3.5K
Saya belajar menerima bahwa ada hal-hal yang tak perlu ditanyakan. Ada hal-hal yang hanya perlu saya percayai ketika saya diminta untuk percaya. Tetapi, rasa ingin tahu saya sebagai kanak-kanak tidak pernah padam.

"Tuhan ada di mana-mana."

Sewaktu kecil, saya kesulitan mencerna gagasan ini. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa? Benak saya tak dapat memahami kemungkinan tersebut.

Semasa kecil, saya banyak berpikir mengenai Tuhan: dari mana Tuhan berasal? Bagaimana Tuhan bisa menciptakan kita semua? Bagaimana mungkin Tuhan ada di mana-mana, Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui?

Saya tak merasa puas dengan jawaban orang-orang dewasa di sekitar saya saat itu. Belakangan, saya tahu, orang-orang dewasa tak terlalu nyaman membahas mengenai hal ini. Saya belajar menerima bahwa ada hal-hal yang tak perlu ditanyakan. Ada hal-hal yang hanya perlu saya percayai ketika saya diminta untuk percaya. Tetapi, rasa ingin tahu saya sebagai kanak-kanak tidak pernah padam.

Saya memang berhenti mencari jawaban, tetapi dalam hati, saya tidak pernah berhenti bertanya.

Beranjak remaja, saya mulai lebih mengerti mengenai konsep ke-Tuhan-an. Mengerti perihal iman dan keyakinan yang berbeda-beda. Memahami adanya kepercayaan-kepercayaan yang tak perlu dipertanyakan kepada banyak orang. Tetapi, dalam hati, saya tidak pernah berhenti bertanya. Seperti ada kerinduan dalam diri saya untuk terus mencari tahu mengenai Sang Pencipta.

Suatu hari, saya mendengar sebuah lagu yang kemudian saya dengarkan berkali-kali. Judulnya What If God Was One of Us, dari Joan Osborne.

What if God was one of us
Just a slob like one of us
Just a stranger on the bus
Trying to make His way home?

Ada sesuatu yang melingkupi hati saya dengan kehangatan setiap kali saya mendengarkan lagu itu dan mencoba mencerna liriknya. Bagaimana jika Tuhan adalah seseorang di antara kita. Lirik ini membuat saya teringat kembali pada kegelisahan masa kecil saya: "Tuhan ada di mana-mana." Jadi, saya terus mencari.

Pada masa kuliah, saya mulai berkenalan dengan novel-novel karya Jostein Gaarder. Kebanyakan karakter pada cerita-ceritanya berusia remaja, dan mereka--seperti saya, menggelisahkan hal yang sama. Ada pertanyaan-pertanyaan mengenai eksistensi kehidupan yang tertuang dalam cerita-ceritanya. Salah satu novel yang saya baca mengisahkan pertemuan antara seorang remaja perempuan yang sakit parah dengan seorang malaikat.

Saya ingat ada sebuah dialog yang mengingatkan saya akan kerinduan saya mencerna gagasan "Tuhan ada di mana-mana." Secara garis besar, dialog itu mengatakan bahwa jika Tuhan menciptakan kita semua dengan sepasang mata, maka ketika sepasang mata itu melihat sesuatu, maka Tuhan pun sedang melihat apa yang dilihat sepasang mata itu.

Saya tertegun.

Gagasan ini terasa menarik dan menghangatkan hati saya. Saya merasa semakin dekat untuk mencerna gagasan "Tuhan ada di mana-mana". Ada sebuah pemahaman yang meliputi saya dengan ketenangan, sekaligus kekaguman. Ketika saya melihat sesuatu, Tuhan juga tengah melihat apa yang saya lihat. Ketika saya memandang mata seseorang, maka secara tidak langsung, Tuhan sedang memandang saya juga.

Saya kemudian berpikir, bahwa ungkapan 'mata adalah jendela jiwa' bisa jadi punya arti yang jauh lebih dalam.

Jika "Tuhan ada di mana-mana", berarti Tuhan juga hadir pada setiap pasang mata yang menatap. Sejak saat itu, ada yang berubah dalam cara saya memandang sesuatu, atau seseorang.

Semakin saya beranjak dewasa, gagasan "Tuhan ada di mana-mana" terasa semakin dekat; terutama ketika saya semakin rajin menonton berbagai tayangan dokumenter mengenai alam dan semesta. Salah satu film dokumenter yang paling berpengaruh dalam hidup saya adalah What Plants Talk About--yang bisa disaksikan melalui YouTube.

Film dokumenter ini mengikuti perjalanan beberapa ilmuwan untuk meneliti tumbuh-tumbuhan: apakah mereka bisa berkomunikasi, apakah mereka bisa merasa takut, apakah mereka memiliki naluri untuk melindungi keturunannya, dan lain sebagainya.

Saya selalu berpikir bahwa para ilmuwan pastilah orang-orang yang paling spiritual. Mungkin tidak religius, tapi spiritual.

Bagaimana tidak?

Setiap hari mereka melihat the Grand Design pada hal-hal terkecil yang ada di sekitar kita. Semakin dalam para ilmuwan mengupas keajaiban Semesta, saya semakin kagum terhadap rancangan Maha Besar dan Maha Sempurna di baliknya. Semakin yakin bahwa ada Sesuatu yang lebih besar dari hidup itu sendiri.

Dan ada pemahaman lain menyelinap ke dalam diri saya kala itu.

Bahwa Tuhan hadir dalam setiap zat.

Dalam hangatnya matahari, dalam debur ombak di pantai, dalam rintik hujan yang turun perlahan-lahan, dalam desau angin yang meniup dedaunan. Dalam sepiring makanan, dalam segelas kopi, dalam seekor tupai yang melompat dari dahan ke dahan, dalam setiap tarikan napas. Jika Tuhan menciptakan segala, maka dalam setiap Ciptaan, niscaya, Tuhan hadir di sana. Dan dengan demikian, Tuhan sungguh ada di mana-mana.

Dan jika Tuhan secara (tak) langsung hadir dalam setiap Ciptaan-Nya, seperti apa kita akan bersikap terhadap semua Ciptaan-Nya? Terhadap alam, tumbuhan, hewan, dan sesama manusia?

Tuhan ada di mana-mana. Kini saya bisa memahami mengapa orang-orang dewasa selalu menanamkan hal ini kepada saya sejak belia.

Karena sesungguhnya, jika kita semua bisa melihat bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap ciptaan-Nya, kita akan menjadi orang-orang yang penuh kasih, penuh hormat, dan penuh kesantunan--bukan hanya terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap alam dan segala isinya.




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel ""Tuhan Ada Di Mana-Mana", Kata Mereka. Bertahun-tahun, Saya Mencoba Memahaminya.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Hanny Kusumawati | @hannykusumawati

Managing Editor of Kamantara.ID. A published writer and blogger at www.beradadisini.com. Organises workshops & weekend getaways in creative/travel/mindful writing & creative living.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar