Jangan Genggam Erat Pujian. Suatu Saat, Ia Akan Menjadi Ujian

Jangan Genggam Erat Pujian. Suatu Saat, Ia Akan Menjadi Ujian

Bebaskan Dirimu dari beban apapun, termasuk pujian.

1.9K
Pujian. Tak perlu menggenggamnya terlalu erat, karena ia akan berbalik menjadi ujian. Pelan dna menyakitkan, tanpa kita sadari.

"Bagus sekali karya kamu! Kapan, ya, aku bisa membuat karya sebagus kamu?"

"Luar biasa sekali kamu, sibuk bekerja tapi keluarga tampak harmonis."

Semua orang pasti senang dipuji, begitu juga dengan saya. Setiap kali mendengar pujian yang mampir ke telinga, senyum akan selalu menghiasi wajah saya hingga beberapa jam berikutnya. Saya senang sekaligus berbangga, ternyata saya hebat juga. Saya pun mulai mengagumi diri sendiri. Bahkan di hadapan beberapa orang terdekat, saya akan mengakui bahwa kemampuan saya patut diapresiasi.

Ada saatnya, pujian sama artinya dengan pompa motivasi.

Saya akan semakin semangat berkarya. Apalagi jika apa yang saya lakukan mampu menginspirasi banyak orang. Maka, saya pun semakin menambah jam terbang untuk memperbaiki karya saya, agar pujian yang saya dapatkan semakin banyak.

Sampai pada suatu titik, saya lupa. Bahwa apa yang saya lakukan semata-mata hanya untuk mengekspresikan diri. Saya merasa bahwa pujian adalah satu-satunya tujuan hidup saya: untuk membuat orang lain mengakui kehebatan saya. Suatu kali, saat orang-orang sudah menganggap karya saya biasa saja, atau suatu kali, saat saya tidak sengaja melakukan sebuah kesalahan yang membuat orang kemudian berbalik mencaci saya--saya teringat kembali akan tujuan awal saya.

Lantas, apa yang bisa saya lakukan? Putus asa, tidak terima, dan kehilangan puja-puji sebagai satu-satunya sumber motivasi saya?

Jika apa yang saya lakukan memang tentang pujian yang akan saya dapatkan, maka mari kita berbalik arah. Saya ingin mengajakmu untuk berada di pihak orang-orang yang kerap kali memberikan pujian.

Pernahkah kamu melontarkan pujian?

Kira-kira apa yang tengah kamu rasakan saat pujian tersebut dilontarkan?

Suatu ketika, saya pernah melemparkan pujian kepada seseorang yang sedang mendapatkan rezeki, atau prestasi. Di mulut, sanjungan dan ucapan selamat teruntai manis. Tapi, dalam hati saya, ada sebersit rasa iri--bahkan pertanyaan yang mengibakan hati, mengapa dia bisa melakukannya, dan saya tidak bisa?

Rasanya, setiap kali melihat atau mendengar orang lain mampu menunjukan prestasi atau keberhasilannya dengan apik, saya hanya ingin menyembunyikan wajah. Saya tak mampu sehebat dia, saya tak mampu sepintar dia, lantas pikiran lain pun merajalela. Mengapa dia bisa, bagaimana caranya? Ah.

Tapi, ini hanya suatu ketika saja. Pada ketika yang lain, saya beneran melontarkan pujian, kok. Karena memang apa yang terjadi dalam hidupnya maupun yang dia lakukan benar-benar mengundang decak kagum. Sesuatu yang membuat saya kembali bertanya-tanya, apakah hal yang sama mungkin saya lakukan? Bagaimana caranya?

Jika kehilangan pujian berarti saya kehilangan satu-satunya motivasi, betapa malangnya saya. Apalagi jika ternyata orang yang memuji saya hanya sekadar bermanis mulut agar saya bahagia, karena merasa tidak enak, merasa terintimidasi, atau alasan lainnya. Maka kemalangan kedua kembali menimpa saya. Saya kehilangan tenaga, waktu, sekaligus kesenangan saya untuk berbagi--hanya karena mengharapkan pujian.

Saya jadi teringat kata-kata seorang penulis terkenal di negeri ini. Karya-karyanya selalu memberikan inpirasi dan manfaat bagi pembaca. Penulis ini menyebut "Big Why" tentang alasan dia berkarya. Big Why harusah sesuatu yang bisa terus memberi motivasi. Alasan kuat yang bukan semata-mata didasarkan atas pujian. Karena, pujian tidak pernah bisa kekal.

Suatu saat, pujian itu bisa jadi senjata yang menjatuhkan. Pelan dan sangat menyakitkan, tanpa kita pernah menyadari. Dan Big Why inilah yang harus saya cari mulai saat ini. Sebuah alasan yang membuat saya terus melangkah, apapun yang terjadi, dengan atau tanpa pujian.




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Jangan Genggam Erat Pujian. Suatu Saat, Ia Akan Menjadi Ujian". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Hepi Risenasari | @hepirisenasari

Woman, kids, and parenting enthusiasm

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Crystal Monica | @alibabaalibabi

Bisnis Online