3.2K
Waktu yang berlalu mengajarkan saya bahwa kemanapun hidup membawa saya, saya akan berada di tempat yang tepat, untuk alasan yang tepat juga.

Waktu saya kecil, sama seperti banyak anak perempuan lainnya, saya menghabiskan banyak waktu menonton berbagai acara televisi yang menggambarkan kehidupan glamor yang serba indah.

Pertama, saya menonton kisah-kisah puteri kerajaan di Disney. Mereka cantik, berambut berkilau, bergaun indah, mereka pun bernyanyi dan berjalan seolah-olah mereka sedang bergerak di lantai dansa.

Setelah umur saya bertambah sedikit, saya mulai mengenal acara-acara reality TV mulai dari America’s Next Top Model sampai berbagai acara yang berkisar di kehidupan tokoh-tokoh dunia hiburan.

Pada masa SMP dan SMA pun saya masih terjebak di dunia yang sama, hanya dalam bentuk yang bervariasi. Kali ini saya terjebak dalam ambisi untuk menjadi perempuan-perempuan cantik yang profil dirinya dipanjang di majalah, perempuan yang berbakat, yang baik fotonya maupun ulasannya tampak sempurna.

Saya ingin punya biografi, yang isinya kisah kesuksesan saya. Saya ingin kebanjiran pertanyaan-pertanyaan dan pujian di ask.fm yang waktu itu sedang banyak digunakan di kalangan saya, dan dijadikan parameter popularitas.

Keinginan saya banyak. Visi dalam hidup saya pun membanjiri buku-buku catatan, harian, dan pinggiran buku tulis-buku tulis yang saya gunakan. Pada masa itu, mudah sekali membangun mimpi dan keinginan. Ketakutan seolah belum dilahirkan pada saat itu, atau mungkin dia hanya sedang tidur panjang dan hanya akan bangun setelah masa bermimpi berakhir.

Kini, walaupun saya belum cukup tua untuk berhenti bermimpi dan berangan-angan, saya mulai merasakan semakin sempitnya ruang imajinasi saya. Sedikit demi sedikit mimpi yang saya pernah miliki pun dicoret dari daftar.

Misalnya, dulu saya ingin berkuliah di bidang fashion dan saya sempat mendesak agar berkuliah di luar negeri, sekarang karena saya sudah kuliah di bidang dan tempat lain pun kedua mimpi tadi sirna.

Masih bisa saya mengharapkan hal-hal tadi, dan saya tetap percaya bahwa begitu banyak hal dalam hidup ini mungkin, namun ruang saya untuk berharap telah berubah ukuran—berbanding terbalik dengan bertambahnya ukuran tubuh saya.

Mungkin tidak semua orang seperti ini—karena saya toh jauh lebih ambisius dari orang-orang sekitar saya—namun, ada masa kepedihan yang harus saya lewati bersama berlalunya mimpi-mimpi masa kecil saya.

Saya ingat pada minggu-minggu pertama saya merantau, saya menangis habis-habisan karena merasa telah gagal, atau marah pada diri sendiri karena telah bermimpi sangat tinggi. Menurut saya itu tidak salah, dan merupakan hal yang normal.

Namun saya belajar bahwa waktu dan sedikit refleksi memang mampu menyembuhkan banyak hal. Sekarang saya hampir tidak ingat rasa kecewa saya ketika mimpi saya hangus ditelan masa kadaluwarsanya, kalau bukan karena saya masih ingat waktu itu saya menangis sampai harus menelepon ibu saya yang bahkan jarang saya telepon.

Jauh di dalam hati, mungkin saya masih ingin mendapat kesempatan untuk meraih hal-hal yang belum saya raih. Namun setidaknya sekarang, bila saya tidak mendapatkan hal-hal yang saya inginkan dulu, saya tidak akan marah.

Waktu yang berlalu mengajarkan saya bahwa kemanapun hidup membawa saya, saya akan berada di tempat yang tepat, untuk alasan yang tepat juga.

Saya menyadari bahwa banyak ilmu yang saya sangat hargai, bahkan cintai, dari jurusan yang saya ambil. Saya menyadari bahwa walaupun teman-teman saya tidak berambut dan berwarna mata yang berbeda-beda, mereka semua sangat berarti bagi hidup saya.

Saya tidak berhubungan dengan laki-laki paling terkenal di sekolah, tapi saya merasa cukup dicintai dengan kehadiran orang-orang terdekat. Saya menyadari bahwa walaupun pakaian saya tidak mahal, tubuh saya tidak seperti tokoh reality TV atau model majalah, dan saya tidak pergi ke tempat-tempat ternama yang dapat saya pamerkan di media sosial.

Namun saya tidak apa-apa, saya tetap berpakaian sesuka hati dan menampilkan tubuh dan wajah yang tidak memenuhi standar aliran utama. Bahkan sekarang saya menghapus banyak aplikasi media sosial karena saya bosan dengannya, mencari eksistensi sudah tidak ada dalam pikiran saya.

Saya berhenti berusaha meniru teknik berdandan di YouTube dan dengan santai ke kampus tanpa make-up dan berpakaian biasa saja. Saya tetap bisa bahagia. Ya, mimpi saya pergi, tapi diri saya yang dulu juga sudah tidak ada.

Saya yakin setiap kehilangan yang saya alami di masa depan tidak akan berarti apapun, karena waktu akan mengajak saya meninggalkan hal-hal yang meninggalkan saya.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tentang Waktu yang Mendewasakan Saya: Seorang Anak Perempuan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Rachel Diercie | @racheldiercie

Pecinta seni dan sastra. Hidup dari membaca, berjalan kaki, dan kopi.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Alibaba Alibabi | @alibabaalibabi

Nice Info Good Article Kata Bijak