4.9K
Semenjak dalam kandungan, manusia bertumbuh ditemani suara detak jantung. Detak jantung sendiri dan detak jantung ibu jadi musik yang selalu menenangkan. Terlahir ke dunia, ada kerinduan tak terjelaskan untuk mendengarkan kembali detak jantung kedua ini.

Pagi itu, di tengah riuh rendah Sunday market, saya mendapatkan jawaban atas hal-hal tak terjelaskan yang selama ini sering saya tanyakan. Keinginan dan kebutuhan untuk berdekatan dengan alam. Adalah Ibu Shierly Megawati yang membantu saya menjawab pertanyaan ini, bahkan tanpa saya tanyakan.

“Begitu terlahir ke dunia, kita masuk ke dalam rahim yang lebih besar, Ibu Pertiwi. Untuk itu kita butuh terhubung dengannya," ujar Bu Shierly. Menurut penggagas Eco Learning Camp ini, manusia punya kerinduan tak terjelaskan untuk menemukan kembali detak jantung kedua yang membuatnya merasa senyaman berada di rahim ibu.

Selayaknya ibu, Bumi Pertiwi juga menyediakan segala yang kita butuhkan seperti saat terlapis plasenta. Syaratnya hanya satu, memelan dan belajar menyelaraskan kembali detak jantung kita dengan detak jantung bumi. Menyusu kembali padanya, berguru darinya.

Sembari menyuap nasi merah dan tempe kerik, saya meremang ketika mendengarkan penjelasan Bu Shierly tentang detak jantung ganda ini. Penjelasan sederhana ini dengan serta merta membuat saya paham, mengapa pemandangan alam yang begitu indah akan selalu bisa membuat kita merasa aman dan nyaman.

Ya, karena ketika menikmati keindahan alam, kita sedang terhubung kembali pada ibu kita, terkoneksi dan merasakan kenyamanan yang selama ini kita rindukan.

Mulai Dari Sekarang

Seperti slogan sebuah brand, “Just do it...” , tak perlu muluk-muluk untuk kembali terhubung dengan Ibu Bumi. Mulailah dengan caramu. Bisa jadi dengan tak lagi membuang sampah sembarangan, mulai menghentikan penggunaan produk-produk yang merusak lingkungan, mengurangi penggunaan kantong plastik, berbagi ilmu mengolah sampah, “Apa saja yang paling nyaman untukmu. Tujuan kami hanya meningkatkan kesadaran,” Bu Shierly menambahkan.

Dalam usaha untuk memulai, saya ingin membagikan potongan ide berharga ini untuk kita semua. Mari bersama-sama mulai memelan dan kembali terhubung dengan ibu kita bersama, Gaia. Ibu Bumi. Yang di atasnya kita hidup dan bernapas. Yang darinya kita mengambil segala yang kita perlukan, segala yang kita butuhkan.

Bumi ini kian tua dan rapuh. Bagaimana kita, sebagai anak, memperlakukan ibu yang telah tua dan rapuh? Sejatinya, cara kita memperlakukan Ibu Bumi juga mencerminkan cara kita memperlakukan ibu sendiri. Jadi, dari mana kita akan mulai menunjukkan cinta dan kasih sayang terhadap mereka? Bagaimana kita bisa membuat mereka merasa aman dan nyaman, sebagaimana kita merasa aman dan nyaman ketika berada dalam pelukan mereka?

Dari ibu dan Ibu Bumi, kita telah banyak mengambil. Mungkin ini saatnya kita memberi.

-------

*Eco Learning Camp memiliki program-program yang bisa disimak langsung melalui website mereka.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Lihat Cara Kita Memperlakukan Alam. Biasanya, Seperti Itulah Cara Kita Memperlakukan Ibu.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Natalia Oetama | @Natalivy

Pecinta senja, pengamat langit, petualang hidup, penyuka gerimis, penggemar puisi. Baginya menulis itu terapi agar tetap waras dari pesta pora di kepala.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Crystal Monica | @alibabaalibabi

nice post | Reksadana