2.9K
Tidak mudah membiasakan diri melihat sisi lain dari pengalaman yang tidak menyenangkan. Terkadang ada perasaan marah, sedih, kecewa, dan hal-hal negatif yang kita rasakan. Dan itu adalah hal yang wajar.
“Aku merasa buruk.”
“Aku bukan orang yang baik.”
“Aku tidak pernah bisa dalam hal ini.”

Seberapa sering kalimat-kalimat seperti ini kita ucapkan?

Betapa melelahkan ya, berada dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Sepertinya memang jauh lebih mudah untuk menyalahkan diri sendiri jika berada dalam situasi yang tidak menyenangkan.

Satu semester sudah berlalu sejak hari pertama saya belajar Psikologi lagi. Saya merasa sangat beruntung dan bersyukur untuk setiap detik yang berlalu kemarin. Tidak hanya ilmu yang saya dapatkan, tetapi juga proses “pembersihan” diri yang luar biasa.

Iya, untuk menjadi seorang Psikolog yang siap bertemu klien, kami difasilitasi untuk memahami diri sendiri terlebih dahulu.

Making peace, demikian istilah yang diberikan salah satu dosen di dalam kelas, dengan masalah-masalah kami.

Bukan tentang penyelesaian masalah, tetapi juga tentang menghadirkan perasaan menerima; berdamai dengan setiap hal menyakitkan yang pernah dirasakan di masa lalu.

Sebab masalah yang muncul dalam hidup adalah sebuah cara yang diberikan Tuhan untuk membuat kita lebih kuat.

Dan kalimat-kalimat yang saya tuliskan di awal cerita ini adalah sebuah pembuka, sekaligus pengingat: bahwa kita cenderung melihat sisi negatif dari setiap kondisi yang membuat diri kita tidak nyaman.

Padahal, setiap pengalaman yang terjadi dalam hidup kita adalah sesuatu yang bersifat netral.

Kita selalu memiliki pilihan.

Selalu.

Sesederhana untuk merasa marah ataupun memaafkan. Sesederhana untuk berlarut dalam kesedihan ataupun mencoba melangkah dan berjalan ke depan.

Ketika kita menilai sebuah kejadian menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, itu artinya kita membiarkan pengalaman tidak menyenangkan itu benar-benar terjadi dalam diri kita. Tetapi, ketika kita mencoba mencari sudut pandang lain dan memaknai sebuah pengalaman dengan lebih netral, tentu kita akan lebih mudah untuk menerimanya.

Tidak mudah untuk membiasakan diri melihat sisi lain dari pengalaman yang tidak menyenangkan. Terkadang ada perasaan marah, sedih, kecewa, dan hal-hal negatif yang kita rasakan. Dan itu adalah hal yang wajar.

Akan menjadi tidak lagi wajar ketika kita membiarkan diri terus-menerus dalam perasaan yang tidak menyenangkan: Selalu menyalahkan diri sendiri, Selalu merasa sebagai korban dari ketidakadilan.

Bukankah rasanya melelahkan?

Tulisan ini saya bagikan sebagai pengingat untuk diri sendiri. Memang sekilas tampak lebih mudah untuk melihat sisi negatif dari pengalaman yang tidak menyenangkan. Akan tetapi, tidak ada salahnya kan untuk mencari sisi positif dari pengalaman itu, kan?

Dan satu pelajaran yang saya dapatkan dari proses semester lalu adalah tentang mencintai diri sendiri.

Ya, menghargai diri sendiri dan mencintainya dengan sepenuh hati adalah langkah pertama untuk berdamai dengan masa lalu.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Langkah Pertama untuk Berdamai dengan Masa Lalu". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Nisrinays | @nisrinaputri

A mellow real life writer at putrinisrina.blogspot.com.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar