3.9K
Setelah kejadian itu, saya menyadari satu hal: setiap nasihat yang terucap dari mulut seorang Ibu selalu berhasil mendamaikan hati.

Hari itu, saya melihat perempuan paruh baya berkendara di atas sepeda tua. Dia mengenakan kerudung biru dan baju batik berwarna lusuh. Di belakangnya, duduk seorang gadis kecil berambut pendek yang saya taksir adalah buah hati dari perempuan tua tersebut. Pandangan anak itu menengadah, entah apa yang dia saksikan di atas sana. Barangkali burung-burung, awan yang berarak, atau mungkin sekadar mencari tahu posisi matahari. Satu hal yang saya tahu, dia sangat menikmati apa yang dipandangnya.

Jauh, sepasang kaki tua itu terus mengayuh sepeda. Menyusuri setapak jalan kaki yang telah diaspal, pepohonan tebu dan ketapang berbaris di sisi kiri jalan. Sementara, rumah-rumah penduduk tersusun di sisi kanan.

Saya masih mematung dan mengamati sosok di atas sepeda itu yang semakin jauh semakin mengecil. Perempuan tua itu sesekali tampak memperlambat laju sepeda, barangkali kedua kakinya telah letih mengincang. Sebelum bayang kedua manusia di atas sepeda itu lenyap ditelan persimpangan, sesuatu membuat mereka hilang keseimbangan.

Tak lama, sepeda itu rebah di bahu jalan.

Saya tergerak untuk berlari, menghampiri mereka dan memberi pertolongan. Meskipun saya sendiri tak tahu pertolongan jenis apa yang akan saya ulurkan. Namun, entah mengapa saya tak sanggup menuntaskan niat saya. Sepasang kaki saya seolah tertancap oleh ratusan paku.

Pada saat yang sama, di antara bentang jarak yang cukup jauh di antara saya dan sosok ibu bersama anaknya itu, mata saya sanggup menjangkau pemandangan yang mengiris hati. Perempuan itu tak lagi memedulikan sepedanya yang tumbang. Dia terlalu sibuk membersihkan lutut putrinya yang kotor dengan ujung kerudung. Sesekali, punggung telapak tangannya mengusap pipi sang anak lantaran dia menangis tersedu-sedu.

Peristiwa barusan, entah bagaimana, seolah membuat saya terlempar ke masa lalu. Itu adalah hari di mana saya berstatus sebagai murid kelas 1 di Sekolah Dasar, satu minggu pertama pada tahun ajaran baru. Dahulu, saya bukanlah sosok anak yang mudah bergaul dengan teman-teman. Sampai sekarang pun masih demikian. Saya cenderung pemalu ketika harus membaur bersama orang-orang baru.

Bagi sebagian orang, mengungkit masa lalu mungkin sama halnya dengan mencongkel luka lama. Sebagian lagi tak sudi jika harus menoleh ke belakang. Namun, saya sering melakukan hal tersebut dalam upaya menjadikan diri lebih kuat.

Saya ingat dengan jelas, siang itu saya meninggalkan ruang kelas dengan sedu-sedan lantaran kotak pensil saya hilang entah ke mana. Seorang guru telah membantu saya mencarinya dengan menggeledah tas teman-teman sekelas. Namun, usaha tersebut tampaknya sia-sia. Seorang teman berkata bahwa saya tak sepantasnya membawa kotak pensil ke sekolah.

"Anak cowok kok punya kotak pensil? Kayak banci aja!"

Kalimat itu dilontarkan oleh seorang bocah laki-laki bertubuh kurus yang sering mengusili saya di waktu istirahat. Dan pada saat itu saya tak punya nyali untuk melawan ataupun memukul. Saya terlalu pengecut untuk menjadi pemberani. Lagi pula, tak ada satu teman pun yang bersedia menyemangati saya kala itu.

Akan tetapi, sebuah pertolongan seringkali datang dari arah yang tak pernah kita duga sebelumnya. Itulah yang terjadi sesaat setelah Ibu saya menyadari sesuatu yang buruk telah menimpa putranya. Saya takut mengungkapkan apa yang telah terjadi; takut bila kejujuran tersebut justru menyakiti hatinya. Namun, saya sadar bahwa saya tak bisa menyembunyikan fakta itu terlalu lama. Cepat atau lambat, Ibu saya pasti akan mengetahuinya.

Mama, begitulah saya memanggilnya, hadir di depan kelas saya pada keesokan hari. Dengan keberanian yang Mama punya, beliau menegaskan bahwa proses pencarian kotak pensil akan terus berlanjut. Bahkan, wali kelas pun turut menyampaikan jika polisi akan turun tangan dalam masalah tersebut. Tentu saja, alasan itu untuk menakut-nakuti para siswa agar salah satu di antara mereka segera mengaku.

Tak butuh waktu lama sampai salah seorang siswa angkat bicara. Takut-takut dia menjelaskan bahwa kotak pensil saya bergambar Snoopy tersebut disembunyikan di dalam laci meja guru. Dan pelakunya tak lain dan tak bukan adalah anak laki-laki bertubuh kurus yang kerap mengisengi saya.

Alih-alih memarahi bocah itu, Ibu saya tetap bungkam sembari berjalan menghampiri meja saya. Beliau dengan bijaksana berkata:

"Jangan menyimpan dendam terhadap orang yang melukaimu. Manusia tak pantas tumbuh dengan rasa dendam. Apabila peristiwa ini kembali terulang, jangan lekas menangis, ya."

Setelah kejadian itu, saya menyadari satu hal: setiap nasihat yang terucap dari mulut seorang Ibu selalu berhasil mendamaikan hati. Laksana sebuah rumah, kepada merekalah kita selalu berpulang dan melepas penat.

Begitu pula dengan apa yang dilakukan perempuan tua di hadapan putrinya itu. Orang-orang mungkin menilai bahwa ia tak memiliki apa-apa untuk dibanggakan selain sepeda reyot miliknya. Namun, pengorbanannya sebagai seorang ibu patut diberi apresiasi. Dia menyadari akan kewajibannya untuk melindungi sang anak. Dibersihkan luka memar pada lutut itu dengan kerudung tuanya yang telah usang, diusapkan punggung telapak tangannya pada wajah mungil itu karena dia tak ingin putrinya berlarut-larut dalam tangis.

"Biar Ibu yang menanggung bebanmu, Nak."

Barangkali ia akan berkata demikian kepada putrinya.

Mungkin benar apa yang mereka katakan tentang perjuangan seorang Ibu. Tak peduli meskipun raganya telah menua dan usianya tergerus sang waktu, kasih sayangnya tetap tak mengenal batas. Selama ia masih hidup di dunia, selama itu pula ia akan mencurahkan cinta dan ketulusannya.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Teruntuk Ibu, yang Kasih Sayangnya Tak Mengenal Batas". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Joy Agustian | @joyagustian

Penggemar warna putih dan biru langit. Adalah takdir mengapa ia begitu menyukai buku, suara ombak, dan menjadikan pantai sebagai pelariannya. Ingin diberi umur panjang agar dapat menulis sampai akhir hayat. Saat ini, ia sedang mempelajari yoga.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar