4K
Bocah laki-laki kelas tiga itu bercerita beberapa hal lain yang menyebabkan sore itu suasana hatinya tidak karuan.

Hari ini, murid les saya agak berbeda. Sangat rewel. Di tengah mengerjakan soal pecahan yang dia anggap sulit, tiba-tiba dia berucap dengan nada agak jengkel, "Miss, tahu nggak sih, hari ini aku tuh grogi!"

Apa? Saya tertegun. Dia grogi karena mau nembak teman perempuannya? Grogi karena bertemu saya, guru lesnya? Diliputi keheranan, dan sambil menahan tawa, saya mencoba mencari tahu apa yang dia maksudkan.

"Iya, Miss. Hari ini aku nggak percaya diri."

Oh. Bukan grogi itu, Nak. Itu namanya minder, saya membatin.

"Kenapa kok bisa ngerasa gitu? Hari ini ada ulangan yang jelek? Atau kalah lari?" saya memancing.

"Nggak, Miss. Aku tadi dikerjain pas main sama Jojo. Dia itu ((gini gini gini)). Aku kan jadi nggak suka ((gitu gitu gitu))...."

Lalu murid les saya itupun menceritakan lengkap kronologi permainan rampok-polisi yang membuat dia grogi. Eh, minder, hari ini.

Saya tersenyum. Meletakkan pulpen. Memasang telinga baik-baik. Bocah laki-laki kelas tiga itu bercerita beberapa hal lain yang menyebabkan sore itu suasana hatinya tidak karuan.

Saya hanya mendengar. Dan menyimak.

Lalu, usai dia puas bercerita, dia menghela napas, lalu kembali mengerjakan soal pecahan tanpa saya minta. Kali ini, tanpa omelan. Sisa durasi les menjadi amat mulus. Bisa disimpulkan, kondisi hatinya sudah membaik.

Saya jadi sadar dan kembali diingatkan betapa banyak orang butuh didengarkan. Tanpa perlu diserbu nasihat saat itu juga. Tanpa perlu balik bercerita.

Murid les saya itu, dan banyak orang lain, termasuk yang dewasa sekalipun, kerap hanya butuh telinga yang menyimak tanpa penghakiman. Mereka hanya mengharapkan kehadiran yang menelan cerita--bukan untuk merespon, tapi memahami. Seraya berkata lewat tatapan mata: "Aku di sini, silakan tumpahkan kekesalanmu."

Usai isi kepala teruraikan, siapa tahu terkumpul energi untuk memulihkan suasana hati.

Senang sekali saya diteguhkan lagi tentang efek ampuh kesediaan untuk menyimak, pada beberapa menit tadi.

Sebenarnya, saya kira hari ini akan jadi hari terakhir saya menjadi guru les, sebab kemarin saya sudah mengajukan diri untuk berhenti. Namun, mama dari murid saya tidak menyetujui permohonan tersebut. Itu artinya saya akan tetap menghabiskan dua sore setiap minggu bersama anak ini. Awalnya saya heran. Saya sudah siap untuk mengarahkan energi bagi hal lain. Apalagi melihat dia sudah pintar dan agaknya tak perlu lagi bantuan belajar.

Tapi, setelah momen sederhana mendengar murid yang berkeluh kesah dan diteguhkan soal arti penting mendengar, saya jadi paham. Mungkin Tuhan masih mau mengajarkan hal lain melalui anak kecil ini kepada saya. Mungkin Tuhan pikir saya belum pandai soal banyak hal dan harus terus belajar. Ia pun memilih teman belajar saya di sore hari: seorang anak kelas tiga SD yang hari itu sedang grogi--eh, minder.

Dan walaupun pilihan ini agak janggal, saya akan menyambut kelas-kelas berikutnya dengan rasa senang dan penasaran: pelajaran apa yang akan saya dapatkan pada kelas les saya berikutnya?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Guru Saya adalah Seorang Anak Kelas Tiga SD yang Sedang 'Minder' Pada Suatu Sore.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Claudya Elleossa | @claudyaelleossa

Mencintai literatur dan Indonesia. Guru muda sanguin-koleris yang memiliki 150 mimpi untuk dicapai. Aktif membagi gambar dan mudah dihubungi melalui instagram @adiss_cte

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Crystal Monica | @alibabaalibabi

Thanks SPT PPh