1.3K
Berapa banyak pertemuan yang harus berakhir dengan perpisahan? Adakah kesempatan bagi kita untuk saling memiliki tanpa takut kehilangan?

Jauh di lubuk hati saya yang paling dalam, saya tidak sedikit pun menginginkan hal seperti ini terjadi. Saya hanya berharap, menghabiskan waktu selama satu minggu bisa menjauhi saya dari stress. Selama ini saya bekerja terlalu keras sampai lupa untuk memanjakan diri sendiri. Padahal saya tahu, itu tidak baik untuk kinerja pikiran seseorang. Semua orang butuh piknik supaya tidak jenuh.

Maka, pada hari itu saya meminta izin cuti kepada atasan selama satu minggu. Saya beralasan, ada satu agenda yang hendak saya lakukan di Bandung, berkaitan dengan peluncuran buku saya yang ketiga. Alasan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Itu hanya taktik saya saja agar permintaan cuti saya bisa dikabulkan.

Dan benar, mereka mengabulkan apa yang saya inginkan.

Bepergian di pagi hari selalu menjadi kegemaran saya. Menyenangkan sekali bisa melihat jalanan yang super-lengang, aneka kendaraan yang jumlahnya masih sedikit, rasanya seperti satu hiburan untuk menyambut hari. Kaca jendela mobil yang mengantar saya ke bandara ditempeli titik-titik embun. Seketika saya menyadari, masih terlalu pagi untuk meninggalkan kampung halaman. Tapi saya tak peduli. Pergi ataupun pulang, pada akhirnya semua akan terasa sama.

Itu adalah siang yang amat terik di kota Jakarta. Hawa panas seakan membakar kulit. Pesawat yang saya tumpangi berhasil lepas landas di bandara Soekarno Hatta dengan selamat. Meskipun sebelumnya, sempat mengalami perubahan jadwal sekitar belasan menit. Tapi, kau tak akan pernah tahu seperti apa lalu lintas di udara, bukan?

Lekas-lekas saya mencari bus Damri tujuan Lebak Bulus. Kala itu saya tidak paham rutenya akan berlangsung seperti apa. Yang ada di pikiran saya, setibanya di Lebak Bulus, saya harus segera tiba di sebuah hunian yang terletak di Cipete Selatan. Tidak terlalu jauh dari ITC Fatmawati.

Jasa transportasi yang saya gunakan seusai turun di Terminal Lebak Bulus adalah Avanza berwarna silver. Itu saya dapatkan dari aplikasi Grab Car yang super-canggih. Menggiring saya ke jalanan Pondok Indah yang suasananya tidak pernah berubah dari masa ke masa. Padat akan kendaraan roda empat. Pohon-pohon palem menjulang tinggi di pembatas jalan, matahari yang berpijar silau menembus kaca jendela, beragam perumahan elit di sisi kiri-kanan jalan.

Lima tahun lalu, saya sering melewati jalanan ini.

Ponsel saya berdenting beberapa kali. Saya tergerak untuk mencari tahu apa dan siapa yang menyebabkan bunyi itu. Alih-alih memeriksa papan notifikasi, saya mengabaikannya sejenak. Fokus saya hanya tertuju pada layar ponsel yang menampilkan peta Jalan Fatmawati. Rute yang dianjurkan perempuan lewat aplikasi itu terkadang sangat membingungankan. Maka, saya pun mengarahkan jemari ke papan notifikasi dan melihat apa saja yang muncul di sana.

2 new messages.

AA (inisial)

Entah berapa banyak PING!!! yang dia kirimkan kepada saya siang itu. Satu hal yang saya ingat, ada satu atau dua pertanyaan bernada ketus di BBM itu. Saya membaca, tapi tidak lekas mengetik sebuah balasan. Karena saya pikir, itu akan terasa percuma.

Dalam keadaan lelah, emosi seseorang akan berubah drastis dan sangat sulit dikendalikan.

Saya kembali memusatkan perhatian kepada aplikasi Maps di ponsel. Tak beberapa lama, barulah saya menyadari mobil yang saya tumpangi berhenti persis di depan bangunan tiga lantai bewarna merah dengan tulisan Kasira Residence.

***

Butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi seseorang yang sedang marah. Butuh kepala yang dingin untuk memberi respons yang bijaksana. Itu terjadi pada menit-menit pertama seusai saya membalas BBM dari AA. Saya masih ingat, obrolan kami tidak berlangsung lama pada petang itu. Suara adzan berkumandang dari luar, beradu dengan siaran musik di salah satu stasiun TV luar negeri.

Pada awalnya, saya tidak berminat mengutarakan masalah saya secara gamblang di hadapan dia. Tapi kami telah bicara terlalu jauh. Kami saling menghardik, tidak berhenti mencari kesalahan satu sama lain, dan hal yang paling penting—tidak ada satu pun di antara kami yang benar-benar 'bersih'. Even a saint can be a sinner too.

Lalu saya menangis. Air mata yang pertama kali tumpah di bulan Februari.

Penyebabnya hanya satu; saya masih belum bisa berhenti menyayanginya. Dan dia pun mengakui itu kepada saya. Jauh sebelum kami melangkah terlalu jauh, bergerak terlalu banyak, dan tenggelam terlalu dalam. Perasaan itu sudah muncul lebih dulu sebelum pertemuan di depan lobby Kasira Residence yang temaram itu.

Ingatan saya melayang jauh pada sejumlah memori yang terjadi semalam kemarin. Saya menangis di dadanya, ditemani suara air conditoner yang berdesir. Dada yang bidang itu, dengan kulit gelap dan bekas lipatan yang menjadikannya belang. Seberkas kekurangan yang menyempurnakan dirinya.

Cumbu tak berkesudahan, perbincangan yang kian jauh. Namun saya masih enggan berterus-terang untuk sejumlah alasan. Saya masih terlalu takut mengungkapkannya. Saya selalu berpikir, bagaimana bila kejujuran itu justru membuatnya terluka? Dan bagaimana bila suatu hari nanti dia meninggalkan saya karena saya berkata yang sebenarnya? Jadi, saya putuskan untuk tetap diam.

Sisa malam itu kami habiskan dengan peluk di bawah kubangan selimut. Kaki kami menyatu, saling mengikat membentuk simpul yang hangat. Saya bahkan masih bisa merasakan wangi tubuhnya, irama napasnya di sekitar saya.

Apakah jatuh cinta harus seperih ini?

Di suatu siang, kami pernah berandai-andai tentang satu rencana. Pertanyaan itu dia lontarkan ketika kami sedang menikmati makan siang di dalam Kalibata City Square.

Dia bertanya, "Di Sports Centre biasanya ada promo buy one get one pas 17-an. Nanti patungan beli sepatu couple, yuk."

"Emang yakin tanggal segitu kita masih pacaran?" tanya saya pesimis.

"Kalaupun udah bubar, seenggaknya kan kita masih bisa jadi teman."

Saat itu, saya mendadak ingin menangis. Saya tidak sanggup membayangkan seperti apa rasanya patah hati. Meskipun, ya, saya sudah sangat sering mengalaminya. Namun saya tidak siap kehilangan dirinya. Saya sudah telanjur jatuh dan menikmati manisnya saat ini.

"Saya percaya kita bisa beli sepatu itu bareng." Entah dari mana keyakinan itu muncul, tapi saya begitu optimis dan sepenuh hati menyampaikan ucapan itu di hadapannya. Ingin sekali membuktikan, ucapan saya tidak hanya sekadar bualan belaka.

Perbincangan itu mengalir ke sebuah gagasan untuk berlibur bersama tahun depan. Dia mengajak saya backpacker ke sebuah gunung di Yogyakarta. Saya lupa lagi nama gunungnya apa. Tapi saya lekas menawarkan Baluran dan Papandayan sebagai alternatif terdekat. Tak hanya itu, saya terpikir untuk mengajaknya berlibur ke Tokyo saja tahun depan, bertepatan dengan festival musim semi. Dan dia mengiyakannya tanpa perlu berpikir panjang.

Kami berdua sepakat mengklaim diri kami sebagai penghuni paling aktif di apartemen itu. Bayangkan saja, selama satu malam entah berapa kali kami naik turun lift untuk sesuatu yang tidak jelas. Terlalu banyak persamaan tidak membuat saya berbesar kepala. Betapa saya ingin dicintainya sebagai sosok yang lebih baik, yang berani berterus terang, yang tidak selamanya bersembunyi di balik jubah kepalsuan. Berada di dekatnya seperti melawan arus waktu. Jam berubah menjadi detik, begitu cepat bergulir ketika kami bersampingan. Begitu pula sebaliknya. Detik merupakan satuan waktu yang sulit dilalui ketika kami terpisah satu sama lain.

