821
Badanmu ini hanya pinjaman, lho. Kalau mau memperpanjang masa pakainya, ya, dirawat!

Tadi pagi, ketika saya mengeluh tentang tubuh yang pegal dan kaku, jawaban seorang teman yang rumahnya saya tumpangi menampar saya kuat.

"Badanmu itu hanya pinjaman, lho. Kalau mau memperpanjang masa pakainya, ya, dirawat!" omelnya sembari mendekati dan memijat pundak saya.

Dia tak pernah mengambil pelajaran formal tentang saraf dan tubuh, tetapi cukup peka dan sadar dengan tubuhnya. Bisa dibilang, ia pandai memijat tanpa perlu didikte bagian mana yang sakit. Sembari memijat, dia melanjutkan omelan, “Kalau minjam itu, ya, bayar biaya sewa, dong. Jangan mangkir dan cuma tau memakai!” tambahnya lagi.

“Peredaran darahmu nggak lancar. Kamu pasti beberapa waktu belakangan ini jarang olahraga.” Alia menggerutu.

Sembari meringis, saya mengingat-ingat kapan terakhir kali saya yoga. Oh, rupanya kesibukan bulan ini menyita hampir seluruh waktu saya. Sesi jalan pagi akhir-akhir ini juga terhitung pendek. Ucapan Alia ada benarnya. Sebulan lalu saya menunggak bayaran pemakaian tubuh. Pantas dia berulah.

Alia mengakhiri pijatannya dengan tepukan keras. “Setengah jam sehari kamu harus berkeringat! Terserah mau jungkir balik atau apapun. Pokoknya bayar harga itu, agar jangka waktu ini, nih," ujarnya sambil menunjuk tubuh saya, "jadi awet.”

“Limpa itu kerjanya menyaring penyakit. Kalau kamu tak bergerak, sisa-sisa penyakit itu mengendap di sana. Suatu waktu jumlah mereka cukup banyak untuk mengadakan pesta besar yang pasti merusak. Sebut saja kanker,” tuturnya lagi seraya berlalu.

Teguran sering datang lewat banyak hal. Kadang-kadang sesederhana pundak dan punggung yang pegal. Sudahkah Anda berkeringat hari ini?



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Agar Bugar, Bayar Harga Sewa Tubuhmu.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Natalia Oetama | @Natalivy

Pecinta senja, pengamat langit, petualang hidup, penyuka gerimis, penggemar puisi. Baginya menulis itu terapi agar tetap waras dari pesta pora di kepala.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar