6.3K
Salam sayang dari anak perempuanmu.

Ayah,

Kau adalah representasi dari ksatria sejati dalam hidup saya. Yang berjuang keras demi orang-orang yang kita sebut keluarga. Yang menepis resah demi menguatkan batin kami. Yang berusaha mengahalau rasa ingin menyerah dalam dirimu sendiri demi tercukupinya kebutuhan kami.

Ayah, anak perempuanmu ini sedang berjuang menjalani kehidupan barunya. Sudah tidak menjadi anak perempuan yang selalu kau belai rambutnya sambil membacakan cerita. Sudah tidak menjadi anak perempuan yang selalu meminta uang untuk sekedar membeli sabun cuci muka.

Anak perempuanmu ini sedang berjuang untuk masa depannya, Ayah. Maka ikhlaskanlah bila hari-hari kita tak lagi dipenuhi canda tawa. Saya terkadang sibuk dengan urusan saya sendiri hingga larut malam. Saya sibuk dengan dunia yang menuntut saya ini dan itu.

Tetapi, Ayah,

Setiap perjuangan selalu memilikki ceritanya masing-masing. Pun begitu dengan perjuangan saya. Seperti biji, ada resah dan rasa ingin menyerah yang mulai berkecambah.

Saya meresahkan diri saya sendiri. Apakah tindakan dan keputusan saya sudah tepat? Apakah ucap dan laku saya pantas? Rasa ingin menyerah pun tak kalah beringas menghantui saya. Campuran dari lelah hati dan lelah fisik yang terkungkung sedari lama.

Tetapi lagi-lagi, Ayah

Engkaulah sosok yang selalu saya ingat kala resah dan rasa ingin menyerah semakin bertambah. Mengingatmu mampu menguatkan jiwa saya. Kala hal-hal sepele semacam tuntutan tugas kuliah hingga tuntutan dari atasan kerja menghantui, kau yang kuingat, Ayah. Perjuanganmu mencari biaya wajib belajar 12 tahun, hingga keinginan saya untuk menambah 4 tahun di perguruan tinggi pun kau turuti. Maka berdosalah saya bila putus di tengah jalan sementara kau sudah mati-matian mengiringi.

Saya mengingat bagaimana peluh berjatuhan dari wajahmu sepulang bekerja. Saya mengingat bagaimana semakin hari tubuhmu semakin renta. Saya mengingat semua nasihat dan wejanganmu. Saya mengingat senyum bahagiamu ketika melihatku naik ke atas podium untuk menerima piala juara. Saya mengingat raut wajahmu--campuran sedih dan bahagia--ketika mengantar saya di depan stasiun kereta untuk pergi merantau di tanah ibu kota.

Ayah,

Sebulan dari sekarang, saya akan pulang. Kita akan menjalani ibadah sahur dan buka puasa bersama-sama. Saya pulang bukan hanya untuk menghabiskan waktu liburan saja, tetapi juga mengisi ulang jiwa saya. Mengisi amunisi yang dapat menepis resah dan menghalau rasa ingin menyerah dalam diri saya.

Bila dengan mengingatmu saja dapat menghilangkan itu semua, apa jadinya bila kita bersua dan bertatap muka?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Untuk Ayah: Yang Selalu Saya Ingat Kala Resah dan Rasa Ingin Menyerah Semakin Bertambah". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Dwi Lestari | @dwilestari7897

Bukan siapa-siapa, cuma pencerita.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar