1.9K
Ketenangan adalah tempat di mana hanya ada saya dan udara. Ketenangan adalah situasi di mana saya bebas bercengkerama dengan diri sendiri.

Hari itu, entah mengapa saya begitu ingin memiliki sesi tersendiri dengan diri sendiri.

Saya merasa telah menginvestasikan waktu dan diri saya untuk begitu banyak hal berharga dalam hidup, namun terkadang saya lupa untuk meluangkan beberapa jam untuk hanya sekedar duduk sendiri, menggenggam tangan dan hati saya, kemudian merangkul diri saya sendiri sambil berucap syukur betapa saya mencintai diri saya.

Dan hari itu, saya sepakat untuk mendetoksifikasi diri sendiri.

Saya, seorang anak yang penuh rasa syukur karena memiliki orang tua yang luar biasa. Saya, seorang kakak yang penuh rasa bangga karena memiliki adik yang begitu menyayangi saya. Saya, seorang ibu yang penuh rasa bahagia melihat anak semata wayang saya tumbuh dengan segala kebaikan semesta tercermin dari senyumnya. Saya, seorang sepupu yang beruntung, seorang keponakan yang dipenuhi cinta kasih, seorang teman yang selalu mendapat dukungan, seorang manusia penghuni semesta yang berkelimpahan.

Dan proses detoksifikasi saya dimulai.

Saya mencari tempat makan teduh di tengah sawah. Dengan suasana yang tenang dan sunyi, saya memesan makanan dan minuman yang tak hanya baik bagi tubuh saya, tapi juga membuat saya bahagia. Semua saya lakukan dalam diam. Hanya pikiran saya yang bicara. Hanya pikiran saya yang bergerak, berputar, berlari kesana-kemari. Dan pesanan saya pun datang.

Sekarang saya memiliki ruang dan waktu tak terbatas untuk diri saya. Tak akan ada lagi yang mengganggu, handphone pun saya matikan nada deringnya.

Pertama, saya bertanya pada diri saya sendiri, bagaimana kabar saya. Baikkah? Burukkah? Dan saya tentunya akan memberi jawaban jujur pada diri saya sndiri. Karena jika sampai saya berdusta, maka lebih baik proses detoksifikasi ini tidak perlu saya lakukan.

Yang pertama yang ingin saya lakukan adalah membersihkan diri dan hati saya dari rasa sedih.

Satu per satu saya memikirkan momen momen paling menyedihkan dalam hidup saya. Mengangkat mereka, seolah mereka datang ke tempat di mana saya berada saat ini, sebagai kawan lama, menyapa saya, menjabat tangan saya, kemudian duduk bersama saya menikmati indahnya pemandangan sawah di sore hari.

Saya merasakan ia tersenyum pada saya dan berkata, akuilah aku sahabat. Jangan mengingkariku. Dan tiba-tiba saya menyadari bahwa apabila saya membiarkan dia untuk merasuki diri saya tanpa perlawanan, sesungguhnya ia hanya akan berkelebat saja. Dia tidak akan menyakiti saya lagi. Dia hanya memosisikan diri sebagai penanda bahwa betapa saya kuat karena telah berhasil melewatinya. Betapa berharganya dia. Betapa ia juga melakukan tugasnya dengan sangat baik.

Saya pun membayangkan diri saya memandang kawan saya yang bernama kesedihan ini. Menggenggam tangannya dan berkata, "Tidak apa-apa, saya menerimamu. Terima kasih." Dan dia pun tersenyum kemudian pergi bersama angin.

Kedua, saya ingin membersihkan diri saya dari rasa marah.

Apa saja rekaman momen dalam babak kehidupan saya yang mengakibatkan saya naik pitam, sekarang tergambar nyata dalam pikiran. Dan saya menikmatinya seperti tengah menonton film layar lebar. Di akhir pemutaran film, saya pun tersenyum padanya dan berkata lagi, "Tidak apa-apa, saya menerimamu. Terima kasih."

Langkah ketiga, keempat, kelima saya lakukan dengan perlahan-lahan. Segala perasaan buruk saya perlakukan dengan penuh rasa hormat dan terima kasih yang begitu dalam.

Penyesalan, keraguan, kesalahan, pengkhianatan, segala hal.

Bagaikan meminum jamu, saya tahu rasanya pahit namun ia berguna untuk kesehatan tubuh saya. Jadi itulah fungsi perasaan-perasaan negatif itu, untuk memberikan jiwa saya kesehatan setelah saya mereguk pahitnya.

Dua jam telah berlalu, bahkan makanan saya belum saya sentuh. Yang ada hanyalah keringat yang membasahi tubuh saya juga senyum yang tak pernah bisa hilang dari bibir saya. Saya merasa begitu kosong. Hilang segala beban.

Rupanya kunci dari setiap masalah adalah penerimaan. Bukan pelarian atau penghindaran.

Dan tiba-tiba saya tersadar, jadi beginilah cara Tuhan mencintai kita semua. Dengan segala kesalahan kita, namun selalu ada waktu da kesempatan untuk memperbaiki, selama kita berkenan melakukannya.

Saya pun menghabiskan makanan dan minuman yang tersaji di depan saya dengan penuh rasa syukur. Selama proses itu, berkali-kali saya berkata kepada diri saya sendiri, "Saya mencintaimu. Saya menerimamu. Saya tidak akan pernah meninggalkanmu. Saya akan selalu menjagamu."

Andaikan hati saya adalah kipas angin yang berputar terus menerus tanpa henti, lalu tengoklah sekali waktu dan lihat betapa banyak debu menggumpal pada baling-balingnya. Bila kipas angin itu terus saya gunakan, bukan tidak mungkin udara yang tercipta oleh gerakannya malah justru membahayakan pernapasan saya karena partikel-partikel debu di dalamnya juga turut beterbangan dan masuk ke rongga hidung saya. Jadi, alangkah baiknya apabila kipas angin itu saya bersihkan sekali waktu. Kurang lebih itulah manfaat detoksifikasi diri ini bagi saya.

Tentunya hati saya bisa (dan akan) kotor kembali seperti juga kipas angin itu. Ketika itu terjadi, maka saya sudah tahu cara paling indah untuk membersihkannya.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Detoksifikasi Diri: Saya, Sendiri, dan Sawah yang Sepi.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Safitri Saraswati | @SafitriSaraswati

A Single Mom, A Reader, A Writer, A Bum My blog : dyvafashion.wordpress.com

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar