2.9K
Ya, sekarang aku tahu mengapa aku masih disini. Melihat mimpi orang lain menjadi nyata dan mendekap erat mimpiku sendiri lalu berharap keajaiban akan terjadi.

Pernahkah kamu bermimpi untuk menjadi bintang? Memamerkan semua yang kamu bisa, sebagai pembuktian diri terhadap orang-orang yang mungkin menganggapmu biasa saja.

Lalu apa yang kamu lakukan saat mimpi itu benar-benar hanya mimpi? Sedih? Marah? Atau mungkin hanya pasrah menerima keadaan?

Aku bukan hanya bisa menjadi apa yang aku mau, tapi aku bisa menjadi apa yang orang lain butuhkan.

Mungkin itu bisa membuatku bangkit dan kembali merasa bahwa aku terlahir sebagai pribadi yang bermanfaat bagi orang lain atau mungkin setidaknya untuk diriku sendiri.

Ya, memang banyak hal yang kita inginkan di dunia ini. Terlebih lagi rasa iri melihat orang-orang di sekitar kita saat mereka meraih sukses. Itu penyakit hati, dari mata turun ke hati. Melihat di sosial media, mereka pamer foto dengan gaya yang selangit. Rasanya timbul sakit hati yang lebih pada rasa iri. Pernahkah berfikir kalau mereka begitu ya mungkin memang mereka mempunyai kelebihan.

Tak sedikit orang memajang foto di sosial media, tentang kehidupan mereka, tentang keberhasilan mereka, atau bahkan kemampuan mereka yang menyita pandangan jutaan mata. Irikah kamu? Aku bukan iri tapi ingin berhasil meraih impianku sendiri. Lalu apa yang sudah aku lakukan untuk meraih impianku?

Ah, aku terlalu banyak bermimpi. Bahkan aku tidak tahu mimpi yang mana yang ingin kuwujudkan terlebih dahulu. So, untuk apa diam saja? Bukankah menggapai mimpi harus mulai melakukan sesuatu? Mulai sekarang. Bukan nanti saat kesempatan datang.

Karena kesempatan yang terlewatkan bukan hanya satu atau dua kali ketika kita berkata nanti.

Ya, sekarang aku tahu mengapa aku masih disini. Melihat mimpi orang lain menjadi nyata dan mendekap erat mimpiku sendiri lalu berharap keajaiban akan terjadi.

Kira-kira begitulah seorang pemimpi yang tak tahu harus memulai dari mana langkahnya untuk bangun dan berdiri, berlari bukan sembunyi.

Bangunkan jiwaku, bukakan mataku, tiupkan ruh kembali ke ragaku. Akan kulakukan sesuatu yang bisa kulakukan. Untuk diriku sendiri, baru kemudian untuk orang lain. Kalau untuk membangkitkan diri sendiri saja tidak mampu, untuk apa berharap menjadi orang yang berguna untuk orang lain. Berubah itu berawal dari diri sendiri, bukan menyuruh orang lain.

Aku menghela nafas, mencoba mengingat lagi apa mimpiku. Menatanya satu per satu di depan mataku. Memilah dan memilih yang mampu kulakukan terlebih dahulu dan membuang yang bukan mimpiku sesungguhnya. Ada, ya, sesuatu yang disebut bukan mimpi sesungguhnya?

Jawabnya ada.

Mimpi itu mungkin datang dari rasa iri: kalau dia bisa, aku seharusnya bisa juga.

Tanpa mengukur kemampuan diri. Itu percuma, hanya membuang tenaga. Atau mimpi paksaan dari orang lain bahkan mungkin dari orangtua. Kamu harus bisa seperti ini, kamu kan anakku yang pintar sudah disekolahkan, sudah dikursuskan, dan sebagainya. Untukku, itu pemaksaan, jika tercapai pun tak akan pernah ada rasa puas. Apalagi jika merasa sangat terpaksa. Bukan bahagia tetapi stres yang didapat. Seperti karir yang berlangsung hanya seumur jagung karena bukan dijalani sebagai panggilan hati, melainkan hanya sebagai pembuktian belaka.

Kembali lagi, mimpi adalah kemampuan diri seseorang untuk mengukur kembali kemampuan dan keinginannya. Bukan melihat dari kemampuan orang lain atau dipaksa untuk memiliki kemampuan tersebut. Jadilah diri sendiri dan mulailah gapai mimpimu, sekarang. Seperti aku juga, yang sedang melakukannya, sekarang.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bagaimana Jika Mimpi Hanya Sekadar Mimpi?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Ayu Candra Giniarti | @marthalenabutikbajuk

Menulis dengan hati dan merasakan dengan kata. Ketika aku menggabungkan kedua unsur tersebut, ada rasa bahagia yang mencuat dari otak kemudian menjalar ke hati.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar