1.3K
Bukan cokelat, bukan pula bunga yang membuat kita bahagia. Namun, bagaimana cara kita menerima setiap kekurangan seseorang dan memberinya ruang untuk tumbuh di hidup kita.

"Kadonya jam tangan saja tidak apa-apa, ya? Kalau mau beli handphone atau tiket liburan ke Bali uangnya tak akan cukup."

Entah bagaimana kalimat itu tiba-tiba hinggap di pikiran saya. Empat tahun lalu, di bawah langit kota Bandung yang mendung. Tak ada yang benar-benar spesial di hari itu; hari jadi kami masih lama, pun hubungan kami baru jalan dua bulan. Hanya saja, orang-orang kerap merayakan 14 Februari sebagai hari kasih sayang sedunia, dan ini seolah menjelma tradisi dari tahun ke tahun.

Saya sendiri tak pernah benar-benar merayakannya, kecuali jika ditilik lagi ke belakang, saat saya duduk di bangku SMA dan merayakan momen itu sendirian dengan menghadiahi diri saya sebatang cokelat murahan.

"Kamu tidak suka kadonya?"

Tak ada yang salah, sebenarnya. Saya sangat suka kado itu. Bahkan saya sangat berterima kasih karena dia telah bersedia merepotkan dirinya untuk membeli bingkisan tersebut. Terlebih ketika saya menerimanya dari seseorang yang saya sebut kekasih.

"Saya suka."

"Lalu?"

Saya masih tercenung sambil menjaga pemberiannya di dalam genggaman. Pada saat yang sama, telinga saya penuh oleh himpunan nasihat Ibu di masa lalu.

Kau pantas berbahagia jika kekasihmu selalu ada kapan pun kau membutuhkannya.

Dan lelaki ini—orang yang saya sebut kekasih ini—tak pernah benar-benar ada ketika saya mengharapkan kehadirannya. Saat saya lelah karena rekan kerja di kantor berubah menjengkelkan, saat saya membutuhkan bahu untuk menangis, saat semangat menulis saya mulai mengendur dan inspirasi mendadak kering, dan saat mimpi saya terlalu penuh sehingga saya butuh wadah yang lain untuk menampungnya.

Dia tak pernah benar-benar ada di sana.

Saya yakin semua orang pernah melewati fase ini; mempertahankan hubungan agar terhindar dari kesepian. Itulah yang terjadi pada saya seusai pertemuan pada malam tahun baru itu. Sebisa mungkin saya mencoba berbagai cara agar saya mengenalnya lebih jauh, saling berbagi mimpi, bertukar rahasia. Namun pada akhirnya, semua upaya saya hanya berujung sia-sia.

Sampai kapan pun frekuensi kami tak akan pernah sama. Dia hidup untuk sebuah ambisi dan kebanggaan dirinya sendiri, di mana eksistensinya di kehidupan saya dapat diwakilkan berupa barang. Sementara saya membutuhkan kehadirannya untuk berbagi ruang dan saling menanamkan kepercayaan.

"Saya rasa lebih baik kamu yang menyimpannya."

Suara saya bergetar ketika menyampaikan kalimat itu.

Dengan wajah tertunduk, semata-mata agar pandangan kami tak bertemu. Perasaan saya seketika diselimuti kelegaan dan sesal. Barangkali karena saya telah melukai perasaannya. Atau mungkin sebuah fakta yang harus saya hadapi bahwa setelah ini saya harus menjalani hari seorang diri.

Namun, itu tak mengapa. Putus cinta hanyalah dongeng belaka. Sebab, cinta tak pernah putus bila kita menghadiahinya dengan tulus. Cinta akan terus tumbuh jika diberikan kepada orang yang tepat.

Pada suatu hari, orang-orang di berbagai belahan dunia mungkin sedang merayakan Valentine dengan caranya masing-masing. Berpakaian serba merah muda, membeli buket bunga dan cokelat berukuran raksasa untuk yang tersayang. Sukacita akan tergambar di wajah mereka.

Bagi saya sendiri, 14 Februari tak ayalnya seperti hari-hari biasa. Saya justru telah mematahkan hati seseorang pada hari itu, empat tahun lalu. Ini pun berlaku pada kalender saya yang tak berwarna merah ataupun merah muda.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Valentine: Hari Ketika Saya Justru Mematahkan Hati Seseorang.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Joy Agustian | @joyagustian

Penggemar warna putih dan biru langit. Adalah takdir mengapa ia begitu menyukai buku, suara ombak, dan menjadikan pantai sebagai pelariannya. Ingin diberi umur panjang agar dapat menulis sampai akhir hayat. Saat ini, ia sedang mempelajari yoga.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Crystal Monica | @alibabaalibabi

Belajar Saham

Janna Jr | @jannanorth

kita memang tidak akan pernah bisa mengukur kebahagiaan dari hanya sebatang cokelat. seikat mawar, atau kecupan yang turun di dahi. i like this story :)