2.6K
Di saat plesir, jiwa kanak-kanak dalam diri seringkali secara spontan keluar. Sepanjang perjalanan saya seringkali menyanyikan lagu naik-naik ke puncak gunung sambil sesekali lompat-lompat saat menapaki jalan menanjak.

Mengapa kita (harus) menyukai berplesiran?

Pertanyaan ini muncul ketika saya sedang dalam perjalanan menuju kaki gunung Slamet, Purbalingga. Orang lalu-lalang, ada yang datang dengan tas besar berisi peralatan berkemah, ada wajah cerah yang baru saja turun dari puncak gunung, para tukang ojek yang coba menawarkan jasa dengan harga yang tak biasa, pelancong sendiri atau berkelompok dan toko-toko yang menjual perlengkapan pendakian.

Traveling memiliki nilai yang tak bisa dibilang murah. Ada nilai ekonomis yang harus ditebus untuk modal perlengkapan perjalanan baik itu tas, alas kaki, perlengkapan mandi atau hanya sekedar buff. jika tidak ada nilai tenaga dan waktu yang harus direlakan hanya untuk sebuah perjalanan. Tapi mengapa kita tak sedikitpun sungkan untuk menebus berapapun nilai itu untuk sebuah perjalanan?

Saat memutuskan untuk plesir ke puncak Gunung Slamet, biaya yang harus saya keluarkan tidak sedikit. Saya perlu membeli tenda, tas, sepatu, perlengkapan lainnya yang tentu bagi new white collar seperti saya bukanlah uang yang sedikit atau dapat dikatakan cukup menguras. Sebagai pendaki pemula, tentu ada ragu yang menghinggapi perjalanan kali ini. 3.428 MDPL dan bumbu-bumbu mitosnya cukup menemani persiapan pendakian. Googling tentang tips pendakian tak cukup membantu.

Tapi apa yang membuat saya tetap saja begitu bersemangat untuk menaklukkan perjalanan kali ini?

Bersama teman pendaki lainnya, saya memulai perjalanan dari Kampung Rambutan dengan menumpang Bus Sinar Jaya menuju Purbalingga. Belum satu langkah bis berjalan, saya sudah disapa kernet yang saat itu membuat saya merasa cukup mengganggu. Kami tiga kali dipindah bis secara serampangan dengan alasan agar cepat sampai (Bagaimana mungkin? Bis saja belum beranjak).

Nyatanya, hal itu tidak menyurutkan perjalanan kami. Bumbu melodrama ternyata membuat saya semakin penasaran dan entah senang entah girang. Untuk pertama kalinya saya merasa seperti seorang pendaki profesional; bergaya perlente, menggunakan topi kupluk, dan memakai jaket windbreaker di tengah terminal yang cukup panas. Salah kostum, tapi tetap saja saya merasa nyaman dan tetap penasaran.

I am the real adventurer! Begitu kira-kira yang saya yakini.

Sampai di terminal Purbalingga, tepat di atas hadapan gunung Slamet menjulang. Seorang pendaki melihat ke atas puncak yang ditutupi awan dan bertanya, “Bro, lanjut nih?”

Sahabat saya yang satu ini adalah pendaki yang sudah berkali-kali mendaki gunung.

Kami menaiki bis engkel menuju desa Bambangan pukul 7.30 pagi hingga sampai di tujuan pukul 9.00 pagi. Di kaki gunung, kami disapa langit cerah pukul 10 pagi. Selepas berdoa kami mendaki perlahan-lahan hingga tiba di Pos 3; bersambut hujan yang tetiba lebat. Sepanjang pendakian variabel hujan tak henti-hentinya menyapa kami.

Tapi apa yang membuat saya bisa sampai ke puncak dengan sisa tenaga yang tak cukup banyak?

Ketika plesir, kita biasanya bisa merasa menemukan kembali diri kita yang senang, bahagia, dan bebas. Kita menemukan kembali diri kita yang biasanya hilang karena rutinitas, bisa menyapa kembali diri kita yang berwarna, meledak-ledak dan penuh dengan rasa ingin tahu, tanpa malu salah kostum, salah jalan, menjadi diri sendiri, tertawa lepas sampai lupa untuk mandi.

Tetapi nyatanya kita tetap saja bahagia.

Untuk orang-orang yang menyukai kesunyian, traveling layaknya pelepasan dari kebisingan hidup yang terkadang mengganggu. Atau bagi pegawai dan karyawan, traveling menjadi pembebasan diri dari rutinitas yang membosankan. Menemukan kembali diri dari segala jenis peran yang kita mainkan di depan banyak orang.

Di saat plesir, jiwa kanak-kanak dalam diri seringkali secara spontan keluar. Sepanjang perjalanan saya seringkali menyanyikan lagu naik-naik ke puncak gunung sambil sesekali lompat-lompat saat menapaki jalan menanjak.

Saat sampai kembali ke kota Jakarta, meski saya harus berhemat kembali, tapi saya tak pernah sedetikpun menyesal membayar nilai untuk sebuah pendakian.

Plesir adalah menemukan kembali diri kita, apapun bentuk plesir yang kita sukai. Mendaki gunung, menjajal makanan baru, menemukan tempat unik, memotret hal-hal baru di tempat baru, bahkan sekadar menikmati waktu dengan diri sendiri di rumah. It doesn’t matter!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Traveling: Mencicipi Kebebasan Menjadi Diri Sendiri Barang Sejenak.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Agung Prasetyo | @agungprasetyo

Storytraveler

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar