3.5K
Sanggupkah kau bertahan dalam sepi, agar kau tahu siapa dirimu sebenarnya?
Apa yang kita ketahui tentang damai?

Bagi saya pribadi, damai sama halnya dengan terhindar dari segala jenis distraksi—internal maupun eksternal.

Dulunya saya adalah pengguna aktif di seluruh platform sosial media. Orang-orang akan dengan mudah menemukan saya di sana; mengintai aktivitas saya setiap harinya, mengomentari apa-apa yang saya unggah, saling berkirim pesan tanpa peduli norma dan batasan.

Perlu digarisbawahi, beramah-tamah bukanlah tindakan yang salah. Ada perbedaan yang cukup signifikan di antara ramah dan berhati-hati. Terlebih dengan orang yang jelas-jelas belum kita kenal dengan baik.

Saya pernah melewati fase itu; saat pesona mengalahkan logika, dan bertukar nomor ponsel merupakan awal dari sebuah bencana. Dengan mudahnya seseorang memanfaatkan celah kecil itu, mencuri sebagian besar waktu saya, menawarkan segenggam harapan untuk bersama, sampai saya rela memberi apa saja agar dapat bersamanya.

Lama baru saya menyadari, tak semua angan dapat menjadi nyata. Dan di mata orang itu, saya tak lebih dari sebuah pelarian. Begitulah yang terlontar dari mulutnya.

"Kamu tak lebih baik dari orang-orang yang pernah saya kenal."

Saya tak mengapa, meskipun jauh di lubuk hati, saya sangat terluka.

Saya tak mengapa, meskipun sari-sari tubuh saya telah terisap habis hingga tak bersisa.

Saya tak mengapa, karena setidaknya orang itu telah berkata jujur.

Meskipun pada waktu itu, saya berusaha menolak kejujuran yang dia ungkapkan.

***

Dalam beberapa tahun terakhir, jejaring sosial tak lagi menjadi sarana untuk saling menjaga tali silaturahmi. Linimasa kini menjelma wadah pamer antara satu dengan yang lain. Masing-masing berlomba menjadi lebih, melakukan lebih, menerima lebih. Popularitas menjadi harga mati. Pencapaian terbesar adalah ketika seseorang memiliki banyak pengikut dan angka likes di setiap akun sosial medianya.

Karena itulah manusia sering merasa miskin. Angka membuat mata kita buta dan lupa bersyukur.

Pernah saya mencoba keluar dari zona nyaman. Memaksakan diri untuk terjun ke dalam tren itu. Satu kali, saya berhasil merasakan terbang di atas awan. Menjadi pusat perhatian di jagat maya rupanya menyenangkan. Namun, tak ada yang benar-benar fana. Kesombongan yang meraja akan berakhir menyedihkan. Itulah ketika saya harus jatuh sebelum saya siap untuk mendarat.

Butuh waktu cukup lama bagi saya untuk kembali berdiri. Muncul ke permukaan dan berpura-pura baik-baik saja rasanya sangat tak mungkin, apalagi bagi orang seperti saya — yang menyerahkan hampir sebagian hidupnya untuk sosial media.

Saya memang serapuh itu.

Maka, pada suatu malam, saya membuat keputusan.

Sepanjang malam gagasan itu terus-menerus menghantui isi kepala saya. Apakah mungkin pilihan ini akan membuat hidup saya jauh lebih baik, atau justru sebaliknya? Apa untung dan rugi yang akan saya terima? Namun, saya tak perlu bertanya kepada siapa-siapa. Hati kecil saya tahu jawabannya.

Ia berkata, lakukanlah.

Saya pun melakukannya: menukar bising dengan hening.

Barangkali selama ini ada beberapa hal yang salah dalam diri saya. Dan saya menyadari itu semua. Tentang cemas yang berlebihan, tentang redupnya percaya diri, tentang ketidakseimbangan antara sesuatu yang maya dan nyata. Karena pada akhirnya, saya memetik satu pelajaran, sosial media tak sepantasnya menjadi prioritas.

***

Hari ini, genap tujuh bulan saya mematikan seluruh akun jejaring sosial milik saya.

Tujuh bulan saya merasa lebih tenang dalam menjalani hidup. Tak lagi mencemaskan aneka respons yang akan saya terima ketika mengunggah sesuatu ke sosial media. Tak lagi merasa minder karena saya tak tahu persaingan apa yang sedang saya hadapi. Beban di dunia nyata sudah cukup berat. Dan saya tak ingin menambahkannya dengan beban-beban yang lain.

Kendati bukanlah waktu yang teramat panjang, tujuh bulan bagi saya masih terasa kurang. Saya masih butuh lebih banyak ruang untuk menyepi.

Karena dalam sepi, kau sanggup mengenal dirimu sendiri.

Tak jarang rasa rindu datang mengetuk pintu hati: bertanya, bagaimana kabar teman-teman dunia maya, apa kau tak penasaran dengan apa yang terjadi di luar sana, tak inginkah kau melihat foto terbaru mereka, tak inginkah kau sekadar menyapa dan kembali seperti semula?

Tentu saja saya ingin.

Saya rindu dengan bunyi notifikasi dari sosial media. Bunyi-bunyian itu dulunya pernah menjadi candu bagi saya. Akan tetapi, tidak untuk saat ini. Berteman dengan sepi mendekatkan saya dengan kedamaian.

Dan itu semua lebih dari cukup.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Perkara Memilih Sepi". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Joy Agustian | @joyagustian

Penggemar warna putih dan biru langit. Adalah takdir mengapa ia begitu menyukai buku, suara ombak, dan menjadikan pantai sebagai pelariannya. Ingin diberi umur panjang agar dapat menulis sampai akhir hayat. Saat ini, ia sedang mempelajari yoga.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar