970
Hidup di lingkungan keluarga yang didominasi para perempuan, harusnya menjadikan saya sebagai anak yang feminim. Namun kenyataannya tidak seperti itu.

Saya terlahir sebagai anak pertama dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan. Hampir seluruh anggota keluarga saya di rumah perempuan, kecuali Bapak tentunya.

Saya tahu, Bapak sangat menginginkan anak laki-laki. Alasannya klasik: agar semua usaha Bapak ada yang melanjutkan.

Saya sepakat. Memang seharusnya ada saudara laki-laki agar kami tidak selalu mengandalkan Bapak. Dengan alasan inilah, seringkali Bapak menasihati saya untuk belajar mandiri. Saat saya masih duduk di kelas 5 SD, Bapak pernah berpesan kepada saya, “Walaupun laki-laki di rumah ini hanya Bapak, tapi semua orang di rumah ini harus bisa diandalkan. Apalagi kamu sebagai kakak. Kamu perempuan, kamu harus kuat!”

Sejak Bapak menyampaikan pesan itu, banyak hal yang Bapak ajarkan kepada saya: dari soal public speaking dan leadership sampai persoalan memperbaiki alat-alat rumah tangga ketika rusak: mulai dari kipas angin, mesin cuci, dan masih banyak lagi. Dulu—saat dipaksa belajar—saya menganggap semua ini bukan hal penting yang harus saya pelajari.

Bapak juga orang yang paling tega dalam ‘membiarkan’ saya.

Saya masih ingat jelas ketika Bapak meminta saya untuk menaiki transportasi umum seorang diri dengan jarak yang tidak dekat. Waktu itu saya masih kelas 3 SD. Bapak meminta saya menjenguk Nenek di desa. Beliau beralasan sibuk tidak bisa mengantar sementara Nenek merindukan saya. Jadi, dipaksalah saya untuk menaiki angkutan desa bersama orang-orang yang tidak satupun saya kenal. Sejak saat itu, banyak perjalanan yang saya lalui seorang diri, tanpa diantar ataupun dijemput.

Karena kedekatan saya dengan Bapak, banyak hal dan sikap saya yang berbeda dengan perempuan-perempuan lainnya. Cara Bapak berpikir sebagai laki-laki sedikit banyak juga memengaruhi saya. Tak heran, hal ini yang menjadikan saya selalu menjadi pihak dominan dalam suatu kelas atau organisasi. Mungkin sebagian orang akan menganggap ini adalah hal keren; tapi terkadang itu semua belum bisa melegakan saya, karena saya menganggap menjadi perempuan adalah hal yang harus saya sesali. Karena saya sebagai perempuan merasa memiliki banyak batasan dan tidak bisa terbang bebas.

***

Tidak jarang saya bertanya kepada diri saya sendiri, mengapa saya terlahir perempuan dan bukan laki-laki? Apa pesan Tuhan dengan menjadikan saya perempuan dengan batasan-batasan yang sulit saya terabas? Bahkan saya berpikir, andai terlahir sebagai laki-laki, ada banyak hal yang bisa saya lakukan. Karena tidak jarang saya kecewa dengan komentar-komentar laki-laki yang terdengar kurang menghargai posisi dan kemampuan perempuan.

Setidaknya ada tiga hal penting yang ingin saya lakukan, andai saya tidak terlahir perempuan.

1. Beraktivitas Bebas Tanpa Batas

Bukan tidak mungkin menjadi perempuan dengan segudang aktivitas. Tetapi dengan menjadi laki-laki, aktivitas yang saya lakukan bisa lebih banyak tanpa batas—tidak seperti perempuan. Banyak hal yang saya inginkan dan setiap saya ceritakan pada teman-teman saya, dengan santainya mereka hanya menanggapi, “Kamu yakin mau itu? Ingat kamu perempuan.”

Saya bosan dengan jawaban-jawaban ‘berbau’ bias gender seperti itu. Di sisi lain, saya juga merasa teman-teman perempuan saya terlihat begitu menikmati batas-batas keperempuanannya. Dan semakin hari, saya seperti kehilangan satu persatu teman saya, mereka mulai sibuk menata hidup ‘serapi’ mungkin: ingat umur-sebentar lagi akan lulus-punya pekerjaan-cepat nikah-punya anak-jangan lupa kita perempuan.

Saya merasa siklus yang seperti itu bukan untuk saya. Setidaknya, belum. Selagi umur masih muda tanpa embel-embel “ingat kamu perempuan” saya ingin lebih memperbanyak aktivitas dan menghasilkan banyak karya. Ya walaupun, tidak bisa dielak pertanyaan selanjutnya yang diberikan adalah: “Terus kalau aktivitas sesibuk itu, kapan mau nikah?” (Hello, saya memilih menjadi masih dan selalu muda)

2. Boleh Memilih dan Bebas Jatuh Cinta

Saya sering bingung, siapa yang mengajarkan konsep bahwa perempuan itu dipilih bukan memilih? Bahwa mengaku jatuh cinta lebih dulu kepada laki-laki adalah hal tabu? Mungkin dalam perkembangan perempuan modern, banyak yang mulai mengelak akan hal ini dan menganggap itu hal yang sah-sah saja untuk dilakukan perempuan terlebih dahulu. Tapi kalau bicara soal kebiasaan dan pandangan mayoritas masyarakat, tetaplah menjadi hal tabu.

Saya sering melihat teman-teman saya yang jatuh cinta pada seorang laki-laki hanya bisa menangis diam-diam tanpa bisa mengutarakannya. Bagi saya itu hal yang menyiksa, tapi apalah daya, ini dianggap sudah jadi derita kaum perempuan. Menunggu kumbang yang datang memilih bunga, kemudian jatuh cinta. Karena hal ini saya beranggapan, andai saya laki-laki saya akan bebas memilih perempuan mana yang saya suka dan saling jatuh cinta bersama. Bahwa saya bebas menyatakan perasaan saya, alih-alih memendamnya.

Walaupun nanti perjalanan cinta saya akan ditolak atau kandas di tengah jalan, saya tidak peduli. Yang penting, saya merasa bebas.

3. Lebih Menghargai Perempuan

Perempuan yang kuat dan mandiri memang banyak, tapi yang (di)lemah(kan) juga tidak sedikit. Maka jangan heran, banyak perempuan yang tertindas, walaupun ini bukan murni akibat 'kelemahan' perempuan. Terkadang ada faktor kekerasan dari laki-laki yang menjadi pemicunya; bahkan juga dari perempuan-perempuan lainnya.

Mungkin banyak orang yang berpikir, perempuan kuat dan mandiri lebih bisa menjaga diri dan dihargai.

Ya, itu benar, tapi tidak jarang banyak juga laki-laki yang memanfaatkan kelebihan para perempuan kuat dan mandiri--atau, malah berupaya menjegal mereka. Bagi saya pribadi, ini bukan sikap yang menunjukkan penghargaan pada kaum perempuan. Jujur saja, saya sering kali kesal melihat sikap para lelaki yang seperti ini. Jika saya terlahir laki-laki, saya ingin bisa menunjukkan penghargaan saya kepada kaum perempuan.

***

Terkadang, saya menyesal terlahir sebagai perempuan. Saya berusaha untuk terus bersyukur. Untuk banyak belajar. Tentang apa yang harus saya pahami, saya kuasai, dan saya lakukan sebagai perempuan. Saya sadar, Tuhan menjadikan saya seorang perempuan dengan banyak anugerah. Dengan banyak kelebihan.

Dan Tuhan, sejatinya tak memberikan kebebasan hanya bagi lelaki, tapi bagi semua manusia. Karena bukankah di mata Tuhan semua manusia itu sederajat? Bukankah laki-laki dan perempuan tak menjadi persoalan jika yang terutama adalah amal baik dan perbuatan yang kita kerjakan?

Saya sadar, bahwa batas-batas tak seharusnya mengekang saya sebagai perempuan. Dan yang perlu saya lakukan adalah untuk melepaskan diri dari batas-batas itu. Mungkin sesungguhnya memang tak ada batasan-batasan, selain batasan yang kita buat sendiri, batasan yang kita pilih untuk percayai, batasan yang kita pilih untuk membatasi diri kita sendiri.

Mungkin saya dikelilingi dinding-dinding yang tinggi. Namun saya bisa membuat pintu untuk melangkah keluar; ke balik dinding-dinding itu, dan melihat apa yang menunggu saya di luar sana.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Terkadang Saya Menyesal Terlahir Perempuan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Aisya Humaida | @aisyahumaida

Mahasiswa fakultas hukum yang akan segera susun tugas akhir.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar