2.3K
Mengapa tak coba menuliskan emosi-emosi negatifmu pada sebuah jurnal untuk membantu berdamai dengan mereka?

Saat menerima buku mungil itu, yang bersampul oranye dan berjudul My Disfunctions, saya serta-merta mengerutkan kening dan bertanya, “Apa maksudnya ini?”

Teman dekat saya, yang membawakannya sebagai oleh-oleh dari perjalanan dinas ke Frankfurt Book Fair, tertawa sambil menjawab, “Aku melihat jurnal ini di sebuah stan. Kurasa cocok untukmu.”

Meski berukuran mungil, buku yang ternyata adalah jurnal itu cukup tebal. Di sampulnya tertera:

My Dysfunctions: A journal for chronicling my immeasurably fascinating dysfunctions, neuroses, emotions, inner children, moments of shame and doubt, projection, self loathing, misanthropy, and completely normal insanity, because the only difference between me and the rest of the population is that I acknowledge how crazy I am and they’re all in mind-numbing denial.

Hmm. Menarik.

Lembar demi lembar di dalam jurnal itu terdiri dari dua bagian: yang kiri sudah diisi dengan berbagai kutipan dari orang-orang terkenal–penulis, aktor, filsuf, musisi, dan lainnya–sedangkan yang kanan didominasi garis-garis untuk diisi oleh si pemilik jurnal.

Lembar-lembar di sebelah kanan diawali dengan kotak untuk diisi tanggal dan sederet kalimat ‘Why I am dysfunctional today:'. Kemudian, diakhiri dengan kalimat 'What would make it better today:’, yang diiringi empat kotak bergambar cangkir kopi, televisi, es krim di mangkuk, dan kartu kredit.

Teman saya ini bisa jadi adalah salah satu teman yang paling tahu apa dan bagaimana diri saya. Dia tahu bahwa saya adalah manusia berkepercayaan diri rendah, yang mudah terpengaruh kata-kata orang lain, cepat menyalahkan diri sendiri, dan memiliki tendensi amat sangat besar untuk mengasingkan diri di tempat paling terpencil di ujung dunia.

Satu-satunya yang membuat saya belum melakukannya adalah fakta bahwa saya mudah digigit nyamuk dan masih menggantungkan hidup kepada koneksi internet.

***

Kata pengantar di awal jurnal itu menyebutkan bahwa My Disfunctions memang dibuat untuk diisi dengan segala hal yang membuat diri kita berhenti berfungsi normal. Pengakuan atas kegelisahan, hal-hal memalukan, pikiran-pikiran destruktif. Yang sebaiknya dienyahkan dari pikiran, tapi melakukannya jadi tak mudah karena kita tak ingin orang lain tahu tentang hal-hal itu.

Maka, mekanisme termudah untuk memastikan bahwa hal-hal negatif itu benar meninggalkan diri–bukan hanya disembunyikan di balik karpet-karpet berdebu dalam pikiran kita–adalah dengan menuliskannya di jurnal. Katanya, menulis jurnal dapat mengurai simpul-simpul kusut pikiran kita menjadi cerita yang koheren, menumpulkan dampak emosional dari suatu kejadian, dan pada akhirnya, mengarahkan si penulisnya menuju keutuhan hidup sesuai ritmenya sendiri.

Beberapa tahun lalu, saya juga pernah melewati serangkaian sesi hipnoterapi yang diakhiri dengan sebuah pekerjaan rumah. Selama dua bulan, setiap malam sebelum tidur, saya harus menyempatkan diri untuk menuliskan hal-hal yang saya syukuri pada hari itu. Saya melakukannya selama dua bulan berturut-turut. Setelah itu, saya berhenti. Namun, saya sekali-sekali melakukannya kembali, hingga saat ini.

Tujuannya apa?

Agar sebelum pergi tidur, saya menutup hari dengan rasa syukur, sekecil apa pun itu.

Berhasilkah? Tak selalu.

Jika hari itu cenderung netral atau bahkan menyenangkan, saya bisa dengan lancar menyebutkan apa-apa saja yang saya syukuri. Nah, yang jadi masalah kalau ternyata hari itu saya sedang sial-sialnya. Dengan susah payah saya mencari-cari apa yang bisa saya syukuri dan secara tak sadar, malah merepresi perasaan-perasaan buruk yang saya alami hari itu. Akhirnya, rasa syukur tak cukup kuat menguasai diri dan si perasaan-perasaan buruk pun, boro-boro mau pergi. Karena tak dikeluarkan, mereka tetap berada di sana, cuma saya pura-pura tidak menyadarinya saja.

Tidaklah aneh jika kita mengalami hal memalukan, merasa cemas, bahkan merasa putus asa. Semua itu wajar karena manusia memang diciptakan memiliki perasaan-perasaan itu. Tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang tiap detik dalam hidupnya diisi dengan bahagia, penuh syukur, tak dihampiri duka nestapa. Tidak ada. Bahkan Mario Teguh atau Aa Gym sekalipun.

Kutipan-kutipan dari orang-orang terkenal dalam jurnal My Dysfunctions ini seolah membuktikan hal yang sama.

Insane people are always sure they’re just fine. It’s only the sane people who are willing to admit they’re crazy.

Begitu kata Nora Ephron, salah satu penulis kesukaan saya, seperti dikutip dalam jurnal ini.

Kata-kata mereka memang mengungkapkan segala bentuk sinisme, negativisme tentang hidup. Dan wajar jika mereka, sebagai manusia, pernah memiliki pikiran dan emosi begitu. Kalau mereka tidak malu mengungkapkannya, kenapa kita mesti malu? Itu pun, hanya kita tuliskan di jurnal, yang bisa saja tidak kita tunjukkan kepada orang lain.

***

Selama memiliki jurnal itu, belum ada sepuluh kali saya mengisinya. Namun, setiap kali berkesempatan mengisi, saya lakukan dengan sepenuh hati. Semua entri di dalamnya benar-benar memuat kegelisahan yang melumpuhkan bagi saya. Yang tak kunjung hilang meski berusaha saya alihkan dengan bekerja atau curhat dengan kawan.

Hasilnya? Ketika membaca kembali entri-entri itu, saya tak lagi memiliki emosi yang sama seperti saat menuliskannya. Emosi-emosi negatif sudah tak terasa lagi. Hampir semua peristiwa dan emosi dalam jurnal itu pun sudah terselesaikan. Muncul sedikit rasa bangga bahwa, entah bagaimana, saya bisa memecahkan simpul-simpul ruwet yang pernah saya tuliskan di sana.

Ternyata, tidak ada yang salah dengan mengakui, bahkan menuliskan, masalah-masalah kita di jurnal. Mungkin, saat kita menuliskannya, alam bawah sadar kita pun merentangkan lengannya dan memeluk masalah-masalah itu. Dan penerimaan itu lah yang mendorong kita untuk berdamai dengan kondisi diri dan mencari cara untuk menyelesaikannya.

Kamu mungkin tak perlu jauh-jauh pergi ke Eropa untuk membeli sebuah jurnal atau menunggu orang terdekatmu membelikannya sebagai oleh-oleh. Cobalah mulai dengan buku catatan yang masih kosong itu, yang kaudapat sebagai suvenir dari pernikahan temanmu. Lalu, tuliskan satu demi satu kata yang mewakili rasa gelisah di hatimu.

Tulislah. Dan berdamailah.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Apakah Fungsi Dirimu Terganggu Hari Ini?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Anastha Eka | @anasthaeka

Manusia yang menulis. Tak ingin jadi apa-apa, tapi ingin merasakan segalanya.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar