3.8K
Karena pada akhirnya, rasa takut adalah kawan baik yang hadir untuk meningkatkan kualitas diri kita sebagai manusia.

Ada rasa takut yang menghantui saya beberapa waktu belakangan ini: takut mengecewakan. Takut sia-sia dalam berkarya. Takut bicara dan bercerita. Dan masih banyak ketakutan-ketakutan lainnya. Disertai dengan perasaan depresi, hari-hari saya pun cukup sering diselimuti kekalutan, kecemasan, dan kekhawatiran.

Sering saya bertanya-tanya, apa mungkin saya bisa hidup tanpa rasa takut?

Saya sadar, depresi dan ketakutan yang saya rasakan akhir-akhir ini sudah cukup akut. Mengganggu kehidupan pribadi dan profesional tentu saja, karena saya jadi kurang fokus dalam bekerja dan seolah-olah 'mati rasa'. Entah kapan saya terakhir kali merasakan rasa bahagia yang meluap-luap. Tapi kalau disebut lebih sering sedih pun, saya sulit meneteskan air mata.

Akhirnya, satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah: bercerita.

Beberapa bulan ke belakang, saya hampir yakin bahwa ketakutan dan depresi yang saya alami berasal dari ketidakbahagiaan saya dalam pekerjaan. Maret ini adalah tahun pertama saya bekerja di sebuah perusahaan konsultan ternama di ibukota. Dan untuk pertama kalinya, saya merasa begitu tidak bahagia dengan pekerjaan saya.

Hal pertama yang saya coba untuk mengatasi ketidakbahagiaan ini adalah dengan menulis. Saya cukup mengenal diri saya sendiri untuk tahu bahwa menulis adalah cara paling efektif yang bisa saya lakukan sebagai semacam terapi pribadi untuk segala masalah kehidupan. Patah hati? Saya menulis. Bahagia? Saya menulis. Depresi? Ya, saya menulis juga.

Tapi ternyata menulis tidak otomatis menyingkirkan rasa takut yang saya rasakan.

Saat itulah saya merasa bahwa permasalahan hidup yang saya hadapi kali ini bukan permasalahan hidup biasa. Karena saya tahu permasalahan utama hidup saya saat ini berhubungan dengan pekerjaan, saya pun mulai mempertimbangkan untuk keluar dari pekerjaan yang mencekik kebahagiaan saya sejak beberapa bulan ke belakang.

Namun, ketika saya hampir yakin untuk berhenti dari pekerjaan yang mengganggu pikiran saya selama ini, ketakutan lain datang. Apa saya perlu memberitahu rencana saya ini kepada atasan ; atau meminggirkan rasa peduli saya dan langsung mengirimkan surat pengunduran diri saja, tanpa tedeng aling-aling?

Ketika ketakutan mulai terasa begitu mengganggu, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah berbicara dan mendengarkan. Dengan sedikit segan, saya pun akhirnya mengangkat telepon dan menghubungi atasan saya.

"Bisa tidak kali ini saja, saya bicara denganmu sebagai teman, bukan sebagai rekan kerja?"

Saya mengumpulkan begitu banyak keberanian hanya untuk mengatakan hal ini kepada atasan saya. Ruby namanya. Dan saya takut mengatakan bahwa saya tidak bahagia di pekerjaan saya; hanya karena dia adalah seorang atasan yang sangat baik dan menaruh begitu banyak kepercayaan kepada saya.

Ketika akhirnya saya membuka suara dan mencurahkan apa yang menjadi kendala saya dalam pekerjaan selama ini, saya lega. Dengan tenang, atasan saya bertanya alasan mengapa saya sampai berpikir untuk berhenti. Dan sebagai seseorang yang keukeuh memanggil dirinya 'kakak' untuk saya dan bukan bos, Ruby mulai berbicara.

Seperti namanya, Ruby adalah sosok seorang wanita cerdas dan kuat. Dan dia memastikan bisa memberikan pengaruh yang sama kepada orang-orang di sekitarnya.

Saat menulis tidak mampu meringankan beban saya, mendengarkan berhasil membuat saya merasa sedikit lebih tenang. Dan apa yang saya dengarkan hari itu, adalah apa yang akan saya bagikan di sini:

Ketika pekerjaan menjadi sumber rasa takut saya, Ruby menjelaskan bahwa dalam hidup, 'rasa takut' itu sendiri merupakan sebuah pekerjaan.

Karena pada akhirnya, rasa takut adalah kawan baik yang hadir untuk meningkatkan kualitas diri kita sebagai manusia.

Ketika kita belajar berjalan saat balita, rasa takut melangkah untuk pertama kali hadir di sana. Tapi toh ketakutan itu hilang ketika kita beranjak dewasa; dan bukan hanya berjalan, beberapa di antara kita lantas memutuskan untuk berlari, bahkan menempuh maraton.

Saat menjalani hidup, kadang terbersit dalam benak kita rasa takut apabila ajal datang menjemput. Namun toh, pada akhirnya, kita semua akan mati juga.

Rasa takut adalah proses. Rasa takut hadir bukan hanya untuk menghalangi kita, tetapi juga untuk memastikan bahwa kita bisa terus tumbuh sebagai manusia. Sebagai manusia, ada saatnya kita merasakan rasa takut dalam kehidupan, pekerjaan, hubungan percintaan, pengejaran impian, dan lain sebagainya. Rasa takut ini, ketika berhasil dilewati, akan meningkatkan kualitas diri kita sebagai manusia.

Sekali lagi, dari Ruby, saya mendapatkan pelajaran. Bukan tentang pitching kepada klien mengenai apa yang akan kita kerjakan, bukan juga tentang sistem operasi perkantoran. Malam itu, Rubi mengajarkan saya arti menjadikan 'rasa takut' sebagai pekerjaan. Pekerjaan rumah.

Saat itulah, saya paham. Bahwa meskipun seringkali rasa takut serasa hendak melumpuhkan kita, pada akhirnya kita juga membutuhkan rasa takut itu untuk bisa mengalahkannya, berkembang, meningkatkan kualitas diri, dan mengerti arti hidup yang sesungguhnya.

Because at the end of the day, life itself is a risk. And to live without fear is a tragedy.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Pekerjaan adalah Sumber Rasa Takut Saya. Tapi Rasa Takut Itu, Ternyata adalah Pekerjaan Tersendiri.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Marya Sutimi | @ranselungu

A big talker by daylight. A silent writer by moonlight

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar