3.5K
Baru tiga hari. Sudah tiga hari. Ia tak yakin betul istilah apa yang lebih tepat. Rasanya seperti sudah sepanjang hidup.

Apa sih bedanya daun suji dengan daun pandan?

Ia menarik napas panjang. Semua bahan sudah dibeli kecuali satu itu saja. Daun suji. Pergi ke pasar tradisional pun percuma. Ia tak tahu seperti apa rupa daun suji.

Diambilnya ponsel dan dibukanya aplikasi browser. Ia mengetik kata “beli daun suji” di kotak pencarian. Ada di toko online. Tapi, kalau beli online, harus menunggu lama. Ada pertanyaan yang sama di media sosial, tapi tanpa jawaban.

Lama ia menatap bahan-bahan di atas meja dapur. Menimbang-nimbang, apa ruginya untuk tak menggunakan daun suji. Lalu ia kembali mengambil ponsel, kali ini mengetik “kegunaan daun suji dadar gulung” di kotak pencarian. Scroll, scroll. Hmm, ternyata untuk membuat warna hijau pada kulit dadar gulung.

Ia memutuskan untuk memberanikan diri. Ya sudahlah, tidak apa-apa kalau tak sehijau yang seharusnya. Pakai daun pandan yang ada saja.

Ia mengayak tepung terigu ke dalam sebuah mangkuk, kemudian menambahkan garam ke sana. Santan dan telur dicampur.

Oh, sial! Maksudnya santan dimasukkan pelan-pelan ke kocokan telur ya?

Tulisan ibunya yang keriwil-keriwil di buku itu tak bisa terbaca jelas. Bukunya pun lecek tak beraturan. Ada bekas kebasahan di ujung-ujung luarnya. Sedikit bau tengik, mungkin ketumpahan entah masakan apa yang pernah dibuat ibunya.

Telur sudah menggenang di mangkuk berisi santan. Apa boleh buat. Ia kocok saja sekaligus.

Sayup-sayup ia mendengar ayahnya terisak di kamar. Ia terus mengocok santan dan telur, semakin keras, semakin keras, berusaha menenggelamkan suara yang lirih namun memekakkan hatinya.

“Permisi! Paket!” terdengar suara dari depan rumah.

“Ya! Sebentar!” ia berteriak keras dari dapur yang letaknya di bagian belakang rumah.

Ia meletakkan mangkuk dan pengocok di meja dapur kemudian mengelap kedua tangannya. Bergegas, ia setengah lari menuju pintu depan dan membuka pintu.

Seorang kurir berdiri di depan pagar. “Permisi. Dokumen. Atas nama ibu Ratna.”

Ia menelan ludah.

“Dari mana?” tanyanya sambil menarik napas dalam-dalam.

“Asuransi,” kata si kurir.

Wajar. Ibunya baru tiga hari meninggal. Dan perusahaan asuransi bukan cenayang. Tubuhnya yang tadi menegang mulai rileks. Tanpa membuka pagar, ia mengambil dokumen dari tangan kurir dari sela-sela pagar dan menandatangani bukti penerimaan. “Makasih,” ujarnya sambil memaksakan senyum.

“Sama-sama, Bu,” balas si kurir.

Ia masuk ke dalam dan melemparkan laporan asuransi itu ke meja, membiarkannya bergabung dengan tumpukan tugas administrasi lainnya. Tagihan rumah sakit, laporan ke RT dan RW, laporan ke bank.

Ditatapnya jam di dinding. Pukul empat sore. Apa yang biasa dilakukan ibunya sore-sore begini? Ia sudah tak tahu lagi. Sudah delapan tahun ia tak lagi tinggal bersama orang tuanya.

Lalu ia teringat sesuatu.

Ia berjalan ke kamar. Ke kamarnya sendiri. Pintunya tertutup rapat. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pelan. “Pa,” ujarnya, “mau dibuatkan kopi?”

Masih terdengar lirih suara isak ayahnya. Kemarin ayahnya minta bertukar kamar. “Papa nggak kuat tidur di kamar sendiri,” ujar sang ayah. Maka, semalam ia menghabiskan malam dengan mata terbelalak, dikelilingi barang-barang ibunya.

Ia menahan dorongan air mata yang sudah menumpuk selama dua minggu terakhir. Ia menengadahkan kepala dan kembali menarik napas, sambil menunggu jawaban ayahnya.

Setelah beberapa lama terdengar suara sedikit bergetar dari dalam kamar, “Boleh.”

Ia kembali ke dapur, mengambil panci dari gantungan dan mengambil air dari ember penampungan air masak. Sambil menunggu air mendidih, ia mengambil cangkir cokelat yang biasa digunakan ibunya untuk menyeduh kopi. Dua sendok penuh kopi dan satu sendok gula putih. Untunglah, ia masih ingat tanpa perlu melihat buku resep.

Terdengar suara pintu kamar dibuka. Ayahnya berjalan menuju meja makan yang berseberangan dengan meja dapur.

“Masak apa, nak?” tanya ayahnya.

“Dadar gulung, Pa,” ia menjawab.

“Telat, dong. Kopinya sudah mau jadi, dadar gulungnya belum,” cetus ayahnya. Ia baru sadar. Dadar gulung adalah resep andalan ibunya. Yang selalu dibuat sore-sore menjelang waktu ngopi ayahnya.

Ia berbalik menatap ayahnya yang sudah duduk di depan meja makan sambil bermain ponsel. Setidaknya, ayahnya tersenyum.

“Iya nih, telat belanja tadi,” ia menanggapi sambil mengaduk kopi di cangkir. Matanya menatap roti tawar di sudut. Diantarkannya secangkir kopi ke meja makan dan meletakkannya di depan ayahnya. “Atau Papa mau roti bakar aja?” tawarnya.

Ayahnya kembali tersenyum. Tapi matanya tidak. “Cek dulu. Entah kapan itu belinya. Waktu itu beli sama Mama,” ia berkata sambil menerawang ke jendela. Menatap tanaman-tanaman yang layu sejak ibunya sakit.

Ia mengambil roti tawar dan mengecek tulisan di kemasannya. Kedaluwarsa hari ini. Ibunya selalu bilang dulu, “Nggak apa lah, kedaluwarsa sedikit. Biar kuat,” sambil tertawa.

“Masih bisa kok, Pa,” ujarnya.

Roti itu mungkin baru dibeli lima hari lalu. Cara ayahnya berkata “entah kapan” seakan merentangkan jarak waktu lebar-lebar, menegaskan teori relativitas Einstein dengan cara yang sama sekali tak empiris. Tapi efektif. Terlalu efektif.

Baru tiga hari. Sudah tiga hari. Ia tak yakin betul istilah apa yang lebih tepat. Rasanya seperti sudah sepanjang hidup.

Baru tiga hari. Dan rindu menggantung. Sampai entah kapan.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Dadar Gulung dan Kenangan Tentang Ibu". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Anastha Eka | @anasthaeka

Manusia yang menulis. Tak ingin jadi apa-apa, tapi ingin merasakan segalanya.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar