10.1K
Bertahun lalu saya duduk terpekur di depan ka’bah di Masjidil Haram, Mekkah. Dari hati muncul permohonan tulus kepada-Nya, “Tuhan, tunjukkan kepada saya bagaimana cara membaca Al Qur’an yang benar. Karena saya tidak percaya Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang sekaku ini.”

Ketika itu terlintas berbagai pelajaran agama yang sampai di telinga saya. Tentang surga dan neraka. Tentang amal baik dan dosa. Tentang Islam dan kafir. Tentang khusyuk dan apabila lupa barang sedikit maka amalan tak diterima. Dan sebagainya.

Saya yakin Al Qur’an itu haqq, sebuah kebenaran. Namun, seperti yang disebut dalam kitab tersebut, Tuhan sesuai dengan sangkaan hamba-Nya. Sangkaan saya, seperti yang sering diucap setiap memulai sesuatu dalam tradisi Islam, Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Saya minta Tuhan agar saya dapat membaca alam ini sesuai sangkaan itu.

Tampaknya Tuhan mendengar saya. Karena sejak itu, hidup saya mengalir dari satu jawaban ke jawaban berikut dari permintaan saya tersebut. Dia menjadi Penuntun (Al Hadi) yang membawa saya beperjalanan. Dengan lembut, Dia menunjukkan ke mana saya melangkah, apa yang perlu diperhatikan, dan apa makna semua ini.

Kerinduan untuk dekat dengan Tuhan hadir menjelang akhir masa kuliah saya. Didorong oleh keresahan kala itu. Bapak baru meninggal. Saya tengah menyelesaikan skripsi. Saya mencari ketenangan – dan ketenangan sering saya dapatkan ketika duduk sendiri; terutama kala itu di masjid kampus. Sejak itu, saya senang duduk diam menghadap Tuhan. Berbincang, meminta, mendengarkan, atau sekadar mengada.

Waktu berjalan, namun kerinduan tak pernah padam. Hanya saja, saya melihat begitu banyak kontradiksi yang tidak bisa saya pahami. Perilaku manusia yang kerap menimbulkan tanda tanya dan keterkejutan. Ada keresahan bercampur keingintahuan dan keyakinan ada sesuatu di balik ini yang lebih luhur. Semua ini mendorong saya untuk terus mencari dan mengikuti remah-remah roti yang ditebar oleh kehidupan bagi saya.

Saya lantas dipertemukan dengan guru-guru yang menerangkan betapa Islam itu penuh cinta kasih. Bagaimana membaca Al Qur’an sehingga terasa demikian logis, manusiawi, dan universal. Bagaimana takwa itu seyogianya selalu berdampingan dengan perbuatan baik yang bermanfaat. Bertahun-tahun, seminggu sekali atau lebih, saya menghadiri acara kajian, hampir tanpa absen. Kadang dari malam hingga dini hari.

Pada saat yang sama, sisi kehidupan lain tetap berjalan. Pekerjaan, keluarga, teman-teman, serta – tak kalah pentingnya bagi seorang praktisi komunikasi – kegiatan haha-hihi dan berjejaring yang cukup intensif terus bergulir.

Namun setelah tujuh tahun menjalani pekerjaan saya – yang saya mulai segera setelah menyelesaikan S1 dan S2 tanpa jeda, saya merasa diri saya tidak terlalu antusias lagi. Saya beruntung memiliki pekerjaan yang saya gemari, tempat kerja yang menyenangkan, serta keluarga dan teman-teman yang mendukung. Karena itu, saya merasa ini aneh. Kenapa dengan segala hal tersebut, saya tetap merasa kurang bersemangat? Semua terasa datar.

Berhenti sejenak

Entah dari mana, muncul ide untuk berhenti sejenak. Bukan pindah kerja, bukan pindah profesi. Saya hanya ingin berhenti. Saya memutuskan – dibantu oleh para partner yang baik hati di tempat kerja saya– untuk berhenti setahun dan beperjalanan. Saya pun menjelajah, antara lain, Aceh, Nepal, Tibet , dan menetap selama enam bulan di Spanyol.

Di Spanyol itulah saya seperti tergodok. Semua kelebihan yang menjadi sumber kesombongan saya terlucuti. Di Jakarta, kota kelahiran dan tempat saya bertumbuh, saya kenal betul daerah sekitar saya. Saya punya keluarga dan banyak teman, cakap berbahasa Indonesia dan Inggris, punya posisi di kantor bergengsi, dan berpenghasilan. Sementara saat itu, saya baru pertama kali ke Spanyol. Saya tidak kenal siapa-siapa, tak bisa berbahasa setempat, tidak punya posisi bergengsi, dan uang terbatas.

Saya lantas belajar untuk hidup secukupnya dan memperlambat ritme saya. Setengah terpaksa karena saya memang tidak punya uang untuk jalan-jalan atau melakukan kegiatan berbayar. Saya giat melakukan ibadah pribadi dan rajin menuangkan rasa melalui tulisan. Selain itu, karena saya punya banyak waktu luang, saya belajar menikmati setiap langkah. Setiap saat saya bisa bertanya ke diri saya: apa yang ingin saya lakukan sekarang. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya benar-benar belajar merasa dan mendengarkan hati saya. Dan saya menyenangi semua ini.

Setahun terlewati. Saya kembali bekerja. Saya memutuskan untuk bekerja lepas atau dengan termin proyek (bukan tenaga penuh waktu dengan status pekerja tetap). Kadang saya berhenti untuk melakukan kegiatan di luar pekerjaan, seperti belajar atau melakukan retreat. Teman saya bilang saya seperti ular. Kalau lapar, bangun, cari makan, makan yang cukup, kemudian diam atau tidur lagi. Demikian seterusnya. Dia ada benarnya. Saya bersyukur diberi ruang untuk melakukan semua ini.

Mengenali, mengalir, dan melayani

Hidup terus mengalir. Ia membawa saya ke tahap selanjutnya. Rupanya, perlambatan ritme hidup dan belajar mendengar hati baru persiapan menuju tahap berikutnya. Pada tahun, 2008, saya dipertemukan dengan dua sekolah yang hingga kini menjadi sekolah utama saya: meditasi kesehatan Bali Usada dan sekolah pengenalan diri sejati Beshara.

Kedua sekolah ini – dan hidup secara luas – mengajarkan saya untuk mendengar – diri dan sekitar – kemudian mengenali dan memahami. Dalam proses ini, yang perlu kita lakukan adalah berdiam; untuk hening dan geming. Pada saat kita sudah mulai jernih, kita bisa mengizinkan apa yang datang ke kita untuk mengajarkan kita, tanpa terlalu disibukkan dengan interpretasi dan analisa.

Saya juga diajak untuk mengada, mengalir, mengikuti, dan percaya pada mengalirnya hidup. Sikap hening dan geming itu tidak terbatas pada apa yang datang kepada kita. Tetapi juga mencakup ke apa yang mengalir dari kita: ke mana dan bagaimana kita tergerakkan, dan mengikuti gerakan itu dengan suka cita. Sehingga hidup terasa mengalir lebih alami dan ringan.

Dari situ, saya lantas belajar untuk melayani dan mencintai pelayanan sebagai berkah kesempatan yang indah. Melatih diri untuk setiap saat mendengarkan dan merasakan di mana dan bagaimana saya dapat berperan. Semua dilakukan sesuai kebutuhan, sesuai porsi, dan sesuai kemampuan diri pada saat itu.

Yang terpenting, semua dilakukan dengan suka cita. Ini adalah tolok ukur penting bagi saya dalam melakukan sesuatu: Apakah saya melakukannya dengan suka cita atau dengan berbagai omelan dalam hati; dengan ringan atau berat hati. Karena saya yakin bahwa Kebenaran sejatinya adalah sederhana. Begitu terasa rumit, mungkin bukan itu.

Ekspresi diri yang semakin jujur

Saat pertama menyelesaikan kursus enam bulan di Beshara, seorang teman bertanya, bila dirangkum dalam satu kalimat, apa yang saya pelajari selama enam bulan itu? Jawaban saya, I have become more of the person that I am. Saya lebih menjadi diri saya.

Baru-baru ini pun dalam sesi diskusi di acara Resonation, sebuah acara yang mengusung tema pemberdayaan perempuan, saya ditanya apa mimpi saya. Jawaban saya, saya ingin menyediakan wadah bagi semua untuk bisa mengenali diri, menjadi diri sendiri, dan berekspresi secara jujur. Karena saya percaya, manusia menjadi versi terbaik diri dan paling bermanfaat bila ia menjadi diri sendiri.

Saya juga percaya bahwa kita perlu bertumbuh dari akar diri. Karena itu, kita perlu akar yang kuat dalam menjalani hidup. Akar ini berbeda untuk setiap orang. Bagi saya, akar saya adalah Tuhan melalui tradisi Islam. Islam dalam arti hakiki: keberserahan total kepada Sang Tuhan, Al Illah. Yang lantas melahirkan salaam (juga sering dikatakan sebagai akar kata Islam karena sama-sama berakar pada huruf sin-lam-mim) – ketenangan yang lahir dari keparipurnaan.

Dengan pemahaman ini, saya meniatkan diri untuk mengabdikan hidup bagi Sang Maha Hidup. Karena menjadi diri sendiri tampak menjadi (salah satu) tema sentral dalam hidup saya, maka itu pula yang bisa saya bagi dengan Semesta. Saat ini saya memfokuskan kegiatan saya untuk mendukung berbagai upaya mengenal, mencintai, dan menjadi diri sendiri – yang saya yakini akan menjadikan kita sebagai bagian dari rahmatan lil alamin – rahmat bagi semesta.

Mimpi saya seperti yang ditulis oleh penulis asal Nigeria Ben Okri dalam artikel berjudul Sekolah pada Masa Depan. Yaitu perguruan-perguruan yang mengajarkan, menurut Okri, seni pewujudan diri, cara mendengarkan, mengikuti, melihat, berpikir jernih, serta ilmu intuisi. Okri mengatakan bahwa setiap murid adalah sebuah cahaya, sebuah percikan kreativitas. Tujuan perguruan ini adalah untuk memerdekakan potensi terang dan luhur insan; untuk memulai kembali projek kemanusiaan dengan kerendahan hati dan cara pandang baru.

Hidup terus mengajarkan saya tentang menghayati hidup. Mungkin memang ini sejatinya hidup: untuk dihayati; Dilakoni dengan sepenuh keberadaan. Dengan demikian, semua terasa lebih ringan dan menyenangkan. Saat itu, saya mulai menyadari bahwa perkataan semua itu sudah ada yang mengatur ternyata benar adanya. Bahwa Tuhan sejatinya memang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Sehingga, pada akhirnya, yang muncul dalam diri hanyalah rasa syukur dan kekaguman kepada Semesta.

Perjalanan saya masih panjang. Masih banyak dari diri yang perlu dipoles. Saya bersyukur diberi kesempatan ini; diberi teman-teman seperjalanan yang selalu menjadi cermin dan penyemangat saya dalam menapaki kehidupan; dan memiliki wadah-wadah yang memungkinkan saya melakukan semua ini.

Mari menapaki hidup bersama-sama; saling membantu, saling menyemangati, dan saling hadir untuk satu sama lain.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tuhan, Tunjukkan Kepada Saya Cara Membaca Al Qur’an". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Eva Muchtar | @evamuchtar

Menggemari tema kebaikan, kesederhanaan, dan hidup yang benar-benar hidup. Eva adalah murid Beshara, penggiat meditasi Bali Usada, dan praktisi terapi kraniosakral. Ia percaya bahwa kita akan menjadi versi terbaik kita bila kita menjadi diri sendiri.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar