3.2K
Dan pekan terakhir, aku kembali ke rumah. Ya, tempat yang paling membuatku cemas.

Tiga pekan pada bulan lalu, April 2018, menjadi periode yang... ah, entah bagaimana aku harus mendeskripsikannya. Periode ajaib? Periode titik-balik? Atau, tak ubahnya seperti pekan-pekan lampau hanya sekadar memposisikanku di tempat yang berbeda? Ah, entahlah. Aku sendiri tak tahu.

Yang kutahu, pekan pertama kuhabiskan di sebuah tempat yang akupun bingung mau menyebutnya apa. Tempat rehabilitasikah? Meditasikah? Entahlah. Namun, di akhir pekan itu, aku langsung terbang menuju Kepulauan Bangka Belitung dan menghabiskan pekan keduaku di sana. Pekan kedua ini kuisi dengan berinteraksi bersama anak-anak: murid-murid sekolah alam; berusaha menciptakan suasana kondusif.

Dan pekan terakhir, aku kembali ke rumah. Ya, tempat yang paling membuatku cemas. Kuputuskan menantang diri sendiri untuk menghadapi ketidaknyamanan terbesar dalam hidupku.

Dari rangkaian tiga pekan (dengan izin sakit terlama sepanjang karirku) tersebut, aku belajar keras tentang bagaimana menghadapi diri sendiri. Aku menelaah ulang tentang bagaimana aku bisa menyediakan bahu sebagai tempat bersandar ternyaman dari diriku, untuk diriku. Bagaimana menari di bawah siraman hujan tanpa harus menunggu awan mendung berganti cerah.

Serta, bagaimana caranya belajar tentang kematian melalui kehidupan itu sendiri.

Ketika aku menulis catatan ini, April sudah berganti menjadi Mei 2018. Guna menjaga ketenangan diri yang susah-payah kubangun dalam waktu tiga pekan, justru kuputuskan untuk tidak kemana-mana. Aku tetap tinggal di rumah yang sama, masih bekerja di tempat yang sama, dan menjalin hubungan dengan lingkaran yang sama.

Bisa saja selepas tiga pekan tersebut aku memutuskan untuk seketika memulai “cerita” baru. Tapi tidak kulakukan. Sebagian diriku berbisik, apabila itu yang kutempuh sama saja aku 'kabur' atau 'lari dari kenyataan'. Tapi, seberapa jauh manusia bisa berlari dari ketidaknyamanan yang dia rasakan? Bukankah dalam hidup akan selalu ada ketidaknyamanan-ketidaknyamanan yang menyapa setiap kali? Dan bukankah aku ingin belajar menjadi ahli syukur?

Kalau begitu mari hadapi, atasi, terima, dan relakan yang sudah digariskan Tuhan untuk dijalani saat ini.

Sungguh, nyaris tidak ada yang berubah dengan rutinitasku setelah tiga pekan tersebut. Satu-satunya yang kuputuskan untuk kupoles tak lain adalah bagaimana kepalaku mencerna apa yang ada, serta bagaimana mataku memandang segala yang terjadi.

Apakah seketika hari-hari menjadi lebih ringan untuk dijalani? Tentu tidak.

Hari yang berat tetap muncul, air mata tetap berkali-kali mengetuk mataku, dan sumpah-serapah tak jarang masih memaksa untuk segera kumuntahkan. Tapi, setidaknya, sekarang aku lebih sering tertawa terutama menertawai diri sendiri dan masa-masa yang sudah lewat.

Ketika aku mengembang bahkan sedikit saja, hal-hal yang dulu terasa begitu besar ukurannya, jadi terasa lebih kecil. Dan semakin kecil mereka, semakin mudah bagiku untuk tertawa melihat kerikil-kerikil yang dulu pernah membuatku tersandung. Ingatan itu, yang dulu menyakitkan ternyata juga menyimpan kelucuan tersendiri, sebagaimana kita yang terkadang tertawa geli setelah meringis sakit ketika terjatuh karena menyandung kerikil.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tentang Kemampuan Menertawai Diri Sendiri". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Dini Hariyanti | @dinihariyanti

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar