1K
Sebuah perasaan dirindukan, diharapkan, dan dibutuhkan. Mungkin itu persisnya sumber energi saya menempuh hujan badai dan macet Surabaya tetap dengan senyum di bibir.

Bisa dibilang, ini kepulangan saya ke kampung halaman paling dramatis nomor dua, setelah kepulangan yang tertunda sesaat sebelum Papa dipanggil Tuhan.

Setelah mengetahui bahwa tiket kereta dan travel ludes, saya harus menjadikan bus sebagai opsi tunggal pengganti. Dari pagi saya sudah menyiapkan segala sesuatunya, dari barang bawaan hingga planning ke terminal bus. Saking seriusnya untuk kepulangan ini, pertama kalinya dalam beberapa tahun kerja, saya menempelkan sidik jari di mesin pencatat presensi, tepat 15.30 sesuai jam pulang.

Sayangnya, persiapan manusia tak menjadi penentu satu-satunya bagaimana sebuah perjalanan akan berlangsung.

Langit tiba-tiba menggelap saat rute menuju ke terminal masih agak jauh. Seperti dugaan, hujan lebat mengguyur. Diantar kendaraan online, saya merasa bersyukur mendapat driver yang amat baik. Dia menyerahkan jas hujan satu-satunya untuk saya. Dia berkali-kali minta maaf, dan dengan beragam cara memastikan perjalanan saya nyaman. Padahal, cuaca buruk yang seketika menghadang samasekali bukan kesalahannya.

Bukan hanya hujan, seperti tipikal ruas jalan Surabaya ke arah Sidoarjo pukul 17.00, jalanan sangat padat dan kerap membuat geram. Tak terlalu masalah dengan kemacetan, toh itu kondisi yang jadi konsekuensi banyaknya kendaraan di sebuah kota yang diisi banyak perantau. Hanya saja, ketidaksabaran dan ketidaktaatan memperburuk kondisi itu.

Dengan basah kuyup terkhusus di bagian kepala dan lutut ke bawah, saya sampai di Bungurasih (terminal bus antar kota). Saya bergegas melangkahkan kaki tanpa merasa perlu untuk berlari, sebab kondisi saat itu sangat ramai dan lantaipun amat licin.

Saya kira saya akan segera duduk di bus, sayangnya saat melihat lebih jeli melintasi jendela kaca, bus ke arah kota saya berasal, baru saja melaju. Artinya saya harus menunggu beberapa saat bus datang dan kemudian menunggu lagi semua bangku terisi penuh.

Di tengah semua itu, saya coba keringkan rambut dengan tisu sembari memperhatikan lalu-lalang banyak orang. Entah mereka yang hendak pelesir ataupun pulang ke kampung halaman. Sejujurnya, saya tidak menyangka bahwa terminal ternyata juga dapat membawa aroma kontemplatifnya sendiri, tak kalah dengan bandara.

Kepulangan ini membuat saya begitu antusias. Saya sendiri heran, sebagai seseorang yang jarang rindu rumah, bagaimana mungkin saya bisa serela ini berjuang untuk pulang.

Jika dibilang, pulang karena kenyamanan rumah, sepertinya tidak juga. Pasalnya durasi paling banyak saya habiskan bukan di rumah namun di toko kue keluarga. Jika dibilang, pulang karena kehangatan keluarga, saya rasa juga kurang tepat. Hanya ada mama dan kakak laki-laki dari mama. Cengkrama hangat pun mungkin sesaat sebelum tidur atau saat di meja makan.

Mungkin alasan kuat kepulangan saya kali ini adalah, deretan telepon atau sms yang terus bersuara di hari, pekan, dan bulan sebelumnya. Sebuah perasaan dirindukan, diharapkan, dan dibutuhkan. Mungkin itu persisnya sumber energi saya menempuh hujan badai dan macet Surabaya tetap dengan senyum di bibir.

Bus yang saya tunggu tiba!

Saya memilih duduk dekat jendela, seperti biasanya. Lalu sembari bus terisi, di jalur sebelah, saya lihat antrian yang luar biasa panjang. Saya melihat deretan orang yang air mukanya sungguh menanti bus segera tiba dan mengantar mereka. Kondisi mereka tak jauh berbeda dengan saya, basah dan agak berantakan. Merekapun adalah pejuang-pulang yang harus menghadapi cuaca tak bersahabat.

Entah apa alasan pulang di benak mereka. Bisa soal nyaman rumah, kehangatan keluarga, atau mungkin perasaan dirindukan. Apapun itu, satu yang jelas, PULANG memang selalu menjadi kenikmatan yang tak terelakkan bagi mereka yang menghabiskan hidup di tanah perantauan.

Pulang selalu mengingatkan bahwa ada yang akan menerima kita apa adanya, bahwa di tengah hidup yang kadang mengaburkan alasan untuk bertahan, kita akan selalu punya tempat untuk meletakkan pundak yang lelah.

Kepulangan kali ini juga mengingatkan saya, suka tak suka satu per satu wajah yang ingin kita temui akan pergi dan aroma kamar serta rumah kita juga akan berubah. Maka, selama bisa dan mungkin, lebih baik tidak menyia-nyiakan hangat pelukan rumah dan orang-orang di dalamnya.

Bus yang saya tumpangi mulai melaju. Dalam hati saya menjerit: "Rumaaaah, aku segera tiba!"


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Alasan Memperjuangkan Sebuah Pulang". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Claudya Elleossa | @claudyaelleossa

Mencintai literatur dan Indonesia. Guru muda sanguin-koleris yang memiliki 150 mimpi untuk dicapai. Aktif membagi gambar dan mudah dihubungi melalui instagram @adiss_cte

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar