749
Laut terdalam yang tak surut memberi penghidupan adalah kasih sayangmu yang tiada bandingan. Selamat Hari Ibu untuk Mama. Semoga selalu berlimpah bahagia.

Sederhana saja doaku, Ma. Sesederhana engkau mencintaiku tanpa jeda, sesederhana aku mencintaimu dengan cara beda. Kita adalah dua manusia yang tak sama, meski darah kita mengalir senada, seirama. Saat aku mengungkapkan cinta dengan puisi dan bunga, kau berkata bahwa hidup tak semudah kata-kata belaka. Saat kuanggap kau terlalu serius menakar rasa, kupikir kita butuh tertawa bersama, agar selalu muda dan panjang usia.

Ya. Kita memang sangat berbeda.

Secara kasat mata, aku berpostur jauh lebih besar dengan sifat sangat terbuka. Aku menyukai warna-warna terang, dalam, dan berkespresi secara total. Apa yang kukatakan terdengar tegas namun membuai. Sementara engkau adalah wanita paling sederhana di dunia. Tak pernah ada seulas make-up memanipulasi wajahmu yang ayu, dan kalimatmu mengalir pelan disertai pemikiran yang dalam. Sorot matamu selalu redup menyimpan rahasia, sementara kerling mataku terlalu tajam untuk ditafsirkan.

Aku tipe petarung sekaligus petualang ulung, dan kau adalah benteng pelindung. Kita berbeda dalam segalanya, kecuali dalam cinta.

Maka cintalah yang membuat tubuh kita sebagai pelabuhan. Tempat keangkuhan selalu berpulang mencari kedamaian, sebab katanya pelabuhan lebih kokoh daripada kapal-kapal yang butuh bersandar. Mama, beragam ujian yang pernah mengiringi langkah kita adalah pasir lautan yang biarlah hanyut terbawa arus, lupakan bahwa karang pernah melukai kaki kita, lihatlah betapa langit maha luas dan birunya mampu menggenapkan perasaan-perasaan yang kurang.

Mama. Meski kita kerap berselisih paham dan tak satu pemikiran, aku sungguh bersyukur Tuhan menciptakan Mama untuk memahamiku dengan segala kekurangan. Aku anakmu yang nakal, aku anakmu yang keras kepala, aku anakmu yang sering membuat emosi tak terkendali, aku anakmu yang kerap membuat keputusan-keputusan sendiri. Aku tahu kau pernah kecewa padaku, Ma.

Tapi, biarlah itu menjadi proses belajarku serta menjadi ladang pahalamu.

Setelah aku dewasa, aku paham semua risiko masa muda. Bukankah kau pula yang mengajarkan aku memaafkan semuanya? Kini aku kembali tegak, menjangkau alur hidup selaksa ombak. Dan kau Mama, tetap setia berdiri di balik punggungku; menantiku pulang seusai tualang, mengusap peluhku saat kelelahan, serta menangkapku bila terjatuh atau tumbang.

Di Hari Ibu ini aku memohon pada Tuhan agar melingkupimu dengan kebaikan serta umur yang panjang. Doa kedua aku tekankan berulang-ulang. Kenapa? Karena aku ingin diberi waktu lebih lama untuk membuatmu bahagia. Aku ingin kau bisa menggendong anak-anakku yang lincah dan manja. Aku ingin menjadi hal-hal yang sering kaubayangkan meski aku gagal menjadi sempurna.

Hari ini pula aku akan menyusulmu ke Singaraja. Barangkali seikat mawar yang tak kau suka tetap kubawa untuk mewakili cinta yang selalu merekah. Aku mencintaimu, Mama. Dan sedikit menukil puisi karya penyair Umbu Landu Paranggi, bahwa “cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan...”


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Untuk Mama di Hari Ibu: Mama, Pencinta yang Tabah". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Puput Palipuring Tyas | @poetsoenarjo

Editor at Zetta Media. Nomadic storyteller based in Bali and East Java. Travel for local food, culture, people, arts, and traditional market.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Crystal Monica | @alibabaalibabi

Malam Tahun Baru