1.4K
Saya selalu percaya bahwa dengan bersyukur, rasa sesal bisa berkurang sedikit demi sedikit.

"Aduh, coba saat itu saya ikut dia. Pasti saya bisa sama-sama berhasil seperti dia."

"Andaikan saya jadi dia, ah pasti saya sudah sukses begitu."

Sering kita mendengar kalimat-kalimat penyesalan seperti di atas. Menyesal memang sudah menjadi naluri tiap manusia. Awalnya diajak berbisnis, tapi setelah pikir-pikir akhirnya tidak jadi. Melihat yang mengajak sukses di kemudian hari, timbul rasa sesal.

Terus, bagaimana?

Seorang teman pernah bercerita kepada saya seraya mengeluh, "Coba waktu itu saya mendaftar bekerja di Jakarta..." lalu keluarlah runutan kisah mengenai penyesalan-penyesalannya karena telah mengambil keputusan yang dianggapnya tak sepadan.

Penyesalan seperti itu memang akan muncul saat kita berada pada titik rendah, sementara orang lain tampak berada di titik tertinggi. Padahal belum tentu. Mungkin gaji UMR di Jakarta tinggi, tapi gaya hidupnya bagaimana? Mahal juga, kan? Bisa jadi tetap di kampung atau di kota kecil adalah yang terbaik.

Saya selalu percaya bahwa dengan bersyukur, rasa sesal bisa berkurang sedikit demi sedikit. Bersyukur bahwa mungkin jalan ini memang yang terbaik untuk kita pada saat itu. Ya, kita bisa mengkhayalkan hal-hal indah, lalu berdoa minta ini-itu semau kita. Kita pikir semua yang kita inginkan adalah yang terbaik untuk kita--dan bisa membuat kita berbahagia. Padahal, belum tentu, kan?

Kita semua pasti pernah merasakan kebahagiaan karena mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Tapi, apakah lantas kebahagiaan yang kita rasakan itu bertahan selamanya? Apakah lantas kita jadi tidak menginginkan apa-apa lagi? Tidak juga, kan? Meski sudah mendapatkan apa yang kita inginkan, kita akan selalu menginginkan yang lain, yang lebih.

Tapi, saya percaya bahwa Tuhan Maha Tahu. Maha Mengerti apa saja yang terbaik untuk kita. Apa saja yang memang pas untuk kita dapatkan pada tahapan tertentu dalam hidup kita. Aa saja yang sesuai dengan usaha dan keadaan kita. Tuhan mengerti semua itu dengan sangat jelas. Jadi masihkah saya perlu khawatir rezeki saya akan tertukar?

Jika kita melihat orang lain lebih sempurna, ikutlah berbahagia untuk mereka. Percayalah bahwa apa yang sudah kita miliki juga bisa membahagiakan diri kita. Saat ini, mungkin memang inilah yang kita butuhkan. Jika kita diberi lebih, bisa saja kita akan sombong atau lengah. Maka, syukuri saja di titik ini. Karena ini yang terbaik. Ini yang pas untuk kita.

Jangan khawatir soal takdir. Usaha tentu harus semaksimal mungkin. Berdoa juga jangan ketinggalan. Dan hasil, biarlah Tuhan yang menentukan. Jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita, percayalah bahwa ini hasil terbaik untuk hidup kita saat ini. Karena kita sudah mengusahakan yang terbaik, sepatutnya tak ada sesal. Itulah jalan yang pas antara usaha, doa, dan kondisi kita.

Tuhan Maha Sempurna dalam memilihkan hak kita. Kita tidak tahu jalan terbaik untuk kita. Kita hanya tahu apa yang kita inginkan. Tapi, Tuhan mengerti semua.

Jika apa yang didapat jauh melenceng dari harapan kita, malah orang lain yang kita anggap usahanya santai diberi lebih, percayalah bahwa itu ujian. Ujian untuk meningkatkan kadar keimanan kita. Ujian untuk mengukur seberapa besar kita bersyukur atas nikmat-Nya. Yakinlah bahwa di dalam kesulitan akan ada kemudahan. Dari hasil yang sedikit dan melihat orang lain mendapat lebih, jadikan itu pemicu semangat. Semangat untuk terus berjuang, berusaha, dan berdoa.

Semua hal dengan niat tulus, usaha yang baik, dan doa, pasti akan mendapat hasil yang terbaik dari-Nya. Saya percaya hal ini, dan saya percaya Tuhan tak akan tertukar dalam memberikan garis takdir dan rezeki kita. Tiap manusia telah Ia pilihkan jalan yang terbaik. Tinggal bagaimana manusia itu bersyukur atas nikmat-Nya, memilih sombong dan takabur pada segala yang telah diberikan-Nya, atau menggerutu atas apa yang dirasa tidak ia didapatkan.

Dengan kesehatan dan kehidupan yang masih diberikan, nikmat mana lagi yang hendak saya dustakan?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Jangan Khawatir. Rezeki Kita Tak Akan Tertukar.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Widya Sulistya | @widyasulistya

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar