935
Tiap-tiap kita memiliki potensi luhur yang luar biasa, namun banyak dari kita yang menyimpannya dalam gelap dan tidak mengizinkan potensi itu mewujud

Kata cahaya bisa dikatakan senantiasa muncul dalam berbagai tradisi spiritual. Dalam berbagai bahasa atau istilah: nur, cahaya, terang, light, sattva, dan dalam beragam konteks. Salah satu yang paling populer adalah Cahaya Ilahi, Tuhan sebagai Sang Cahaya, An-Nuur, yang menerangi Semesta, dan menerangi jalan kita. Lebih dekat lagi dengan diri, cahaya dalam berbagi tradisi tersebut kerap mengacu pada Cahaya yang bersemayam dalam diri kita masing-masing.

CAHAYA ITU SEBENARNYA TELAH ADA, NAMUN TERTUTUPI

Cahaya memiliki fungsi tersendiri dalam sistem kerja Semesta. Ia menerangi sesuatu yang sebenarnya sudah ada. Seperti ruangan yang gelap karena tidak ada sinar yang menerangi. Bisa jadi ruang itu kosong atau berisi, bisa berbentuk moderen atau klasik, dan bisa pula penuh keindahan dan keunikan.

Semua itu ada, namun belum tampak karena ruangan gelap. Bila tersinari – entah lampu dinyalakan, senter disorotkan, lilin disulut, penutup jendela dibuka, atau penghalang sinar disingkap, seketika terkuak semua potensi keindahan dan keunikan ruangan tersebut.

Demikian dengan potensi yang ada dalam diri kita masing-masing. Semua telah ada, namun karena sesuatu dan lain hal, kita belum mengizinkannya untuk tampak. Kita belum mengizinkan Cahaya di dalam diri kita untuk berpendar sehingga potensi dapat menjadi nyata terlihat. Potensi yang dalam sebuah kitab suci disebutkan sebagai ciptaan yang paling sempurna.

KETAKUTAN TERDALAM KITA

Namun entah kenapa kita tidak mengizinkan cahaya bersinar dalam diri ini. Marianne Williamson mengatakan bahwa ada ketakutan dalam diri kita. Ketakutan yang terdalam, menurutnya, bukanlah terhadap gelapnya kita. Tetapi betapa luar biasanya kita sebagai insan apabila cahaya dalam diri telah bersinar terang.

Atau mungkin kita memiliki keraguan atas potensi diri kita. Kita takut apabila kita mengizinkan cahaya untuk bersinar, ia akan menerangi hal-hal yang kita anggap buruk dan memalukan.

Demikian takutnya kita, sampai-sampai kita balut cahaya itu dengan berbagai penutup. Dengan harapan bahwa cahaya tersebut bisa sedikit meredup (sehingga tak menyilaukan yang lain), menjadi warna lain yang lebih dapat diterima, atau bahkan dibiarkan gelap sama sekali.

Adyashanti pernah memaparkan betapa gigihnya kita dalam melindungi ‘sesuatu’ yang ada pada pusat diri kita. Sesuatu tersebut kita anggap demikian rapuh sehingga kita merasa perlu membentenginya. Padahal, menurut Adya, apabila segala benteng tersebut diruntuhkan, yang ada hanyalah esensi diri yang ternyata sama sekali tidak rapuh. Jadi, merupakan sebuah renungan yang menarik, kenapa selama ini kita begitu berupaya membangun benteng tersebut? Apa yang kita lindungi atau khawatirkan?

MENGIZINKAN CAHAYA UNTUK BERSINAR

Untungnya, sebagai suatu keniscayaan, cepat atau lambat, Cahaya tersebut akan menemukan jalannya sendiri untuk menyeruak menyinari seluruh pojok-pojok diri yang selama ini kurang terperhatikan. Mungkin melalui suatu kejadian berulang, sesuatu yang harus kita akui bahwa kita suka, kebiasaan-kebiasaan kecil yang bergulir membesar, atau sebaliknya melalui suatu keresahan maupun kemarahan tak tertahankan.

Kita bisa mulai mengupas sedikit demi sedikit lapisan penghalang yang menutupinya. Seperti halnya membersihkan lampu tempel yang telah dipenuhi debu dan lapisan minyak, yang kita lakukan adalah sekedar membersihkan semua kerak dan noda yang terlanjur melekat, sehingga sinar bisa berpendar terang kembali.

Bisa pula kita mulai secara sadar untuk tidak lagi menghalangi cercahan cahaya yang berupaya menyeruak. Sesederhana, apabila memang kita memiliki kebisaan, bebaskan diri untuk berbagi kebisaan itu. Apabila kita memang mahir dalam suatu hal, kenapa tidak kita gunakan untuk hal yang baik. Apabila ada waktu luang, kenapa tidak mulai melakukan hal yang kita suka. Apabila emosi timbul, izinkan ia untuk mengalir. Dengan kata lain, kita bisa mulai berusaha jujur tentang dan dengan diri.

MENJADI APA ADANYA

Pernahkah kita bayangkan, bagaimana kalau orang yang kita kagumi tidak melakukan apa yang selama ini ia lakukan? Apabila ia tidak mengizinkan cahayanya untuk bersinar? Apabila Gandhi tidak menjadi Gandhi? Bunda Teresa tidak menjadi Bunda Teresa? Jane Goodall tidak menjadi Jane Goodall? Soekarno tidak menjadi Soekarno? Tri Mumpuni tidak menjadi Tri Mumpuni? Ibu kita tidak menjadi Ibu kita? Dunia mungkin akan menjadi dunia yang berbeda dengan yang kita kenal sekarang.

Yang menarik, betapa pun menonjolnya sosok mereka, yang tampak oleh kita sama sekali bukan ego mereka. Yang kita ingat adalah apa yang mereka lakukan, dan bagaimana mereka melakukannya. Kita kagum atas kecintaan, ketulusan, dan totalitas mereka. Kita mengenang kontribusi mereka terhadap masyarakat luas atau bahkan semesta alam.

Demikian insan yang mengizinkan Cahaya dalam dirinya untuk merdeka bersinar. Mereka menjadi apa adanya mereka – sebuah pengejewantahan potensi tertinggi manusia (dari kata sansekerta, manu – pikiran, sa – luhur).

Mereka adalah cermin kita. Potensi yang telah terwujud dari mereka mengisyaratkan potensi yang sama luhurnya dalam diri kita. Semua telah ada dalam diri kita. Tidak perlu kita buat-buat. Kita hanya perlu membersihkan diri dari segala lapisan yang selama ini kita telah kita tumpuk, dan mengizinkan Sang Cahaya untuk memancar terang dalam diri. Bila saat ini tiba, kita sebenarnya tidak menjadi orang lain. Sebaliknya, kita telah menjadi sebagaimana adanya sejati kita.

Seperti yang diungkap oleh psikolog Carl Rogers: “What I am is good enough, if I can just be it.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Apakah Kamu Takut Akan Cahaya Dalam Dirimu?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Eva Muchtar | @evamuchtar

Menggemari tema kebaikan, kesederhanaan, dan hidup yang benar-benar hidup. Eva adalah murid Beshara, penggiat meditasi Bali Usada, dan praktisi terapi kraniosakral. Ia percaya bahwa kita akan menjadi versi terbaik kita bila kita menjadi diri sendiri.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar