1.9K
Saya berpura-pura kuat menghadapi apa yang ada di depan saya. Akan tetapi, pada nyatanya, saya hanya memaksa diri saya untuk terlihat demikian.
"Kalau capek, bilang aja suruh gantiin."

Bagi saya, membantu orang lain merupakan hal terbaik yang bisa saya lakukan. Sesederhana apapun bantuan yang orang lain inginkan dari saya, saya mau membantu. Saya ingin berada di sisi mereka, Saya ingin membantu sebisa saya. Beberapa waktu lalu, saya diajak melakukan satu proyek bersama teman-teman saya. Saya pun dipercaya untuk menjadi.. katakanlah ketua proyek tersebut.

Awalnya, saya tidak menginginkannya. Saya pernah membuat proyek yang sama sebelumnya dan saya merasa lelah. PIhak yang harus saya hubungi untuk menjalankan proyek ini dapat dikatakan tidak ramah. Bagi saya, mereka terlalu meninggikan diri sendiri. Waktu itu, saya sudah berjanji pada diri saya sendiri, untuk tidak lagi menjalani proyek yang sama. Apalagi, menjalani peran yang sama dengan proyek saya sebelumnya, yakni menjadi ketua. Akan tetapi, nyatanya, terkadang manusia dibatasi oleh pilihan-pilihan yang ada. Begitu pula dengan saya. Saya tidak punya pilihan selain menjalaninya.

"Kak, jujur aku capek."
"Tolong dikuatin, ya. Sekali ini saja."

Saya pernah jujur kepada partner saya dalam proyek tersebut. Saya lelah dan capek. Saya merasa tidak dihargai dan saya sudah tak sanggup untuk bertahan mengurus proyek tersebut. Akan tetapi, lagi-lagi saya tidak punya pilihan. Saya terlalu tidak tega meninggalkan proyek tersebut. Saya tidak yakin proyek tersebut akan terus berjalan ketika saya meninggalkan posisi saya sekarang. Saya pun berkeyakinan, baiklah. Saya hanya ingin sekadar membantu.

Pada akhirnya, proyek tersebut pun selesai. Apakah kemudian saya lega?

Ya. Saya lega.

Tapi, rasa lelah itu masih ada. Bahkan, saya sempat drop karenanya.

Kemudian, kali waktu, salah seorang teman bertanya kenapa saya bisa sampai drop. Saya pun menceritakan apa yang saya rasakan. Saya curahkan seluruh ketidakberdayaan saya padanya. Saya tahu, dia memang tidak mengetahui keseluruhan cerita saya. Akan tetapi, dia selalu mencoba untuk mendengar. Pada akhirnya, dia pun berkata...

"Lain kali, kalau kamu nggak sanggup, bilang saja ke mereka. Mereka pasti bakal ngerti kalau ada alasan yang jelas. Jangan terlalu memaksakan diri."

Di satu sisi, saya ingin berteriak, "karena nggak ada yang bisa gantiin aku."

Akan tetapi, di sisi lain, saya menyadari. Mungkin, memang benar. Saya adalah sosok yang terlalu memaksakan diri. Saya memaksa diri saya untuk terlihat kuat di depan yang lain. Saya memaksa diri saya sendiri karena saya tidak tega meninggalkan apa yang sudah saya mulai. Ketika teman saya berkata demikian, maka itu berarti teman saya menegur saya. Ia menegur saya karena saya tidak pernah memerhatikan diri saya sendiri.

Terkadang, manusia lupa kalau ada sosok yang perlu ia perhatikan. Sosok yang seharusnya juga dikasihani dan disayang. Yakni, diri kita sendiri. Kalau memang pun saya ingin bisa berguna bagi orang lain, bukankah mengakui kalau diri saya ini sudah lelah juga perlu? Bukan untuk meninggalkan tanggung jawab. Akan tetapi, terkadang ada kalanya kita memang lelah dan terlalu memaksakan diri.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Terkadang, Kita Perlu Mengakui Bahwa Diri Ini Lelah.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Puji P. Rahayu | @PujiPRahayu

The Sun and the Red Glow of the Dawn. Passionate on reading and writing. Grateful for everything that happened in my life.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar