2.5K
Semua baik pada akhirnya. Atau setidaknya, selalu dapat membawa hal baik dan dapat diperjuangkan menjadi sesuatu yang mengundang makna.

Manusia suka membuat kotak-kotak. Terlampau banyak orang fokus terhadap label-label tertentu, begitu juga dalam mengkategorikan peristiwa di hidup ini. Kita dengan entengnya melakukan klasifikasi ‘ini baik’ dan ‘ini buruk’. Sayangnya, harus diakui bahwa pelabelan itu berdasarkan sebuah pemahaman yang tidak utuh.

Sebagai manusia yang terbatas dan memahami sesuatu sepotong demi sepotong, godaan menentukan sebuah peristiwa ini baik dan itu buruk sangatlah mudah. Hanya karena sepotong puzzle berwarna hitam pekan, maka tak berarti keseluruhan gambar merupakan awan kelabu. Saya kemudian teringat cerita ini.

**

Suatu kali, seorang Raja dan seorang dokter kepercayaannya pergi berburu di hutan. Lalu kaki sang Raja terluka. Raja itu panik dan berkata, “Oh that is so bad. So bad!”

Sang dokter merespon tidak sesuai dugaan. “Good, bad... who knows?”

Luka di kaki Raja makin parah dan akhirnya terinfeksi; bahkan salah satu jari kakinya harus diamputasi. Sekembalinya ke kerajaan ia pun mengeluh. “That is so bad. So bad.”

Sang dokter alih-alih berempati lagi-lagi berkata, “Good, bad... who knows?”

Raja pun marah dan memenjarakan sang dokter, dengan anggapan betapa acuh kawannya tersebut.

Selang beberapa waktu, Raja kembali berburu, namun kali ini tidak lagi bersama rekan setianya, sang dokter. Ia kemudian ditangkap oleh sekelompok penduduk adat. Ternyata raja itu hendak dijadikan korban kepada dewa.

Usai melepas sepatu sang raja, sang kepala adat terkaget-kaget melihat bahwa calon seserahan kepada dewa hanya memiliki sembilan jari. Sebuah korban yang tidak layak, bagi mereka. Alhasil, raja itu dibebaskan.

Ia jadi bersyukur atas insiden luka kaki yang akhirnya menyelamatkan nyawanya.

Ia bergegas ke penjara dan meminta maaf pada sang dokter karena telah menghukumnya. "Maaf atas segala kesulitan yang sudah kutimpakan kepadamu."

"Tak apa-apa, sebenarnya ini adalah pengalaman yang baik untukku."

Raja pun terheran, mengapa bisa sang dokter dipenjara karena sesuatu yang bukan kesalahannya, lalu masih sanggup berkata demikian?

Dokter menjawab, “Jika saja aku tidak dipenjara, maka aku akan ikut berburu denganmu, dan ketika ditangkap masyarakat adat. Setelah batal menjadikanmu korban, maka akulah yang akan jadi sasarannya, sebab jari kakiku masih utuh sepuluh. Dipenjara adalah hal baik bagiku.”

Rajapun tertawa dan baru menyadari apa arti kalimat kesukaan sang dokter: “Good, bad... who knows?”

**

Kita mungkin tersenyum membaca cerita ini.

Namun, harus diakui kerap kali kita menjadi seperti sang Raja, doyan memberi label peristiwa demi peristiwa. Padahal, apa yang kita duga tak selalu begitu adanya. Sejak saya menginsyafi kenyataan itu, saya bertekad untuk tidak berprasangka terhadap kejadian spesifik yang terjadi.

Suatu malam, ketika kekasih saya sedang tertekan dengan kondisi kantornya yang hendak gulung tikar, saya mengatakan bahwa jikapun harus di-PHK, maka tak berhak kami menyebutnya sebagai bencana. Kemudian saya berkata, bahwa jika suatu hari anak saya di PHK, sebagai ibu, saya akan tahu persis hendak melakukan apa.

Kekasih saya penasaran.

Saya lantas menjawab: “Saya akan mengajaknya makan malam istimewa dan memberi hadiah barang kesukaannya. Saya akan mengucapkan selamat karena ia akan memasuki tapak baru dalam hidupnya, dan akan mengijinkannya sejenak berlibur sebelum kembali dengan penuh syukur dan semangat untuk berjuang lagi.”

Munafik jika sebagai manusia kita berkata bahwa kehilangan pekerjaan atau kecelakaan atau ditipu rekan bisnis adalah hal menyenangkan dan baik-baik saja. Hanya saja, kita bisa memilih untuk mengumpulkan kekuatan dan merayakan itu sebagai puzzle hitam yang kelak akan jadi bagian yang memperindah keseluruhan gambar.

Dalam kerangka yang lebih besar, saya terlampau yakin sebenarnya semua itu baik adanya.

Atau setidaknya, selalu dapat membawa hal baik dan dapat diperjuangkan menjadi sesuatu yang mengundang makna.

Jadi, jika anakmu di-PHK apakah yang akan kamu lakukan sebagai orangtua? Dan jika kita yang kini sedang ada di fase yang 'menyedihkan' macam itu, beranikah kita sedikit berbaik hati pada diri sendiri dan melakukan selebrasi terhadap puzzle hitam yang sedang singgah?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Jika Anakku di-PHK". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Claudya Elleossa | @claudyaelleossa

Mencintai literatur dan Indonesia. Guru muda sanguin-koleris yang memiliki 150 mimpi untuk dicapai. Aktif membagi gambar dan mudah dihubungi melalui instagram @adiss_cte

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar