3.7K
Awalnya saya memang mencoba, tapi lambat-laun saya merasa lelah. Saya pun memutuskan untuk berhenti.

Memahami dan mengerti orang lain merupakan hal yang sulit dilakukan. Akan tetapi, bukan berarti tidak mungkin dilakukan.

Bagi saya, mencoba memahami tingkah laku orang lain merupakan hal yang selalu saya lakukan. Ketika saya baru mengenal seseorang, saya pun mencoba berpikiran positif atas setiap tindakan "menyebalkan" yang ia lakukan.

"Oh, mungkin saya belum mengenal dia sepenuhnya."

Demikian pemikiran saya.

Jadi, saya selalu mencari sisi baik dari dirinya. Saya selalu melihat lebih dari apa yang ia tunjukan. Saya percaya bahwa pasti ada alasan di balik semua hal yang telah ia lakukan. Apakah tindakan dia itu menyakiti saya atau tidak. Saya selalu mencoba mengerti. Baiklah, alasan tersebut yang membuat dia berlaku demikian.

Hari demi hari berlalu. Saya masih berusaha untuk terus legowo dengan segala bentuk tingkah lakunya. Dia terkadang mengakui kalau dia menyebalkan. Akan tetapi, sayangnya, ia hanya merasa bahwa rasa kesal yang saya tunjukan hanyalah suatu lelucon yang bisa dianggap angin lalu. Lama-kelamaan, saya pun tak tahan.

Tanpa ia sadari, ia telah menyakiti hati saya dan teman terdekat saya. Ia tak pernah mau sadar diri bahwa apa yang ia lakukan sudah keterlaluan. Ketika saya pun mengonfrontasinya, dia sama sekali tak membalas. Diam saja layaknya patung.

Awalnya, saya berharap dia akan sadar. Bahwa apa yang ia lakukan itu sudah keterlaluan. Nyatanya, harapan saya memang hanya sebuah harapan. Dia kembali lagi seperti semula. Dia kembali berulah dan menyakiti hati orang lain.

Dalam hati, saya sering kali bertanya-tanya. Mengapa dia tidak pernah bisa sadar dan mengerti orang lain? Bukankah lelah harus berlaku demikian lalu dibenci?

"Kalau memang pada dasarnya kamu punya masalah, bukan berarti kamu bisa berlaku seenaknya. Bukan berarti seluruh hal di dunia ini adalah tentang kamu. Kamu seharusnya menyadari, bukan hanya kamu yang terluka di sini."

Meskipun saya sudah melontarkan hal tersebut, nyatanya juga percuma. Dia tetap berlaku seenaknya tanpa pernah mengerti perasaan orang lain. Ia seolah menutup mata atas segala bentuk candaannya yang menurut saya tidak lucu. Saya selalu mempertanyakan sensitivitas dia terhadap orang lain. Akan tetapi, lambat-laun saya pun menyadari, mungkin memang sudah tidak lagi tersisa rasa peka itu. Mungkin sudah terkubur jauh dan tidak dapat muncul kembali.

Pada akhirnya, saya pun memutuskan untuk menyerah.

Menyerah untuk mengerti dan memahami seluruh tindakan yang ia lakukan.

Meskipun saya tahu alasan di baliknya, meskipun saya tahu dia punya masalah yang memang tidak saya rasakan, saya tetap tidak bisa menerima. Saya sudah lelah untuk mengerti dan memahami.

Saya dihadapkan pada dua pilihan: tetap mencoba memahami seraya membiarkan diri terus tersakiti, atau berbaik hati kepada diri sendiri dengan menjauh dari orang-orang maupun lingkungan yang membuat saya tersakiti.

Saya memilih yang kedua.

Mungkin bukan pilihan yang populer, tapi saya sadar, bahwa saya membutuhkan lingkungan dan lingkaran pertemanan maupun hubungan yang baik untuk diri saya sendiri. Saya percaya, segala sesuatu berjalan dua arah. Ketika saya mencoba memahami orang lain, saya ingin orang lain pun bisa mencoba memahami saya. Meski akhirnya kita tak sepaham, bukankah tak mengapa sama-sama bersepakat untuk berbeda paham, asalkan kita tidak saling menyakiti?

Namun, ketika interaksi dengan beberapa orang terasa menyakitkan, saat ini saya memilih ketenangan diri. Memilih menyayangi diri sendiri dengan tidak membiarkan diri terus tersakiti. Jika ini artinya saya kurang mencoba dalam memahami dan mengerti, tak apalah. Mungkin saya memang harus lebih banyak belajar.

Saya pernah belajar untuk berbaik sangka kepada orang lain. Mungkin kini saatnya saya belajar berbaik sangka kepada diri sendiri.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Terus Mencoba Memahami, atau Berhenti Membiarkan Diri Tersakiti?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Puji P. Rahayu | @PujiPRahayu

The Sun and the Red Glow of the Dawn. Passionate on reading and writing. Grateful for everything that happened in my life.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Crystal Monica | @alibabaalibabi

Manfaat BPJS