidak bisa berpatokan pada satu teori saja untuk memahami hal ini.

Pada awalnya saya melakukan penelitian kecil-kecilan. Saya banyak membaca buku literasi terkait. Saya bertanya pada banyak orang mengenai definisi cinta menurut masing-masing dari mereka. Hingga pada akhirnya penelitian absurd ini saya tutup karena saya sudah merasa overwhelmed dengan data-data yang ada. Begitu dahsyat dan rumitnya satu kata itu: cinta, mampu membuat saya kalang-kabut.

Ada salah seorang teman saya yang bilang, “Cinta itu tergantung dengan apa yang kamu rasakan.” Saya sejenak berpikir, lalu diam-diam setuju dengan ucapannya. Cinta itu tergantung apa yang kita rasakan. Ada yang bilang cinta itu pengorbanan, kasih sayang, atau mungkin rasa menggelitik di perut ketika orang yang diidam-idamkan lewat di depan mata.

Tetapi, ada juga yang bilang bahwa cinta itu tak lebih dari omong kosong belaka. Cinta itu sama dengan sakit hati. Cinta itu tidak pernah ada.

Banyak pendapat yang saya dapat. Ini juga merupakan penelitian paling menantang yang pernah saya lakukan. Hingga Kakak saya menyetop saya di tengah jalan.

“Kamu ngapain pake acara research begituan?”

“Soalnya saya ingin tahu apa itu cinta sebelum benar-benar merasakannya,” jawabku mantap.

“Astaga,” Kakak saya memijat pelipis. “Kalau kamu mau ngerasain cinta, ya tinggal jatuh cinta. Apa susahnya?”

“Berdasarkan data yang saya dapat—”

Girl, stop talking about your research. Cinta itu sesuatu yang nggak bisa dilogika. Kamu nggak bisa ngerasain cinta gitu aja hanya dengan membaca banyak buku teori. Yang kamu butuh itu adalah praktik langsung,” jelasnya.

“Tetapi bagaimana saya bisa praktik langsung di saat saya bahkan tidak tahu apa itu cinta sebenarnya?”

Kakak saya hanya bisa menghela napas panjang. Mungkin dia sudah jengah dengan perlakukan saya. “Seiring berjalannya praktik itu, kamu akan tahu.”

Pernyataan itu membuat saya berpikir kembali, tak habis-habisnya.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Yang mau aku bilang hanyalah: "Jangan takut untuk mencintai seseorang."". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Nurlita Lailana | @nurlita

INTJ | Critical thinker | A blogger on nur-lita.com | Writer | Wonderer |

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar