4.9K
Pernah merasa dunia seperti menciut menjadi seukuran kampung, dan serta-merta semua orang kenal satu dengan yang lainnya?

Apa kamu pernah ada dalam kondisi seperti itu? Bertemu teman baru yang rupanya kenal dengan salah satu teman lamamu? Mendatangi sebuah acara dan berkenalan dengan orang yang rupanya kenal dengan salah satu saudaramu? Mengikuti kelas yoga dan rupanya pengajarnya kenal dengan salah seorang rekan sejawatmu? Atau ketika kamu butuh tumpangan ada yang menawarkannya? Ketika kamu akan berjalan sendiri ada yang ternyata punya tujuan yang sama?

Akhir-akhir ini, Semesta memperlihatkan tangan-tangan lentiknya kepada saya. Memintal kebetulan-kebetulan yang membuat saya justru semakin yakin bahwa tak ada yang namanya kebetulan.

"Itu bukan kebetulan," kata seorang ibu kepada saya pagi ini. “Itu hanya Semesta yang meletakkan orang-orang yang tepat di jalannya.” Tak bisa tidak, saya tersenyum manis mendengar penjelasannya.

Semesta kita ini memang unik dan bekerja dengan caranya sendiri. Saya percaya ketika kita meminta dengan sangat, kita mengirimkan sinyal-sinyal permohonan pada Semesta. Kebetulan-kebetulan ini adalah hadiah Semesta untuk kita yang masih terus percaya.

Maka jangan pernah percaya bahwa kebetulan hanya terjadi begitu saja. Tidak, kebetulan terjadi karena satu dan lain hal. Adalah tugas kita untuk mencari koneksinya, dan ketika menemukannya, maka kita akan terperangah dengan cara kerja Semesta.

Saya teringat sebuah pepatah tua yang selama ini selalu saya gunakan untuk kebetulan-kebetulan dan lingkaran-lingkaran koneksi yang menjadi utuh, “Bird with the same feather flock together...”

Semoga mimpi-mimpi dan asa kita yang satu tujuan kelak membuat kita bertemu di perjumpaan, besok atau nanti.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Menurut Saya, Beginilah Cara Semesta Bekerja.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Natalia Oetama | @Natalivy

Pecinta senja, pengamat langit, petualang hidup, penyuka gerimis, penggemar puisi. Baginya menulis itu terapi agar tetap waras dari pesta pora di kepala.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar