1.4K
Umi sama sekali tidak terpikir apa yang akan terjadi dalam kehidupan Umi 10 atau 20 tahun dari hari itu: hari ketika Dokter menyatakan bahwa Umi terinfeksi HIV.

Hai, Nak.

Delapan tahun sudah Umi terinfeksi HIV.

Hidup tidak semudah seperti yang orang lihat kala bertemu dengan Umi secara langsung, atau ketika membaca tulisan-tulisan Umi. It’s been up and down. Walau pada dasarnya Umi adalah seorang yang sungguh ceria, kala itu Umi sama sekali tidak terpikir apa yang akan terjadi dalam kehidupan Umi 10 atau 20 tahun dari hari itu: hari ketika Dokter menyatakan bahwa Umi terinfeksi HIV.

Saat itu, hanya kesedihan dan kehilangan yang menyelimuti 12 bulan pertama hidup Umi sebagai seorang yang terinfeksi HIV. Puji syukur, hari ini, Umi percaya pada kekuatan yang Tuhan berikan. Bahwa Umi bisa tetap mempertahankan kualitas kesehatan Umi dan kamu, bahkan hingga hari ini kamu akan memiliki adik baru.

Hari-hari terus berlalu, sampai rasanya, Umi sudah tiba di titik ini. Saat Umi memandang wajahmu: kamu yang kini sudah menginjak usia 10 tahun.

Kamu yang semakin besar dan aktif mengikuti begitu banyak kegiatan baik di sekolah maupun di luar sekolah. Ya, putri kecil Umi yang sembilan tahun lalu dilahirkan dengan sukacita, kini sudah tumbuh secepat pohon yang menjulang tinggi. Kegemaranmu bermain futsal dan cita-citamu menjadi atlit renang sungguh membanggakan kami.

Kamu tumbuh dengan rasa pengertian yang begitu besar. Entah siapa yang mengajarkan, entah melihat dari mana. Kamu tidak pernah merengek untuk meminta sesuatu, malah lebih memilih untuk mendiskusikan keinginan-keinginanmu. Kamu, bersama kami, bisa melihat skala prioritas apakah benda kamu mau adalah bagian dari kebutuhan krusial atau hanya keinginan sesaat.

Begitu banyak cerita tentangmu yang tidak akan cukup diceritakan dalam satu tulisan saja. Namun tulisan hari ini merupakan salah satu bentuk refleksi dan pemikiran Umi tentangmu, juga kondisi HIV Umi saat ini.

Umi berpikir, apa yang akan terjadi padamu saat kamu benar-benar memahami bahwa kamu memiliki ibu yang 'berbeda'. Apakah kelak kamu akan mengalami kesulitan untuk bergaul? Apakah kamu akan diterima dengan mudah di tempat bekerja atau tempatmu beraktivitas secara sosial?

Apakah kelak pasangan yang akan mendampingimu bisa menerima bahwa ibu dari perempuan yang dicintainya adalah seseorang yang hidup dengan HIV?

Hingga hari ini, saat tulisan ini diterbitkan, tentu Umi tidak memiliki jawaban apapun. Umi hanya bisa menuliskannya agar tidak lupa bahwa Umi selalu memiliki kekhawatiran ini, dan bisa terus mencari jawabannya. Atau bahkan, bukan Umi yang tahu jawabnya, melainkan dirimu sendiri, pada waktunya nanti.

Anakku sayang,

Saat kamu besar nanti, ketahuilah bahwa kamulah satu-satunya alasan Umi untuk bangkit dan tetap hidup. Saat kamu baru mengetahui bahwa hidupmu akan banyak berubah, tidak sedikitpun rasa sayang dan cinta Umi padamu berubah.

Saat kamu besar nanti, pahamilah: bahwa meskipun kamu memiliki ibu yang terinfeksi HIV, tidak sedikitpun Umi akan patah arang membesarkanmu. Meski dengan segala keterbatasan dan stigma di mata masyarakat terhadap Umi, Umi akan mengupayakan kehidupan yang terbaik untukmu

Saat kamu besar nanti, yakinilah, HIV tidak akan menjadi jurang pemisah antara kita berdua. Bersama, kita akan membangun jembatan di atasnya. Dan tetap hidup dengan segala rasa dan bahagia yang kita miliki.

Saat kamu besar nanti, mungkin kamu akan menemui banyak hal baru.

Mungkin, ketika saat itu datang, Umi tidak akan selalu ada di sisimu. Mungkin kamu sudah belajar di bangku perguruan tinggi, atau menikmati kariermu sebagai atlit renang seperti yang kamu cita-citakan. Saat itu, mungkin Umi hanya bisa mengirimkan doa serta semangat agar kamu senantiasa bahagia dengan segala pilihanmu.

Dan saat kehidupan-kehidupan yang mewarnaimu hadir, janganlah pernah lupa: bahwa HIV merupakan bagian dari keluarga kita.

Jangan pernah malu untuk mengakuinya. Kuatkanlah dirimu untuk berdiri tegar mengatakan: "Saya bangga memiliki ibu, meski dia terinfeksi HIV!"

Karena HIV tidak pernah melemahkan kita, Nak. Karena HIV tidak menjadikan kita hina atau lebih rendah sebagai manusia di mata manusia lain, atau bahkan Tuhan Sang Pencipa Alam Semesta.

Ketahuilah bahwa virus HIV justru menguatkan kita berdua untuk semakin menjaga, mengingatkan, mengisi, menemani, mendukung, memeluk, dan selalu ada untuk satu sama lain. Meskipun tentu akan ada hal-hal yang kurang menyenangkan datang bersama segala hal yang menyenangkan tersebut, tapi ketika saat itu datang, tangan kita akan saling menggenggam erat. Bahu Umi akan bisa kamu gunakan untuk bersandar atau kamu peluk dan kamu basahi dengan air matamu, dan kita akan menghadapi segalanya bersama.

Nak,

Hingga saatnya tiba nanti, saat kamu sungguh memahami bahwa ibumu terinfeksi HIV, tetaplah ada di sana. Jangan pergi dan jangan menyerah, ya, Nak. Kuatlah seperti batu karang. Karena pada saat itu tiba, Umi juga akan tetap ada di sana bersamamu, dan selalu menyayangimu.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Surat untuk Anakku: Dari Ibumu yang Terinfeksi HIV". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Ayu Oktariani | @ayuoktariani

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar