3.2K
Menemukan rasa nyaman dalam ketidaksempurnaan hidup, itulah sejatinya bahagia - Safitri Saraswati

Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang anak saya. Anak laki-laki yang telah tumbuh besar dalam sekejap mata.

Saya selalu tak bisa sabar menantikan akhir pekan, saat-saat pertemuan kami yang berharga. Masa emas di mana saya akan duduk diam mendengarkan ia berceloteh tentang kisah hidupnya lima hari ke belakang.

Banyak yang bertanya bagaimana cara saya mendidik anak saya sementara kami hanya bertemu setiap akhir pekan.

Sebenarnya simpel saja. Saya memperlakukan anak saya sebagaimana para ibu pada umumnya memperlakukan anak mereka. Saat ia salah, maka akan saya disiplinkan. Bila tiba waktunya berekreasi, maka akan saya ajak ia ke tempat wisata. Bila memang ada sesuatu yang ingin ia beli, tapi saya lihat ia tak terlalu membutuhkannya, maka tidak akan saya belikan sekalipun ia menunjukkan wajah masam tanda protes. Tidak ada yang istimewa, sekalipun kondisi kami tidak seperti layaknya keluarga lain.

Mengapa? Karena saya tidak pernah mau memposisikan anak saya sebagai seorang 'korban', saya selalu mendidik ia menjadi seorang penyintas. A survivor.

Seorang anak yang kuat dan mampu bertahan menghadapi kerasnya hidup ini. Anak yang mendapat hujanan kasih sayang dari semua orang. Lambat laun, anak saya belajar bahwa tidak masalah apapun keadaan keluarganya. Bila ia memang ingin berbahagia maka ia akan berbahagia. Bahwa kebahagiaan datangnya dari dalam, dan tidak akan dapat terbeli atau tertutupi dengan limpahan semu dari luar.

Berangkat dari pemahaman tersebut, saya selalu menjelaskan pada anak saya tentang bagaimana kebahagiaan itu berasal dari dalam, bukan dari luar. Tentu, dengan bahasa yang mudah dicerna seorang anak berusia 7 tahun. Bahwa bahagia bukan hanya tentang bertemu orang tua setiap hari, atau memiliki mainan yang banyak, tapi bahagia adalah bagaimana kita bisa terus tersenyum dan tertawa bagaimanapun keadaan hidup kita.

Bahagia saya definisikan sebagai perasaan menyenangkan yang membuat anak saya tetap bisa melewati lima hari bersama teman-teman sekolah ataupun saudaranya di kediaman ayahnya, dan saat akhir pekan perasaan itu tetap sama saat saya datang menjemputnya dan mengajaknya menginap di rumah saya.

Bahagia adalah sebuah perasaan abstrak yang seringkali sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata, namun ketika saya mencoba untuk merangkai kata yang sekiranya dapat melukiskan arti dari perasaan tersebut, saya mendapati diri merangkai kalimat bahwa bahagia adalah saat kita merasa nyaman, bahkan dalam ketidaksempurnaan hidup sekalipun.

Apa definisi bahagia menurutmu?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bagaimana Saya Menjelaskan Makna Berbahagia Kepada Anak Laki-laki Saya.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Safitri Saraswati | @SafitriSaraswati

A Single Mom, A Reader, A Writer, A Bum My blog : dyvafashion.wordpress.com

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar