4.2K
Sebagai seorang pekerja lepas (freelancer), sering saya mendapat komentar, “Enak ya menjadi pekerja lepas. Bisa mengatur waktu sendiri. Saya sih belum berani.” Saya yakin tenaga lepas lain juga familiar dengan komentar ini.

Dulu saya menjawab “Ya, semua ada waktunya”. Namun sekarang jawaban saya sudah bergeser. Sekarang saya lebih sering mengatakan, “Tidak semua orang perlu menjadi tenaga lepas.”

Menjadi tenaga lepas memang menyilaukan untuk kebanyakan dari kita. Bayangan bahwa kita bisa mengatur waktu sesuai keinginan, berlibur kapan pun kita ingin, dan berbagai imaji romantis lain membuat ide bekerja lepas menarik. Kita mendambakan saat ketika kita sudah ‘berani’ melepaskan belenggu kerja penuh waktu dan menjadi tenaga lepas. [Setiap pekerja lepas akan bisa berbagi tantangan-tantangan yang mereka hadapi. Ini bisa jadi topik tersendiri untuk artikel lain.]

Tapi apakah benar itu yang kita rindukan – berubah dari tenaga penuh waktu menjadi pekerja lepas? Apakah bekerja penuh waktu itu yang merupakan belenggu kita untuk melakukan apapun yang kita inginkan? Atau sebenarnya ada sesuatu lain?

Jawaban dari rententan pertanyaan di atas tentu berbeda satu dengan lain, sesuai kondisi kita masing-masing. Perlu kejujuran dan keberanian untuk menyelami diri. Sehingga kita bisa melihat cerita-cerita di balik semua pandangan yang tertanam kuat dalam diri.

Bila saya berkaca pada diri, ada beberapa hal yang saya sadari ketika saya merasa rumput tetangga lebih hijau. Pertama, rasa syukur saya masih terbatas. Saya tidak menyadari betapa banyaknya berkah yang telah tercurahkan pada diri saya. Kedua, saya belum sepenuhnya hadir di sini kini – masih lompat ke penyesalan atas masa lalu atau kekhawatiran masa depan. Ketiga, bisa jadi ada rasa terbelenggu dalam diri saya yang punya akar lebih dalam dari sekadar pekerjaan penuh waktu. Keempat, dan ini yang ingin saya bagi dalam artikel ini, betapa rasa bahagia saya masih berkondisi.

Bahagia Kita Masih dengan “Kalau”

"Saya akan berbahagia kalau uang saya sudah lebih banyak."

"Saya akan lebih berbahagia kalau saya sudah menikah."

"Saya akan berbahagia kalau bos saya sudah diganti dengan yang baru."

"Saya akan berbahagia kalau saya sudah pindah ke negara yang lebih maju. Saya akan berbahagia kalau…"

Silakan isi dengan kalau-kalau kita masing-masing.

Mungkin saja hal ini ada benarnya. Ada saat-saat rasa tidak bahagia atau keresahan merupakan dorongan untuk melakukan perubahan terhadap, misalnya, lingkungan tempat kita tinggal atau berkarya. Namun, ada kalanya pula ini merupakan ajakan perubahan yang berbeda, yaitu ajakan untuk berperjalanan ke dalam.


Rasa Bahagia itu Internal

Rasa bahagia sejatinya berasal dari dalam diri. Seperti halnya cinta-kasih, kebahagiaan sebenarnya secara alami telah bersemayam dalam diri kita – bagian dari kesejatian seorang insan. Entah kenapa, kesejatian itu tertutupi oleh beragam hal. Kita lupa berbahagia. Entah kenapa, kita 'memilih' untuk tidak bahagia, dan memutuskan untuk berbahagia apabila suatu kondisi terpenuhi.

Padahal, seringkali ketika kondisi itu terpenuhi, bahagia tak kunjung tiba. Kondisi “akan bahagia kalau…” kita bisa berubah-ubah. Seperti mengejar makanan yang digantungkan menggunakan kail dan diletakkan di depan kita. Tampak, seolah dekat, namun tak pernah terjangkau.

Kembali ke kabar baiknya. Bahwa kebahagiaan itu sebenarnya sudah ada di dalam diri. Saya teringat akan hal ini ketika oleh seorang teman saya diajak untuk kembali ke masa lalu – terserah yang mana – dan melihat seperti apa saya saat itu. Ternyata saya terbawa ke masa ketika saya merasa sangat bahagia. Rasa bahagia itu pun muncul kembali dalam diri saya.

Bahwa rasa bahagia itu bisa muncul kembali dari memori, berarti rasa bahagia itu masih ada dalam diri kita. Yang perlu kita lakukan adalah sekadar mengingatnya kembali. Hal ini bisa dilakukan dengan bantuan mengingat memori yang menyenangkan. Ketika bahagia muncul, tak perlu kita memegang memorinya, cukup izinkan bahagia itu untuk terus ada. Singkatnya, kita memilih merasa bahagia. Mungkin terasa janggal memang ketika membaca kalimat ini untuk pertama kali. Tetapi cukup manjur. Inilah salah satu cara menghadirkan kembali rasa bahagia.

Masih banyak cara lain untuk menghadirkan rasa bahagia. Misalnya dengan membuat catatan harian hal-hal yang kita syukuri hari ini; memperhatikan hal-hal kecil dalam keseharian yang menyenangkan diri; menyempatkan melakukan hal-hal yang disukai untuk diri sendiri; hingga memperbanyak kegiatan sosial seperti berdonasi atau menjadi relawan secara berkala.

Bermanfaat dalam Peran Kita Sekarang

Kembali ke topik pekerja lepas vs. kerja penuh waktu. Selain bahagia, terdapat satu hal lain yang kerap mengemuka. Yaitu pendapat bahwa bila menjadi pekerja lepas – dan bisa memilih apa yang ingin dikerjakan – kita akan bisa lebih bermanfaat bagi banyak orang. Karena, menurut kita, ketika kita bekerja lepas tentu kita bisa bebas memilih pekerjaan yang sesuai hati dan mengerjakannya pun dengan sepenuh hati.

Apabila pekerjaan kita yang sekarang memang benar berlawanan dengan hati nurani atau membahayakan diri atau orang lain, tentu alasan di atas sahih. Namun, yang lebih sering terjadi tidaklah demikian.

Bisa jadi ada beberapa hal dalam pekerjaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita, namun sebenarnya pekerjaan dan lingkungan itu sendiri baik-baik saja. Bila demikian, maka yang sebaiknya kita lakukan adalah menyederhanakan definisi kita akan kebahagiaan dan kepuasan atas pekerjaan kita. Atau melihat lebih dekat lagi apa saja hal-hal yang kita kerjakan, dan menemukan celah-celah peluang untuk bermanfaat, walau terasa sepele.

Banyak orang yang bekerja penuh waktu di korporasi atau proyek besar dan tampak cocok sekali di situ. Beberapa teman saya seperti itu -- mereka bersemangat kerja tinggi dan saya dapat melihat betapa mereka membawa perubahan besar terhadap tempat mereka bekerja. Mereka mencurahkan seluruh hati dan tenaganya. Mereka percaya apa yang mereka lakukan berdampak pada sekitarnya.

Di sini kita tidak perlu bicara manfaat pada skala besar dan normatif seperti menyejahterakan masyarakat atau memperbaiki salah satu sektor pembangunan penting. Misalnya, kita bisa memacu semangat tim kita untuk terus berkembang. Kita bisa membantu para mitra usaha kita untuk berpenghidupan lebih baik. Kita juga memastikan bahwa sumber daya perusahaan atau proyek kita digunakan dengan lurus, efisien, dan bermanfaat optimal.

Bahkan bisa jadi sesederhana ini: Kita bekerja dengan penuh perhatian dan ketenangan. Kita memperlakukan orang sekitar, baik atasan, manajer, office boy, rekan sejawat, satpam, dan sebagainya, dengan ramah dan tulus. Hal-hal seperti ini terasa remeh. Pada saat yang sama, dapat berdampak besar. Bayangkan bila tempat kita berkegiatan terdapat orang-orang yang bekerja sepenuh hati, tenang, penuh keramahan, dan tulus. Bukan main dampaknya bagi tempat kegiatan ini.

Kesemua hal di atas, bisa kita lakukan baik saat kita menjadi tenaga penuh waktu atau pekerja lepas. Asalkan kita menyadari bahwa setiap hal yang kita lakukan, hingga yang terkecil sekalipun dapat memiliki dampak. Penggiat lingkunga Jane Goodall mengatakan, “What you do makes a difference, and you have to decide what kind of difference you want to make”(“Apa yang kamu lakukan membuat perbedaan. Kamu harus memilih perbedaan seperti apa yang ingin kamu buat”).

Jadi, sebenarnya bukan melulu masalah menjadi tenaga penuh waktu atau pekerja lepas. Tidak perlu menunggu hingga kita berhenti dari pekerjaan penuh waktu atau hal-hal lain yang belum terjadi. Kita bisa berbahagia dan bermanfaat saat ini juga di tempat kita sekarang.

Selamat berkegiatan dan bermanfaat.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "(Tidak) Menyoal Full Time vs. Freelance Ketika Bicara Soal Bekerja dengan Bahagia.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Eva Muchtar | @evamuchtar

Menggemari tema kebaikan, kesederhanaan, dan hidup yang benar-benar hidup. Eva adalah murid Beshara, penggiat meditasi Bali Usada, dan praktisi terapi kraniosakral. Ia percaya bahwa kita akan menjadi versi terbaik kita bila kita menjadi diri sendiri.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar