1.6K
Hati manusia tak pernah bisa lepas dari rasa sakit. Meski kita tak pernah menginginkan rasa tersebut mampir dalam hidup kita, tapi justru lewat rasa yang satu inilah seringnya pembelajaran tentang makna hidup dapat kita peroleh.

Rasa sakit memang tak enak. Pahit, masam dan getir adalah rasa yang kita kecap ketika hati terasa sakit. Rasa-rasa tersebut tak jarang membekas sampai ke palung memori terdalam pikiran kita dan membuat kita tanpa sadar menjadikan rasa sakit sebagai alibi pertahanan diri. Menjaga diri dari rasa sakit yang berulang adalah hal yang wajar diinginkan seorang manusia normal.

Tapi, apakah caranya harus dengan memelihara dendam?

Semula inilah yang saya percaya.

Rumah tangga yang saya bangun bersama suami tentu bukan tipe yang ideal tanpa perselisihan. Seringkali kami merasa kecewa dan sakit hati atas perilaku satu sama lain. Jarak yang jauh dan kesibukan bekerja menjadi faktor utama semakin bebalnya tembok komunikasi antara kami berdua. Kalau di masa awal pernikahan saya lebih banyak berperan dalam menjelaskan apa yang terasa salah dalam pernikahan ini, semakin ke sini rasanya saya semakin malas bermonolog sendirian tentang apa-apa yang harus diperbaiki dalam rumah tangga kami.

Rasa malas ini timbul karena saya merasa semua ucapan saya selama ini hanya jadi angin lalu. Dan suami kerap melakukan kesalahan yang sama. Kesalahan yang membuat rasa sakit hati yang itu-itu lagi.

Pada akhirnya saya memilih untuk berhenti berusaha memperbaiki.

Rasa bosan merasa sakit hati karena hal yang sama membuat otak saya memelihara ingatan dendam tentang rasa sakit yang saya alami. Setiap kali ada bau-bau suami hendak melakukan hal yang membuat saya sakit hati, otak saya langsung menggali ingatan-ingatan serupa di masa lalu dan menyuruh emosi saya bekerja membangun pertahanan diri.

Pertahanan ini bisa berbentuk macam-macam, mulai dari berusaha acuh, pura-pura berinteraksi padahal pikiran entah lari kemana sampai bersikap apatis. Pokoknya apapun saya lakukan untuk mengalihkan perasaan saya dari rasa sakit yang serupa dengan sebelumnya.

Lalu apakah strategi itu berhasil?

Tidak.

Tak hanya strategi ini membuat rumah tangga kami tak mengalami perbaikan, hati saya pun menjadi mati rasa karena selalu terhindar dari rasa sakit yang terduga. Yang terparah dan jauh membuat hati lebih sakit adalah, perasaan saya pada suami terpaku di pertahanan diri untuk tidak sakit hati lagi.

Padahal, suami saya juga tak jarang memberikan kebahagiaan di hidup saya, tapi semua itu seolah terlihat kabur karena ingatan saya hanya fokus kepada pertahanan diri dari rasa sakit yang berulang.

Secara alami manusia memang lebih mudah mengingat hal-hal yang menyakitinya daripada yang membuatnya merasa senang.

Entah ini karena kita senang merasa sedih atau sederhananya kita menganggap rasa sakit lebih perlu untuk diingat agar kita punya pertahanan diri dari kekecewaan.

Tapi yang jelas, pemahaman saya tentang rasa sakit dan pertahanan diri perlu direvisi alias diperbaiki. Rasa sakit ada bukan untuk dihindari, tapi ia ada untuk kita hadapi dengan gagah berani. Seyogyanya, apapun alasan kita mengingat rasa sakit, tak perlu berlebihan dalam mengingatnya. Kita perlu tahu rasanya, kita perlu ingat sebabnya, tapi tak perlu memeliharanya sebagai dendam dengan dalih "Aku perlu mengingat ini agar kejadian yang sama tak terulang lagi".

Sekali lagi, bukan menghindari rasa sakit yang saya perlukan, tapi menghadapinya lalu berdamai dengan dengannya. Inilah yang saya butuhkan. Meski pahit prosesnya, tapi saya harus percaya bahwa rasa pahit itu akan berbuah hal yang lebih baik dalam kehidupan saya: jika saya bisa belajar darinya, dan berdamai dengannya.




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Memelihara Dendam Demi Pertahanan Diri Dari Rasa Sakit Berulang: Efektifkah?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Dewi Nurfitriyana | @dewinurfitriyana

an engineering graduate who's previously working as banker and now back to basic by being a mom and working as a Planner.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar