533
Tanpa sadar, prinsip dan tindakan pada akhirnya bertemu dan beradu.

Bagi saya, berkenalan dan berteman dengan seseorang di dunia maya bukanlah satu hal yang salah. Saya senang ketika saya bisa berkenalan dengan orang lain meskipun saya tidak tahu wujud sebenarnya dengan orang tersebut.

Baiklah, saya akui, saya memilih untuk membuat persona baru untuk kemudian saya tonjolkan di dunia maya. Mengapa demikian?

Karena pada dasarnya, saya tidak ingin terlalu mencampuradukkan kehidupan nyata dengan dunia maya saya. Akan tetapi, bukan berarti saya tidak pernah mengungkap siapa saya sebenarnya.

Akan selalu ada pilihan-pilihan yang terpapar di depan saya ketika mengenal seseorang di dunia maya.

Akankah saya akan tetap dengan identitas yang sengaja saya ciptakan, ataukah saya akan memberi tahu orang tersebut akan identitas saya?

Saya selalu berusaha untuk mempertimbangkan lebih jauh apakah saya akan membuka identitas asli saya atau tidak. Saya punya berbagai pertimbangan akan hal tersebut.

Satu ketika, ada seseorang yang menghubungi saya.

Baiklah, saya tahu dia karena saya dan dia tergabung dalam satu grup yang sama.

Awalnya, saya selalu menggunakan persona yang sudah saya ciptakan di dunia maya. Bersikap sesuai dengan apa yang saya mau. Akan tetapi, di satu sisi, saya ingin mencoba untuk menyatakan siapa saya yang sebenarnya karena saya mulai mempercayai dia.

Berhari-hari berinteraksi, nyatanya dia sama sekali tidak ingin membahas tentang latar belakang kami masing-masing. Baiklah. Saya tidak memaksa. Toh, di dunia maya memang ada orang-orang yang sengaja tidak ingin privasinya terbongkar. Apalagi, nyatanya dia selalu mengatakan pada saya bahwa tidak penting baginya akan latar belakang seseorang.

Yang terpenting adalah bagaimana hubungan dapat terjalin dengan baik. Sekali lagi, saya menerima keputusan yang ia ambil. Saya pun akhirnya menghindari percakapan-percakapan yang menjurus ke hal privat.

Akan tetapi, saya menemukan inkonsistensi dari prinsip dia. Tiba-tiba saja, dia mengatakan kepada saya bahwa dia tahu siapa saya. Awalnya saya cukup terkejut.

Bagaimana mungkin dia tahu siapa saya?

Saya tidak menggunakan nama asli saya untuk akun yang saya gunakan. Saya pun tidak pernah sekali pun memberi petunjuk akan siapa saya. Saya benar-benar tidak paham.

Saya sedikit kecewa akan kenyataan ini. Bukannya apa-apa. Sampai sekarang pun, dia tidak pernah mau memberi tahu siapa dia sebenarnya. Akan tetapi, dia benar-benar tahu siapa saya. Bukankah tindakan dia ini bertolak belakang dengan prinsip yang ia pegang?

Meskipun demikian, saya masih tetap menghargai dirinya.

Iya. Saya kecewa akan tindakan yang ia lakukan.

Akan tetapi, saya mencoba menyadari, pasti ada alasan lain di balik anonimitas yang ia jaga. Meskipun demikian, dalam hati kecil saya, saya berharap bahwa ia benar-benar memegang prinsip yang ia percayai.

Bukankah lebih baik dia tidak pernah memberitahu saya kalau dia mengetahui siapa saya? Bagaimanapun, sampai akhir, saya tidak akan pernah tahu siapa dirinya sebenarnya.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Saat Prinsip dan Tindakan Bertolak Belakang, Mana yang Harus Didengar?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Puji P. Rahayu | @PujiPRahayu

The Sun and the Red Glow of the Dawn. Passionate on reading and writing. Grateful for everything that happened in my life.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar