2.7K
Ingatan masa kecil saya sebagai anak dengan orang tua yang sering bertengkar.

Banyak ibu yang mengandung sambil mendengarkan musik klasik. Ketika anaknya sudah lahir, anak itu akan mendengar lagu-lagu anak, seperti nyanyian soal berbagai macam hewan, warna, dan permainan. Hal-hal positif masuk ke tubuh anak melalui kedua lubang telinga yang mungil. Ketika ia mulai bisa berbicara, ia akan menirukan orang tuanya menyanyikan lagu-lagu kesukaan mereka—entah itu Bon Jovi atau Bryan Adams.

Sedikit setelah itu adalah masa penentu.

Beberapa anak akan terus mendengar berbagai nasihat-nasihat bijak dan kata-kata penyemangat. Beberapa anak akan mendengar keluh-kesah orang tuanya yang lelah akan ocehannya. Ada anak-anak yang kemudian mendengar percakapan antar teman di sekolahnya. Dalam percakapan itu, ia menemukan adanya relasi kuasa yang mengharuskannya berlagak kuat. Ia akan mendengar cercaan, baik dari mulut orang lain, maupun dari mulutnya.

Pada usia kanak-kanak, saya telah mendengar semuanya. Namun, bukan hanya lagu Aerosmith yang akhirnya menancap di benak saya, namun juga suara caci-maki yang sampai sekarang membuat saya berhenti berucap karena dikagetkan kenangan buruk itu.

Saya yang waktu itu hanya sedikit lebih tinggi dari lutut saya sekarang, belum tahu bagaimana bereaksi pada suara seperti itu.

Pertama, saya tetap berjalan ke pintu kamar dari mana suara itu berasal. Saya akan mengetuk seperti biasa. Lalu di pinggiran mata saya, saya melihat si Mbak berlindung di balik pintu, menggeleng-gelengkan kepala. Tangannya seolah ingin meraih saya, namun tak berani meninggalkan posnya. Saya hanya menatap dengan kedua bibir saya lemas membuka, tak mengerti ada apa. Lalu, saya akan mengetuk lebih keras.

Ketukan saya akan mengalahkan kegaduhan di dalam untuk sementara. Saya akan mendengar nama saya disebut, tidak dengan ramah. Kemudian, suara dari dalam kamar akan semakin keras, kali ini cacian ditujukan pada saya. Saya pun akan menangis.

Mungkin, saya pikir tangisan saya akan mengalahkan kegaduhan di dalam. Mungkin, saya pikir rasa iba akan meredakan badai. Namun badai justru tepat berputar pada porosnya, dan si Mbak yang tadi berlindung memberanikan diri untuk menyelamatkan saya. Ia akan menarik tangan saya dan dalam hitungan detik saya sudah terkunci di dalam kamar. Lalu entah apa yang terjadi setelahnya, tapi setelah itu, ingatan ikan mas saya akan lupa akan apa yang terjadi.

Sampai hal tersebut terulang lagi—dan lagi.

Ada kalanya Mbak gagal lari cukup cepat dari dapur, sehingga Ibu memarahinya. Ia akan tertunduk takut, dan saya yang menangis. Kadang saya nekat masuk ke kamar di mana pusaran badai terjadi. Di sana, barang-barang terlempar angin yang berputar, kalaupun tidak, api murka membakar udara yang harusnya dingin karena air conditioner.

Akhirnya selalu sama, saya dimarahi lagi.

Saya pun tahu, bagi anak-anak yang mendengar suara yang sama di masa kecilnya, sulit untuk tidak berpikir ia bersalah. Karena kita diajarkan bahwa kita hanya akan dimarahi bila kita melakukan suatu kesalahan. Begitu pula saya rasa di hari-hari setelahnya, karena tiap hari, saya merasa dihukum. Mulai dari tidak diajak makan keluar, sampai lupa dijemput sepulang sekolah.

Saya masih merasa dihukum sampai hari ini. Merasa hilang dan sendirian, masih takut angkat bicara karena takut dimarahi lagi. Saya pun takut terjerat dalam badai yang sama, atau bahkan menyulut api yang memanaskan telinga-telinga kecil.

Namun, saya memiliki pesan bagi badai, api, dan teriakan-teriakan yang dulu memekakkan telinga saya: saya sudah mengerti. Karena saya mengerti, saya pun memaafkan.

Saya mengerti bahwa sebuah bencana alam terkadang tidak diinginkan, tidak direncanakan, dan tidak dapat diprediksi. Saya mengerti bahwa bumi terkadang tak mampu membendung hujan, badai, petir, maupun letusan gunung berapi, namun bukan berarti bumi berusaha mencelakakan kita.

Sayangnya, sama seperti selera musik yang masih saya miliki, suara-suara mengerikan itu tetap melekat di suatu sisi hati saya.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Teriakan-teriakan di Masa Kecil: Saya Tumbuh dengan Caci-Maki". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Rachel Diercie | @racheldiercie

Pecinta seni dan sastra. Hidup dari membaca, berjalan kaki, dan kopi.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar