4.5K
"Tidak, aku tidak bisa melakukannya. Aku butuh waktu untuk diri sendiri."

Ingar-bingar musik pop elektronik mengalun dari komputer pangkuku. Dentang notifikasi pesan dari ponselku tak henti bersahutan; surel-surel tentang pekerjaan, curhatan kawan di media sosial, pesan-pesan singkat yang menawarkan berbagai produk kredit tanpa agunan.

Ada setumpuk tugas harian yang harus kuselesaikan. Mulai dari peralatan masak dan makan yang belum dicuci, tagihan-tagihan yang harus dilunasi, hingga tenggat-tenggat pekerjaan yang hampir dan sudah terlewati.

Hidupku begitu riuh dipenuhi berbagai rangsangan yang membombardir pancaindraku, memacu otak dan tubuhku, menguras habis tenagaku. Aku tak kuasa membendung tsunami rangsangan digital, tak hentinya menggulung layar ponselku, melarikan diri dari kegilaan di dunia nyata menuju kegilaan di dunia maya.

Aku terjebak dalam sengkarut rutinitas, melompat-lompat dari satu kewajiban ke kewajiban yang lain tanpa pernah menginsafi apa makna di baliknya.

Segala hal terasa mendesak. Segala tugas harus segera diselesaikan dalam kecepatan cahaya. Segalanya menjadi tuntutan--entah dari siapa. Semua jadi pembuktian--entah kepada siapa. Aku layaknya seekor tikus yang berlari di atas putaran roda. Setiap putaran yang kuselesaikan akan menimbulkan putaran lain yang harus kujalani.

Aku berlari semakin cepat dengan harapan akan semakin cepat tiba di tujuan. Padahal kenyataannya, aku hanya berlari-lari di tempat--tanpa tujuan yang jelas. Dan akhirnya, putaran demi putaran itu membuatku kewalahan.

Banyak hal sudah kucoba untuk mengatasinya. Terapi bicara, hipnoterapi, terapi brainspotting, yoga, semua tak berhasil menyumbat letupan rasa cemasku. Ibadah dan ritual keagamaan terasa tak lebih dari sekadar rutinitas. Jangankan berlibur ke luar kota atau ke luar negeri untuk beberapa waktu, berhenti untuk tidur dan makan pun terasa seperti membuang-buang waktu.

Aku seakan tak punya kendali atas otak dan tubuhku yang tak sudi mengambil jeda.

Sampai di tengah serangan panik dan keluhan-keluhan fisik yang tak dimengerti dokter, aku baru menyadari bahwa sejatinya, jeda datang dari dalam diri sendiri. Jeda ternyata bukan sekadar dua hari libur di akhir pekan yang ditetapkan pemerintah. Atau cuti sekian hari dari kantor yang dihabiskan untuk liburan di tempat eksotis. Atau bahkan penyakit yang datang melumpuhkan fungsi tubuh.

Semua terapi, konseling, olahraga, liburan, bahkan ibadah yang kujalani, tidak dapat menciptakan jeda yang kuinginkan jika aku tak menjalaninya dengan kesadaran dan kendali penuh. Ternyata, mengambil jeda membutuhkan kemampuan untuk berdamai dengan diri sendiri, memaafkan diri sendiri atas kelemahan-kelemahanku.

Mengambil jeda berarti mengakui bahwa aku adalah manusia, makhluk lemah yang butuh rehat, dan mencari kekuatan dalam diri untuk berkata, "Tidak, aku tidak bisa melakukannya. Aku butuh waktu untuk diri sendiri."

Aku butuh jeda untuk melihat pemandangan di sekitarku, memastikan bahwa perjalanan yang kutempuh sesuai dengan arah yang kutuju. Aku butuh jeda untuk mengambil kendali atas diri untuk merawat jiwa dan raga demi kelangsungan hidupku sendiri. Tak ada yang salah dengan jeda, tak ada yang egois tentangnya.

Aku pun teringat akan pesan yang disampaikan para pramugara dan pramugari sebelum memulai penerbangan: "Pasanglah masker Anda sendiri terlebih dahulu sebelum menolong orang lain".

Maka aku memutuskan untuk berhenti. Mengambil jeda, tanpa bantuan atau dorongan orang lain. Aku mematikan ponsel dan komputer pangkuku. Kupadamkan lampu ruangan dan kusumbat telingaku dengan hening. Kuraih sebotol minyak bunga kenanga favoritku untuk kuoles tipis-tipis di pelipis, tengkuk, dan nadiku.

Perlahan namun dalam kuhela napas dan kupejamkan kedua mata. Dengan sepenuh hati kusambut sepi dalam jeda. Kemudian sayup-sayup, dari dasar hatiku kudengar sebuah suara yang berbisik, "Aku pantas bahagia. Aku pantas dicintai. Dan aku pantas mendapatkan hal-hal yang baik di dunia ini."


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Jeda Datang dari Diri Sendiri". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Anastha Eka | @anasthaeka

Manusia yang menulis. Tak ingin jadi apa-apa, tapi ingin merasakan segalanya.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar