1.3K
Salah satu cara menghentikan manusia berkembang adalah dengan menghentikan rasa ingin tahunya. Dengan membuat manusia tak lagi ingin (atau tak lagi berani) mengajukan pertanyaan demi pertanyaan.

Sewaktu kecil, buat kita, dunia ini seperti wonderland. Dunia yang penuh keajaiban. Dunia yang tak pernah berhenti menggairahkan kita--yang membuat kita terkagum-kagum akan segala sesuatu: sesederhana apapun kelihatannya sesuatu itu.

Kita dipenuhi indahnya rasa ingin tahu. Ingin tahu tentang apa, siapa, bagaimana, di mana, tentang bagaimana dunia ini bekerja. Kita mengajukan pertanyaan tanpa henti--dan kita tak mudah puas dengan jawaban yang diberikan orang lain. Kita tak percaya begitu saja. Kita selalu mengejar, mengapa begitu? Mengapa harus begitu? Mengapa tak begini?

Tak henti-henti, kita haus belajar. Haus memahami. Kita ingin tahu lebih banyak, ingin mengerti lebih dalam, ingin mengeksplorasi dan menemukan jawaban kita sendiri.

Sampai suatu hari, di usia remaja atau dewasa, kita berhenti. Berhenti bertanya. Berhenti tertarik. Berhenti ingin tahu.

Ketika kita menyadari bahwa kita telah berhenti mempertanyakan banyak hal dan tak lagi ingin tahu perihal bagaimana hidup bekerja, kita perlu waspada. Ketika kita sudah merasa percaya, puas, dan yakin hanya karena mendengarkan jawaban atau ujaran dari orang lain, kita perlu waspada. Ketika manusia berhenti bertanya, berhenti ingin tahu, berhenti mencari tahu... maka perkembangan kita pun terhenti.

Salah satu cara paling efektif untuk menghentikan manusia berkembang adalah dengan menghentikan rasa ingin tahunya. Dengan membuat manusia tak lagi ingin (atau tak lagi berani) mengajukan pertanyaan demi pertanyaan.

Karena saat kita berhenti ingin tahu, berhenti mempertanyakan sesuatu, berhenti mencari tahu, kita akan begitu mudahnya menerima dan percaya saja akan apa yang dikatakan atau diajarkan orang lain. Kita tak lagi memiliki kualitas kanak-kanak yang luar biasa itu dalam diri kita: kualitas untuk terus belajar, terus mencari tahu, untuk berpikiran kritis dan terbuka.

Dan bukankah kanak-kanak adalah kanvas paling bersih dan jujur yang mengingatkan kita tentang bagaimana sesungguhnya manusia diciptakan, dengan naluri-nalurinya?

Kanak-kanak tak bertanya untuk puas dengan jawaban pertama, dengan jawaban seadanya. Kanak-kanak tak bertanya untuk membuktikan dirinya benar. Kanak-kanak jujur bertanya karena mereka ingin memahami cara dunia bekerja. Mereka ingin tahu tentang mengapa di balik semua jawaban, karena mereka tertarik mencari kebenaran. Dan pencarian kebenaran, sesungguhnya, adalah perjalanan tiada akhir.

Ketika kecil, kita semua merupa ilmuwan sejati, yang kagum ketika melihat sesuatu, tertarik untuk memahami, bertanya, bertanya, mencari tahu, bertanya, bertanya, bertanya, mencari tahu, dan tak pernah puas bahkan ketika kita menemukan jawaban. Karena setiap jawaban, selalu melahirkan pertanyaan baru.

Pertanyaannya: kapan tepatnya, dalam hidup, kita berhenti menjadi ilmuwan kehidupan?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Waspadalah Jika Kita Tak Lagi Merasa Ingin Tahu dan Berhenti Mempertanyakan Segala Sesuatu.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Hanny Kusumawati | @hannykusumawati

Managing Editor of Kamantara.ID. A published writer and blogger at www.beradadisini.com. Organises workshops & weekend getaways in creative/travel/mindful writing & creative living.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar