4.2K
Saat berusia tujuh tahun, saya sedang asyik-asyiknya bermain boneka-bonekaan, engklek, atau lompat tali. Jika saja anak saya tahu apa yang ibunya lakukan saat seusianya. Inilah yang membuat saya merasa bersalah.

Jika ditanya, lebih sering mana: seorang ibu meminta maaf kepada anaknya--atau seorang anak meminta maaf kepada ibunya?

Saya masuk golongan yang pertama.

Saya pernah menjadi seorang anak. Jadi, saya hafal betul pada peristiwa-peristiwa apa saja saya meminta maaf kepada Ibu setelah melakukan kesalahan. Tapi saya tak pernah tahu, apalagi meminta maaf, untuk hal-hal yang mungkin menyakitkan hati Ibu saya.

Sementara, saat saya menjadi Ibu, sudah tak terhitung lagi berapa kali saya merasa bersalah dan tanpa sungkan meminta maaf kepada anak saya, juga dalam doa-doa yang saya panjatkan.

***

Saya masih selalu ingat perasaan bersalah yang tiba-tiba muncul. Saat itu, anak saya masih berusia tujuh tahun. Ketika itu, ia berdiri di atas start block untuk melakukan lomba renang. Saya ikut merasakan ketika badannya gemetar, dadanya berdegup kencang, perutnya mulas, wajahnya pucat, tangannnya kedinginan; lebih karena rasa takutnya.

Pertanyaan saya saat itu: mengapa saya membiarkan anak saya berada dalam kondisi yang tidak mengenakkan, di usianya yang masih kecil? Mengapa saya membiarkannya menghadapi situasi di mana hanya dia sendiri yang bisa mencari jalan keluarnya?

Saat berusia tujuh tahun, saya sedang asyik-asyiknya bermain boneka-bonekaan, engklek, atau lompat tali, di mana kalah-menang hanya menjadi bagian permainan yang menyenangkan.

Jika saja anak saya tahu apa yang dilakukan ibunya saat seusianya! Inilah hal yang paling membuat saya merasa bersalah. Perasaan itu semakin tumbuh karena sayalah yang menggiring anak saya ke sana: rutin mengantarkannya untuk latihan renang, memotivasinya untuk mengikuti lomba, lalu mendaftarkannya untuk berlomba hingga ia harus mengalami kencangnya degup dada, badan panas-dingin, ataupun perut mulas sebelum berkompetisi.

Perasaan bersalah itu sempat menguasai saya. Bahkan saya saja yang tidak mengikuti lomba juga ikut merasakan hal yang sama setiap kali anak saya turun berlomba. Perasaan yang sungguh tidak enak.

Ada satu peristiwa yang tak pernah saya lupa.

Ketika pertama kali anak saya ikut lomba, saya mengantarkannya sampai ke atas start block. Ia pun naik ke atasnya, namun ketika semua lawan-lawannya telah meloncat dan berlomba, anak saya tidak loncat. Ia malah turun dari start block dengan wajah pucat.

Setengah menangis, dia bilang,"Ibuuu, ini kolamnya lebih panjang dari kolam Senayan." Padahal ukurannya ya sama, 50 meter.

Saat itu, tentu saja saya kecewa. Untuk itu, saya memberinya hukuman,"Kalau nggak turun lomba, ya, sekarang ikut latihan."

Anak saya tampak senang dengan pilihan itu. Maka kami menuju kolam latihan.

Semua peristiwa-peristiwa semacam ini menguatkan perasaan bersalah saya. Saat ini, perasaan bersalah ini masih sering muncul, walau di kemudian hari, anak saya ternyata sangat mencintai renang.

Kenyataannya, renang--dunia yang dicintainya ini, di negara ini, belum menjadi sebuah pilihan yang baik.

***

Ketika seorang Ibu melahirkan seorang bayi, maka Ibu itu siap melakukan apa saja yang terbaik untuk bayinya. Itu pun yang saya lakukan. Bahkan, saya siap meninggalkan karir yang sudah saya bina bertahun-tahun lamanya.

Tapi, mimpi seorang Ibu sering begitu jauh, termasuk kelak ikut menentukan ketika sudah dewasa bayinya akan menjadi apa. Tak terpikir soal perkembangan jaman, yang mungkin sudah berubah saat bayi sudah dewasa.

Perasaan mau-melakukan-apa-saja inilah yang kemudian justru kerap mendatangkan perasaan bersalah. Jadi, terkadang, saya hanya bisa berucap: "Maafkan Ibu, ya, Nak."


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Seberapa Sering Kita Mendengar atau Berucap, "Maafkan Ibu, Nak."". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Tyas Soemarto | @tyassoemarto

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar