2.3K
Apa yang akan kamu tuliskan jika diminta memanjatkan asa untuk orang lain? Bagaimana jika asa itu dialamatkan bagi orang yang pernah menyakitimu?

Kamis lalu, di pertemuan penulis Writer Circle Bandung, Rani membawakan tema tentang asa. Asa yang bukan menyoal tentang dirimu tapi orang lain. Masing-masing orang diberi sebuah kertas, berisi kepada siapa asa itu akan dipanjatkan. “Dia yang pernah menyakitimu.”

Saya tercenung beberapa saat ketika membuka kertas itu, gelisah. Tapi saya selalu percaya tak ada yang kebetulan. Ada saatnya untuk beranjak dari tahap menerima luka ke tahap memaafkan, mungkin ini waktunya. Saya kemudian tersenyum simpul.

Seperti yang sudah-sudah, tulisan selalu manjur untuk jadi obat terapi. Ini tulisan saya malam itu:

——

Hai, kamu, apa kabar di sana? Sehat? Dari yang kulihat di media sosial, anakmu lucu, ya. Bagaimana rasanya menjadi Bapak?

Ngomong-ngomong soal anak, kita juga bersua ketika masih anak-anak, ya. Tepatnya TK, sekitar 25 tahun silam. Dengan seragam seperti pelaut bewarna biru muda dan bangku-bangku kecil yang bewarna-warni. Kamu ingat?

Buatku itu hal yang tak terlupa. Kata orang, yang terjadi ketika kecil membekas paling dalam, maka kamu adalah salah satu luka pertamaku.

Kamu duduk persis di belakangku ketika itu. Ketika Ibu Sum mengajak kita berdoa sebelum kelas berakhir, dan kita diminta untuk mengatupkan tangan. Ketika jari kecil kesebelasku mencuri perhatianmu. Kamu berjalan menghampiri dengan mata seorang anak yang ingin tahu. Akhirnya jari itu kau pelintir paksa karena tak terkatup sesuai yang lain. Kamu tak berucap apapun lalu berlalu.

Aku menangis ;bukan karena tangan yang bengkak, tapi karena kesadaran bahwa aku berbeda dari anak lain. Bertahun-tahun ke depan aku masih belajar menerima jari kesebelasku sebagai bagian dari diri. Hingga akhirnya semua diterima dengan lebih rela dan bahagia.

Harapanku untukmu sederhana. Semoga kelak anakmu tak perlu mengalami kekerasan apapun di masa kecilnya karena ia berbeda. Aku memaafkanmu. Terima kasih untuk menyadarkanku tentang menjadi berbeda. Karena toh, bukankah tiap manusia berbeda?

Menerimanya adalah pembelajaran terbesar dalam hidupku.

Dari orang yang pernah tersakiti, salam hangat untuk keluarga kecilmu.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Teruntuk yang Pernah Menyakitimu". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Natalia Oetama | @Natalivy

Pecinta senja, pengamat langit, petualang hidup, penyuka gerimis, penggemar puisi. Baginya menulis itu terapi agar tetap waras dari pesta pora di kepala.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar