1.9K
Banyak yang menanti hujan, namun tak sedikit pula yang mengeluhkannya. Banyak yang menolak panas, namun tak sedikit pula yang merindukannya.

Cuaca tak menentu di daerah tempat tinggal saya. Beberapa hari yang lalu semua baik-baik saja. Bahkan sempat terasa panas menghentak begitu lama lalu cuaca berganti lagi. Mendung tebal menggelayut sepanjang hari. Gerimis pun muncul seakan memberi isyarat bahwa ia baru awalan, dan benar saja dalam hitungan jam hujan turun dengan derasnya hingga saya terlena untuk berlama-lama duduk di atas sofa.

Tiba-tiba saya teringat saat saya melewati terik matahari di jalanan berdebu beberapa minggu yang lalu. Keringat membasahi tak hanya wajah namun juga sekujur tubuh. Di saat seperti ini, betapa rindunya saya mendengar suara gemuruh dari langit.

Karena saya menantikan hujan di saat itu maka tentu saja saya bertanya-tanya kapan kehadirannya. Jiwa yang terlampau jenuh didera kemarau berkepanjangan, amatlah wajar bila ia merindukan tetes demi tetes air kehidupan turun dari langit. Ya, itulah saya beberapa minggu yang lalu.

Tapi saat hujan telah datang dan turun terus menerus, memblokade semua kegiatan outdoor saya, saat itu secara semena-mena saya balik merindukan Sang Kemarau. Bertanya-tanya lagi saya tentang kapan kehadirannya. Kapan mentari menyembul di balik awan hitam. Terus saya bertanya setiap pagi tiba.

Cuaca memang merupakan topik terbaik dalam membuka percakapan. Pagi ini secara tidak sengaja saya bertemu dengan kawan lama saya. Kami pun membuka percakapan dengan membahas cuaca.

Awalnya percakapan berlangsung biasa saja, hingga ada suatu momentum dimana kawan saya mengeluarkan kata-kata luar biasa. "Terik matahari dan hujan itu contoh dualitas dunia. Sama seperti suka dan duka. Bila kita bisa menerima keduanya dengan indah, maka tak akan ada lagi kekesalan demi kekesalan ketika salah satu hadir."

Merasa tertampar, saya pun menceritakan tentang kegalauan saya saat salah satu tiba. Kadang kemarau panjang dan saya mengeluh, kadang hujan turun saya pun mengeluh lagi.

Ia berkata lagi, "Di situlah pentingnya bersyukur."

Ah, iya bersyukur. Saya semakin malu karena saya sendiri pun menulis tentang apa itu rasa syukur ketika menghadapi rasa sakit. Ternyata teori bersyukur bisa diterapkan dalam kejadian hidup manapun. Termasuk saat kehadiran dua cuaca, pikiran saya pun melayang jauh. Bagaimana dengan orang-orang yang mendiami belahan bumi lain, yang memiliki empat cuaca berbeda, apa mereka juga merasakan yang sama seperti saya ?

Jika ya, maka mereka mengeluh empat kali.

Tepat di atas keyboard dan di depan monitor komputer, saya tumpahkan semua ide dan pikiran yang mendekam di kepala.

Pertama, saya bersyukur atas pertemuan saya dengan kawan lama saya yang mengingatkan saya tentang rasa syukur sekaligus memberikan paparan tentang korelasi antara cuaca dan dualitas dunia.

Kedua, saya bersyukur bahwa saya masih diberi kesempatan untuk terus merasakan pergantian cuaca di tahun ini, dan tentu saja saya berharap akan terus berkesempatan untuk melihat sekaligus merasakan di tahun-tahun mendatang.

Ketiga, saya bersyukur karena hari ini hujan, setidaknya saya tidak kepanasan di jalan menuju tempat kerja. Setidaknya saya pun dapat menikmati tiap titik air yang jatuh dan membentuk genangan di jalan aspal. Bahkan melewati genangan dan merasakan cipratannya pun merupakan hiburan tersendiri bagi saya.

Pun ketika kemarau tiba nanti, saat panas berkepanjangan, saya sudah menuliskan sederet hal yang pasti akan saya syukuri. Seperti saya tidak perlu kebasahan, saya tidak perlu mengurungkan kegiatan luar ruangan saya terutama pergi ke tempat favorit saya dan tidur seharian di atas pasir sambil membaca buku, saya juga dapat merasakan hangat mentari dibalik olesan tabir surya. Saya membayangkan betapa menyenangkannya melihat langit biru dengan awan putih berjalan membentuk arak panjang.

Seketika hidup menjadi luar biasa.

Tak ada lagi keinginan untuk berkeluh-kesah tentang cuaca. Karena saya telah diberi amunisi untuk menghadapinya dengan gembira.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Terik, Hujan, dan Pesan yang Disampaikannya.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Safitri Saraswati | @SafitriSaraswati

A Single Mom, A Reader, A Writer, A Bum

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar