3.2K
Ada perkataan bahwa untuk melihat karakter seorang manusia, ujilah dia dengan uang: kelebihan uang, maupun kekurangan uang. Dari sinilah kita bisa menguak sisi lain dari diri seseorang.

Ketika uang menjadi raja, tanpa satu sen uang, rasanya gelisah melanda. Iya, saya pusing ketika semua hal sepertinya hanya bisa didapatkan dengan uang. Rasanya hanya manis di mulut saja ketika berkata bahwa uang bukan segalanya.

Iya, memang, saya tahu bahwa uang memang bukan segalanya. Hanya saja, entah mengapa benak saya rasanya 'mati gaya' dan tak mampu lagi berpikir panjang ketika menilik dompet yang tak ada isinya.

Ada perkataan bahwa untuk melihat karakter seorang manusia, ujilah dia dengan uang: kelebihan uang, maupun kekurangan uang. Dari sinilah kita bisa menguak sisi lain dari diri seseorang.

Untuk sebagian orang, kelebihan uang memicu arogansi dan kebiasaan berfoya-foya. Untuk sebagian lagi, kelebihan uang justru membuat mereka mampu memberi lebih banyak. Sebagian dari mereka yang kekurangan uang menjadi lebih sabar, lebih giat, dan lebih pandai bersyukur atas hal-hal yang hadir dalam hidup mereka. Sebagian lagi yang kekurangan justru nekat mencari lebih banyak uang dengan cara-cara yang tidak baik, atau malah tak melakukan apa-apa karena kadung merasa bahwa ini sudah 'nasib'.

Kita memang sering mengasosiasikan uang dengan rejeki. Berkah, bahkan. Padahal, jika kita mau melihat lebih dekat, satu hembusan napas saja merupakan berkah yang tak ternilai harganya: bahwa kita masih diberi nikmat untuk menghirup oksigen yang memungkinkan kita hidup karenanya.

Terkadang, selagi dalam keadaan dompet yang menipis, saya justru diingatkan untuk menghitung berkah dalam hidup: keluarga, teman-teman, anggota tubuh yang lengkap dan berfungsi baik, kesehatan, rumah yang menaungi saya dari panas dan hujan, ilmu yang bisa saya amalkan, kemampuan untuk tertawa...

Bukankah ada begitu banyak rejeki yang telah saya terima, bahkan tengah saya nikmati, selain uang? Bukankah saya tak kekurangan berkah yang bisa saya syukuri, bahkan ketika saya sedang kekurangan uang?

Saya menangis, mengingat lagi apa yang telah lama saya tinggalkan. Bercengkerama dengan Sang Maha Pemberi Hidup di malam hari. Menjadikan hati dan pikiran berkesinambungan dalam damai. Kembali mendekat kepada Yang Maha Menyayangi umat-Nya di kala jatuh, berdiri, ataupun melompat tinggi.

Masihkah saya bisa melupakan setiap berkah dan rejeki dari-Nya?

Rejeki seperti apa lagi yang kita inginkan? Sehat dan selamat pun adalah rezeki.

Saya pernah memutuskan untuk pergi bersama anak saya ke kota. Berkeliling menggunakan sepeda motor, hanya untuk melepas penat. Ketika kendaraan saya sedang melaju tenang, tiba-tiba sepeda motor lain menikung dan berbelok tepat di depan sepeda motor saya. Sekuat tenaga, saya menarik tuas rem di tangan kanan dan kiri saya. Hampir saja!

Sungguh saya tak mampu memaki si pengendara itu. Jantung saya masih saja berdegup kencang, saya ciumi anak saya. Ini rejeki dari Tuhan. Saya dan anak saya selamat, tanpa luka sedikitpun, bahkan tak sempat bersinggungan badan motornya. Alhamdulillah.

Keesokan harinya, saya menangis lagi ketika melihat sekeping uang koin tergeletak di lantai. Selama ini, siapa yang memandangnya rendah? Begitu berharganya ia untuk beberapa orang, ah mungkin banyak orang. Karena tak segelintir orang yang berubah raut wajahnya menjadi sumringah ketika mendapatkan sekeping uang logam.

Bersyukurlah, bahwa hidup kita mungkin jauh lebih baik dari mereka. Bahagiakan mereka, tak usah menunggu ketika lembaran kertas di dompetmu tak mendapatkan tempat lagi.

Hidup ini bukan lagi tentang dompet dan isinya, melainkan cara mendapatkan rejeki yang baik dan maknanya. Hidup ini adalah tentang bersyukur, dan salah satu ungkapan syukur adalah dengan berbagi.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tak Ada Uang, Tak Ada Rejeki? Siapa Bilang?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Ayu Candra Giniarti | @marthalenabutikbajuk

Menulis dengan hati dan merasakan dengan kata. Ketika aku menggabungkan kedua unsur tersebut, ada rasa bahagia yang mencuat dari otak kemudian menjalar ke hati.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar