1K
Jangan pernah meragukan kekuatan sebuah doa.

Hari ini, saya teringat sebuah perbincangan yang luar biasa dengan seorang kawan. Entah dari mana atau bagaimana, tiba-tiba di sela percakapan kami terlontar pertanyaan, sebenarnya untuk apa kita berdoa?

Apakah hanya di saat kita bersedih? Saat tertimpa kesusahan, kemalangan, musibah? Apakah kita mengingat-Nya hanya ketika membutuhkan pertolongan-Nya?

Saya yakin, dengan sebutan apapun kita memanggil-Nya, bagaimanapun cara kita menyembah-Nya, kita sejatinya layak selalu mengingat-Nya dalam keadaan apapun, susah maupun senang. Saya sepakat dengan hal ini, tak terkecuali dengan kawan saya.

Kami bersepakat bahwa kita bisa berdoa pada momen apapun dalam hidup kita. Namun, esensi dari doa sebenarnya adalah bersyukur. Berterima kasih atas apapun yang telah Tuhan berikan. Kesusahan maupun kesenangan, semua berguna untuk kita. Kita perlu menyadari bahwa dunia ini adalah dualitas. Tidak ada yang absolut di sini: segalanya punya dua sisi, dan kita harus mengecap semua.

Saat kita menerima kehidupan yang baik, berterimakasihlah karena kita dipermudah dalam menjalani kehidupan dengan keberlimpahan yang dimiliki. Namun, ketika roda kita berputar ke bawah, tetaplah bersyukur, karena dengan begitu kita diingatkan betapa kita pernah memiliki begitu banyak nikmat. Mungkin kita selama ini lupa akan nikmat-nikmat ini, karena sibuk mengejar sesuatu yang kita pikir lebih indah; padahal belum tentu benar begitu.

Saya mempelajari rumus kehidupan.

Bahwa semakin banyak kita bersyukur, semakin banyak pula Semesta akan memberi. Saat saya berada dalam masa-masa sulit, saat sedang susah-susahnya bertemu anak saya, saya terus-menerus meratapi nasib, mengapa begini, sampai kapan begini, dan lain sebagainya. Tanpa saya sadari, itu justru mengumpulkan energi negatif dan ya, semakin saya mengeluh, semakin pelik hidup terasa.

Saya memberanikan diri untuk merubah mindset saya, karena saya yakin semua berawal dari diri saya sendiri dan juga berakhir pada diri saya sendiri. Saya adalah hulu sekaligus hilirnya. Semua yang berawal dari saya, juga akan bermuara kepada saya.

Hal pertama yang saya lakukan adalah bersyukur bahwa setidaknya saya diberikan pengalaman hidup yang luar biasa. Menikah dan punya anak adalah pengalaman mahal yang tak akan terbayar dengan apapun. Alih-alih merasa malu karena pernah mengalaminya dan gagal, saya justru bersyukur karena setidaknya saya "sempat" belajar tentang bagaimana rasanya membangun rumah tangga dan melahirkan serta merawat seorang anak.

Saya mengintrospeksi semua kesalahan yang saya lakukan. Saya hindarkan diri dari menyalahkan orang lain, karena kembali lagi pada pemahaman awal, bahwa semua berawal dari saya. Ya, saya. Dan saya harus mau dan berani mengakuinya dengan lapang dada.

Selama 4 tahun saya hidup terpisah dari anak saya, bertemu hanya sebulan sekali atau dua kali, saya pun bersyukur karena diberikan kesempatan untuk jatuh cinta lagi. Dan ketika semua saya syukuri, kehidupan terasa sangat indah. Lalu, apakah berakhir sampai di sana? Semua baik-baik saja dan saya mendapat semua yang saya inginkan? Tentu tidak. Ingat, dunia adalah dualitas, ada kebahagiaan pasti ada kemalangan.

Tepat di saat saya mendapatkan ijin untuk mengasuh anak saya setiap minggu, termasuk saat liburan sekolah, kekasih saya menyatakan keinginannya untuk menikahi saya. Saya tidak serta-merta menyalahkan kekasih saya apabila sulit baginya untuk menerima anak saya masuk ke dalam kehidupan kami. Namun, saat itu, saya berpikir sebagai seorang ibu. Kewajiban mengasuh anak saya harus saya prioritaskan.

Dan berpisahlah saya dengan kekasih saya.

Tidak ada kesedihan, karena saya menghargai hak seseorang atas dirinya. Terkadang, dalam hidup, tidak semua yang kita cintai harus ada dalam genggaman kita. Dan bila hidup adalah pilihan, maka saya lebih memilih kewajiban saya sebagai seorang ibu ketimbang hak saya sebagai seorang perempuan. As simple as that.

Kini, mantan kekasih saya telah berbahagia dengan kekasih barunya. Saya pun bahagia dengan kehidupan saya sebagai seorang ibu tunggal. Meskipun hanya tinggal bersama anak saya tiap akhir pekan dan juga selama liburan sekolah, tapi sungguh, semua itu lebih dari cukup. Dan saya amat berterima kasih.

Mendengar cerita saya, kawan saya berlinangan air mata. Saya pun juga. Dan kami lagi-lagi bersepakat bahwa Tuhan selalu ada, dalam susah maupun dalam senang. Maha Baik Tuhan. Jadi, jangan ragu mendekat pada-Nya di saat apapun dalam hidup kita. Selama kita bersyukur, maka Tuhan pun akan memberikan lebih banyak lagi. Pahami bahwa kesenangan dan kesusahan, semua adalah berkat.

Kita bisa belajar dari keduanya, untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Jadi, untuk apa berdoa ? Untuk merayakan hidup kita yang luar biasa.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Untuk Apa Sebenarnya Kita Berdoa?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Safitri Saraswati | @SafitriSaraswati

A Single Mom, A Reader, A Writer, A Bum

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar