8.9K
Kita menapaki jalan yang berbeda. Yang sama adalah, kita menjalani jalan yang kita pilih dengan suka ria.

Kakak,

Kita dikandung selama 9 bulan dalam rahim yang sama. Kita mendapat ASI dari puting yang sama. Kita dibacakan cerita dari mulut yang sama. Kita disuapi makan dari tangan yang sama. Tetapi segala macam persamaan itu tidak membuat kita benar-benar sama.

Kamu perempuan, saya perempuan. Sayangnya, kamu angka, saya sastra.

Jamak saya dengar, "Lho, Dwi, kakakmu pinter, kok nilaimu jelek begitu?" atau "Belajar dari kakakmu sana, biar ketularan pinter," atau "Kakakmu dulu bisa ini itu, lho. Kamu juga harus bisa," dan segala pernyataan hingga pertanyaan yang bernada serupa.

Bila harus jujur, saya bosan mendengarnya.

Saya mengagumi bagaimana kata yang disusun sedemikian rupa bisa menghasilkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca. Sementara kamu mengagumi bagaimana angka yang diolah dengan berbagai cara mampu menjelaskan fenomena-fenomena di dunia.

Kita ini dua sisi mata uang yang tidak bisa dilihat secara bersamaan untuk dibandingkan. Tetapi, sayangnya, hidup dengan membandingkan kakak dan adik masih dianggap sebagai hal yang wajar. Dan di dunia yang kita tinggali ini, angka masih dipuja-puja sementara sastra entah pilihan keberapa.

Eh, jangan dulu bersedih atas keluh-kesah adikmu ini, Kakak. Saya tidak menyesali kehadiranmu yang terkadang menjadikan saya merasa dipandang sebelah mata. Tidak.

Lambat laun, saya mengerti. Meski rahim yang mengandung, puting yang mengalirkan ASI, mulut yang membacakan cerita, atau tangan yang menyuapi kita sama, perbedaan pasti ada. Dan tidak masalah juga jika angka dianggap lebih berharga daripada sastra.

Saya sudah tahu, yang terpenting adalah kita sama-sama menapaki jalan yang sungguh-sungguh kita minati--dan nikmati.

Pada akhirnya, bila nanti saya butuh seseorang untuk menangani urusan angka dan tetek-bengeknya, saya bisa mengandalkanmu, Kak. Dan bila kamu butuh seseorang untuk sekadar bertanya tentang bagaimana mengirim pesan tertulis yang romantis pada pasangan, janganlah sungkan datang.

Kakak,

Kamu adalah pembanding yang tidak sebanding. Kita menapaki jalan yang berbeda. Yang sama adalah, kita menjalani jalan yang kita pilih dengan suka-ria.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Untuk Kakak Perempuan Saya: Pembanding yang Tidak Sebanding". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Dwi Lestari | @dwilestari7897

Bukan siapa-siapa, cuma pencerita.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar