2.1K
“Kadang kamu harus berterima kasih pada musuh-musuhmu.” Ah, saya kurang setuju.
“Kadang kamu harus berterima kasih pada musuh-musuhmu.”

Satu-dua dekade lalu, saya nggak akan sudi menerima saran itu. Enak saja. Udah orang itu nyakitin, nusuk dari belakang, ngegosipin, menghina di depan umum, hingga perbuatan brengsek lainnya, terus saya masih harus berterima kasih sama mereka?

Bahkan, yang langsung dan paling sering kepikiran adalah keinginan untuk membalas perbuatan mereka. Minimal musuhan hingga menyumpahi hal buruk menimpa mereka. Maksimal? Bisa banyak. Intinya bisa menyerang balik secara langsung atau diam-diam menusuk dari belakang (juga).

Sakit hati itu manusiawi. Namun, sebagai manusia, pasti kita juga punya banyak pilihan, dong. Apakah dengan membalas dendam lantas kita akan puas?

Apakah kita rela menjadi sama seperti mereka – atau malah lebih parah? Lagipula, memangnya kita sendiri nggak pernah nyakitin orang lain juga – sadar nggak sadar?

Yakin?

Saya kurang sepakat dengan saran di atas, meski kurang-lebih bisa memahami maksudnya.

Saya tetap enggan berterima kasih pada semua yang pernah menyakiti saya, karena sama saja dengan tidak menyadarkan mereka akan kesalahan mereka.

Saya lebih memilih untuk berterima kasih pada pengalaman dan semua luka. Semua telah membentuk saya menjadi seperti sekarang. Karena sudah tahu sakitnya, saya berusaha agar jangan sampai mengambil jalan yang sama buruknya dengan mereka yang dulu pernah menyakiti saya.

Semua orang yang pernah menyakitimu mengajarkan dua hal:

1. Mereka mengingatkanmu bahwa menyakiti sesama itu tidak pernah baik, apa pun alasannya.

2. Mereka adalah contoh manusia dengan perilaku yang tak perlu kita tiru.

Ya, harusnya sesederhana itu.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ini Dua Pelajaran Berharga dari Mereka yang Pernah Menyakitimu.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Ruby Astari | @rubyastari

Penulis "Reva's Tale" terbitan Ice Cube Publisher, pengajar Bahasa Inggris, penerjemah lepas, dan penulis lepas di beberapa media lain. Blog pribadinya: ruangbenakruby.com

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Yunita Fauziah | @yunitarahma

Tulisan yang indah, Mbak... langsung jleb begitu membaca konklusi... harusnya kita tidak seperti mereka... Jika hal ini dipahami dengan baik,, alangkah indahnya duniaa... terma kasiiih Mbak Ruby :)