Malam di mana kami keluar dari lift dan menuju toko kecil di area parkir tamu, saya nyaris tidak sanggup berpikir secara rasional. Sebagian dari diri saya mendesak untuk menahannya, memulai pertikaian atau keributan, supaya dia bersedia memenuhi permintaan saya—menghabiskan sisa malam bersama di sana. Sebagian kecil dari diri saya justru berpesan untuk tetap bersabar.

Relakan kepulangannya. Tidak baik menahan kepergian seseorang.

Maka, saya membiarkan dia pulang malam itu dengan lapang dada. Percaya bahwa akan ada pertemuan selanjutnya.

***

Ribuan tempat dan jalanan panjang telah saya lewati. Bertemu dengan orang-orang baru, beradaptasi, mempelajari bahasa yang sebelumnya tidak saya ketahui, waving goodbye; saya sudah kebal dengan itu semua. Siklus seperti itu selalu terulang setiap kali saya melakukan perjalanan.

Namun percayakah kamu, selalu ada ulang pada kata pulang. Dan selalu ada kata indah di setiap pindah.

Saya tepekur memandangi koper dan tas yang tergeletak di atas lantai. Setiap jenis barang yang teronggok di dalam sana memiliki kisahnya masing-masing. Tapi hampir semua elemen di sekitar saya seolah-olah menyimpan kenangan dengan dirinya. Seolah-olah tidak ada kehidupan yang lain di muka bumi ini.

Pikiran saya kembali terpental pada percakapan singkat di malam itu. Di dalam lift yang mengantar kami sampai ke lobby apartemen, dan kebisuan yang teramat dingin. Dia meraih jemari saya, memertahankannya dalam genggaman, lalu membisikkan satu kalimat.

"Jangan sedih, dong. Kan katanya kamu mau ngabisin waktu sama temen-temen kamu." Dia terus menatap saya, lalu meneruskan, "Lagian besok-besok kita masih bisa ketemu, kok."

Seandainya hidup bisa semudah itu. Seandainya jarak bukanlah hal yang perlu ditakutkan. Seandainya kamu dapat mengerti. Dan seandainya semesta bisa mengamini semua ucapanmu...

Hal serupa pernah terjadi ketika kami hendak meninggalkan Kasira Residence. Siang terakhir di kota Jakarta, sebelum saya melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya. Pertikaian itu diawali oleh satu hal yang tidak sepantasnya diributkan. Tapi sayalah yang memulai. Saya yang menyirami bensin di api kecil.

Dia tampak berusaha menjaga stabilitas emosinya. Menangkupkan telapak tangannya di pipi saya, tersenyum dalam upaya menghentikan banjir air mata yang turun sejak tadi. Lamat-lamat terdengar dia bicara dalam suara yang serak.

"No more tears, no more cry."

Saya lupa menghitung berapa kali dia mengulang kalimat itu. Yang saya ingat, senyumannya tak pernah pudar selagi saya menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan sesenggukan dan berharap semuanya baik-baik saja.

Tapi, tidak akan ada yang baik-baik saja setelah itu.

Hidup akan terus berjalan. Dan saya masih berusaha meyakini bahwa ada hal lain yang perlu dijalani. Segala sesuatu di dunia ini bersifat dinamis, bukan?

Seandainya saja waktu bisa diputar kembali, mungkin saya akan memilih jatuh kepadanya dengan cara yang lebih baik. Saya tidak akan menelantarkannya di Stasiun Kalibata pagi itu, dan saya akan memohonnya untuk tinggal. Jangan pergi meski hanya sesenti. Jangan pergi barang sedetik. Karena kelak saya menyadari, pertemuan kami telah mengubah banyak hal.

Dialah yang selalu datang, layaknya tamu tanpa undangan. Dia tidak pernah sepenuhnya pergi, meskipun saya telah memintanya untuk berlari. Dia selalu ada, menerima setiap cacat hidup saya dengan tangan terbuka.

Detik mungkin terasa lama ketika kita tak bersama. Tapi saya ingin kamu percaya, cinta pasti menemukan jalan pulangnya. Saya pun selalu berharap, suatu hari nanti kita akan bertemu lagi.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Selalu Ada Ulang di Setiap Pulang". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Joy Agustian | @joyagustian

Penggemar warna putih dan biru langit. Adalah takdir mengapa ia begitu menyukai buku, suara ombak, dan menjadikan pantai sebagai pelariannya. Ingin diberi umur panjang agar dapat menulis sampai akhir hayat. Saat ini, ia sedang mempelajari yoga.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar