5.4K
Saya berterima kasih kepadanya, karena saya belajar makna baru juga pemahaman baru. Tentang cinta, hidup, dan persahabatan.

Ini bukan tentang menyoal perubahan perasaan pasangan yang resmi mengikat cintanya, tapi tentang cerita seorang teman tentang berubahnya perasaan kepada sahabat dekatnya. Seorang teman bercerita tentang sahabatnya, seseorang dari lain jenis yang selalu ada dalam canda, sedih, ataupun bahagianya. Seseorang yang mendengarkan dengan baik keluhannya tentang kekasih dan mantan kekasihnya. Hal demikian sangat umum terjadi di dunia ini. Tentang kita yang menjadi sahabat juga sebagai seseorang yang menyayangi sahabat lebih dari seorang sahabat.

Saya terlambat menyadari perubahan perasaan saya kepadanya. Ingin kembali ke perasaan awal ketika belum ada apa-apa di hati saya, tapi rasanya tidak bisa.

Jika sudah demikian, harus bagaimana? Saya ingat ada beberapa novel (yang menurut saya juga ditulis berdasarkan beberapa kisah nyata) yang menceritakan hal serupa, hanya ending-nya yang tidak sama. Ada yang berakhir dengan bersatunya dua sahabat sebagai pasangan resmi, ada yang mengakhiri cerita dengan memutuskan untuk tetap menjadi sahabat meskipun rasa yang dimilikinya sudah tak sama.

Tidak ada yang salah dengan berubahnya perasaan dari mengasihi sebagai seorang sahabat menjadi kekasih.

Sikap apa yang akan ditempuh oleh teman saya tentu kembali padanya. Demikian juga kita, yang mungkin saat ini memiliki perasaan senada dengan teman saya. Bisa saja kita memberitahu perubahan perasaan kita kepada sahabat kita (mungkin setengah berat dan berharap sahabat kita merasakan hal yang sama), atau memilih untuk menyimpan perasaan itu karena tidak ingin hubungan persahabatan ternodai oleh rasa yang tak seharusnya.

Perempuan seperti saya mungkin berbeda dengan lelaki. Saya bisa saja salah menangkap bentuk perhatian. Salah memaknai gesture yang diungkapkan sahabatnya. Saya pernah berada di masa itu, kondisi yang sedang dialami teman saya. Saya merasakan perubahan perasaan saya kepada sahabat saya. Saya bimbang, saya merasai perhatian, sikap, ucap yang diberikan kepada saya berbeda. Saya tahu bahwa tidak ada yang salah dengan perubahan perasaan saya. Saat itu, saya memilih untuk clear and clarify saya mengungkapkan ke-GR-an saya atas sikap, perhatian, dan ucapnya. Saya paham konsekuensi bahwa bisa saja persahabatan saya tidak akan sama lagi.

I did that, as a friend

Jawaban sahabat saya waktu itu cukup membuat saya mengerti bahwa perubahan perasaan saya didasari oleh kesalahan pemahaman. Saya tidak menyalahkannya. Saya berterima kasih kepadanya, karena saya belajar makna baru, saya belajar pemahaman baru. Tentang cinta, hidup, dan persahabatan.

Pada masa itu, saya lega, meskipun ada tangis setelahnya. Saya merasa saya harus tetap melanjutkan hidup saya, dan menempatkan sahabat saya di relung hati tempat manusia-manusia yang mengukir hidup saya. Melihat sahabat kita bahagia meskipun cinta kita bukan untuknya adalah salah satu hal yang membuat kita bahagia.

Tidak ada yang salah dengan mencintai, tidak ada yang salah dengan berubahnya perasaan kita. Apa yang akan terjadi kemudian, kitalah yang memegang kendali. Lakukan apa yang kita ingini, jangan sesali langkah yang kita tempuh. Pun jika langkah kita menggoreskan sedikit luka di hati, percayalah, luka itu akan sembuh dengan sendirinya. Dengan indah.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Cinta Pada Sahabat: Tak Ada Yang Salah Dengan Berubahnya Perasaan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Yunita Fauziah | @yunitarahma

Menemukan kebahagiaan dengan melihat kebahagiaan terpancar dari hati di wajah orang-orang terkasih.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar