591
Awalnya saya mempertanyakan, akan tetapi akhirnya saya paham. Seperti kita, ada kalanya dia hanya butuh didengarkan dan dimengerti.

"Saya punya masalah. Sebenarnya masalah ini sudah dari lama. Hanya saja saya tidak pernah menceritakannya kepada orang lain."

Kala itu, salah seorang teman yang baru saya kenal, tiba-tiba saja menceritakan masalah yang sedang dia hadapi kepada saya. Awalnya, saya bertanya-tanya. Mengapa dia begitu saja menceritakan masalah yang dimilikinya? Bukankah saya dan dia belum terlalu saling mengenal?

Akan tetapi, saya mencoba netral. Saya tetap mendengarkan cerita dia. Saya tetap mengikuti apa yang ia ceritakan kepada saya.

Pada beberapa titik tertentu saat ia bercerita, saya cukup terkejut dengan apa yang ia ceritakan. Bahkan, saya malah menangis mendengar apa yang terjadi dengannya. Saya benar-benar tidak tega. Saya bisa merasakan sakit yang ia rasakan.

Saya tahu, saya dan teman saya ini belumlah dapat dibilang dekat. Kami baru kenal dan sama sekali tidak tahu siapa diri masing-masing. Hanya sekilas-sekilas saja yang saya tahu tentang dirinya. Begitu pula sebaliknya.

Ketika dia tiba-tiba menjadi terbuka dengan saya, menceritakan masalah yang bahkan jarang ia ceritakan pada orang lain, membuat saya sedikit terkejut. Kenapa harus saya? Kenapa harus saya yang diceritakan olehnya? Apakah tidak ada orang lain yang bisa mendengar keluh-kesahnya? Ataukah dia memang mudah percaya kepada saya?

Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saya pun bukanlah orang yang memiliki masalah yang sama dengannya. Bahkan, saya pun tidak dapat membayangkan apabila saya mendapatkan masalah yang sama. Saya pasti tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Jadi, pada dasarnya, tidak alasan rasional mengapa ia mau menceritakan masalah yang ia miliki pada saya.

Akan tetapi, setelah lama saya renungkan, saya memahami apa makna di balik tindakan teman saya.

Dia hanya butuh didengarkan.

Saya menyadari bahwa butuh waktu yang tidak singkat untuk membuat dia dapat terbuka. Ketika dia menceritakan masalah yang ia miliki pada saya, maka saya mengerti bahwa dia menemukan kenyamanan untuk bercerita pada saya.

Oh, baiklah. Sepertinya saya terdengar meninggikan diri.

Tapi, bukan itu poin saya. Yang ingin saya tekankan adalah, ketika seseorang sudah merasa nyaman dengan sekitarnya, maka ia pun terdorong untuk terbuka. Sama seperti teman saya ini. Dia sudah merasa nyaman dengan obrolan yang saya lakukan dengannya. Maka dari itu, dia pun mudah saja menceritakan masalah yang dimilikinya.

Di satu sisi, saya percaya. Memang dia butuh didengarkan. Dia butuh bercerita. Karena tidak selamanya dia sanggup untuk menyimpan masalah yang ia miliki sendirian. Ia hanya butuh bercerita untuk kemudian didengarkan.

Apakah saya sebagai seseorang yang mendengar ceritanya harus memberikan satu tanggapan atau lainnya? Bagi saya, tidak demikian.

Ketika saya bisa menjadi pendengar yang baik, pun, itu sudah menjadi usaha yang cukup bagi saya untuk menunjukkan kalau saya peduli.

Pada akhirnya, saya memahami, ketika seseorang menceritakan masalah yang dimiliki kepada orang lainnya, mereka bukan benar-benar mencari solusi dari permasalahan mereka. Mereka hanya butuh seseorang untuk mendengarkan apa yang mereka rasakan.

Siapkah kita untuk mendengarkan saja?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Terkadang, Kita Tak Membutuhkan Tanggapan. Kita Hanya Butuh Didengarkan.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Puji P. Rahayu | @PujiPRahayu

The Sun and the Red Glow of the Dawn. Passionate on reading and writing. Grateful for everything that happened in my life.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar