1.5K
Kadang, Tuhan mengingatkan kalau Dia Maha Santun (Al Halim), Lembut (Al Latif), dan Penutup kekurangan kita (Al Ghafur) serta menuntun (Al Hadi) kita untuk berlaku serupa.

Kadang, Tuhan mengingatkan kalau Dia Maha Santun (Al Halim), Lembut (Al Latif), dan Penutup ekurangan kita (Al Ghafur) serta menuntun (Al Hadi) kita untuk berlaku serupa dengan cara begini:

Beberapa hari lalu, saya praktik terapi kraniosakral di sebuah center untuk anak berkebutuhan khusus.

Dalam suatu sesi, klien saya adalah seorang anak dengan autisme. Sambil terapi, dia bermain balok lego. Ketika selesai main lego, dia ingin saya mengembalikan legonya ke kotak. Satu-satu balok dia berikan kepada saya. Setiap dia berikan saya satu balok, saya sebutkan warnanya.

Selesai bermain lego, dia pun beralih ke permainan kedua, semacam pegboard. Kali ini, setiap dia menaruh satu benda ke lubang pegboard, dia memandang saya, berharap saya mengucapkan warnanya. Saya mengikuti kemauannya.

Setelah beberapa kali, kembali dia memandang saya. Saya bilang, "Merah."

Dia tampak ragu. Dia kembali memandang saya dengan pandangan bertanya-tanya.

Saya melirik lagi ke benda yang ada di tangannya. Kurang jelas memang, karena setengah tertutup oleh tangannya.

Sekali lagi, saya sebut, "Merah."

Dia kembali ragu.

Dia terdiam beberapa saat. Tanpa protes, gusar, ataupun mengatakan sesuatu, dia letakkan benda yang sedang dipegangnya. Ternyata berwarna oranye. Kemudian, dia mengambil benda berwarna merah dan dia letakkan di pegboard.

Santun bukan main.

Dia tahu saya salah.

Melalui pandangan dan diamnya, dia berusaha memberi tahu saya dan memberi kesempatan untuk memperbaiki jawaban saya. Namun, saya tak kunjung mengubah jawaban saya.

Lalu tanpa protes, tanpa mengolok, tanpa mengomel, dan tanpa membesar-besarkan kesalahan saya, dia bertindak sehingga kesalahan saya tertutupi dan bahkan menjadi benar.

Begitulah, dia seolah mengajak saya untuk berlaku serupa bila ada pihak lain melakukan kesalahan tak sengaja. Santun, tak membesar-besarkan, tak mengolok atau mempermalukan, dan bahkan diam-diam menutupi sehingga orang tersebut tampak benar.

Penuh cinta kasih, manfaat, dan tepat. Inilah Ihsan.

-----

Catatan: Tagar #kadangTuhan saya buat untuk mencatat beragam kejadian kecil dalam keseharian saya. Terutama kejadian yang mengingatkan saya akan kehadiran-Nya, kasih-sayang-Nya, atau mengingatkan saya bagaimana sikap yang lebih jernih. Kejadian yang mengingatkan saya bahwa beragama atau spiritualisme bukanlah semata konsep. Beragama atau spiritualisme adalah cara mengada dalam setiap detik hidup kita. Sebagaimana perbincangan antara kita dan Ilahi yang tak pernah terputus. Seperti yang dikatakan Rumi, untuk perbincangan seperti inilah kamu dan saya tercipta.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Seorang Anak Berkebutuhan Khusus Mengingatkan Saya Perihal Kesantunan.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Eva Muchtar | @evamuchtar

Menggemari tema kebaikan, kesederhanaan, dan hidup yang benar-benar hidup. Eva adalah murid Beshara, penggiat meditasi Bali Usada, dan praktisi terapi kraniosakral. Ia percaya bahwa kita akan menjadi versi terbaik kita bila kita menjadi diri sendiri.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar