324
Sampai umurku dua puluh lima, aku belum pernah patah hati.

Bunyi hair dryer membuat pekak telinga. Aroma obat-obatan rambut yang menyengat membuat lubang hidungku seolah ingin menutup saja. Orang saling sahut, “Potong gaya apa?” Dan, “Jelitaaa, itu Ibu Lina minta dicat hitam ubannya, kok kamu pakai warna hijau toska?”

***

Sampai umurku dua puluh lima, aku tidak pernah mengalami patah hati.

Seperti apa, sih, rasanya itu? Seharusnya ia menimpa semua orang, kan? Tidak ada perempuan yang saking cantiknya ia jadi lolos dari tragedi patah hati. Atau laki-laki yang terlalu kaya, jadi nasib patah hati itu bisa ia tukar dengan segepok pundi. Tidak ada hati yang bisa kebal dari tragedi.

Kecuali hatiku, mungkin.

“Mbak, jangan tidur,” tegur perempuan yang sedang 'mengobati' rambutku.

“Maaf, Mbak, saya nggak akan tidur, janji,” jawabku.

Saat ditanya mengenai alasan patah hati, jawaban orang-orang itu beragam. Jawaban dengan jumlah tertinggi adalah, pacar saya pergi. Dalam hati, aku kebingungan. Hanya inikah penyebab patah hati?

Begini, maksudku.

Kita menjalin hubungan dengan sesama manusia. Saat kita mengharapkan yang terbaik, maka demikian pula dengan pasangan kita. Bila ia pergi demi yang lebih baik, mengapa kita tidak bisa merelakannya? Kita tahu betul perasaan itu, kan, mengenai keinginan untuk mendapatkan yang terbaik? Lantas kenapa kita perlu terisak dan mengelak atas sesuatu yang dapat dicerna otak?

Yakin itu namanya cinta?

Atau mungkin cinta kita pada diri sendiri terlalu besar hingga kita tidak dapat membiarkan diri kita sendiri terluka? Atau kita terluka karena merasa 'kurang baik'? Atau karena harapan dan ekspektasi ternyata tidak sesuai kenyataan?

Mungkin banyak orang (termasuk aku) masih mendefinisikan cinta dan mencintai dengan cara yang salah. Barangkali, karena itu pula, hatinya berulang kali patah.

“Darmiiiiii! Ambilin roll-an! Cekikikan mulu kamu main hape! Pasti lagi SMS-an sama si Jamal, ya? Udah tahu dia laki orang!"

Nah, barusan ada yang janggal.

Jadi, tubuhku memang langsing, tinggi semampai, kulitku sawo matang, boleh dibilang cukup ideal. Tapi, rambutku gimbal.

Puluhan laki-laki menolakku karena alasan itu. Tapi aku tidak pernah patah hati. Kurasa tidak ada yang salah dengan laki-laki yang tidak menyukai perempuan berambut gimbal. Itu hanya soal selera. Buktinya, pacarku suka, dan kami sudah tiga tahun bersama, sejak umurku dua-dua.

Tetapi, malam tadi dia berujar, “Coba kamu di re-bonding, deh, Sayang.”

Kata rebonding sangat asing bagi telingaku sampai Mbak salon yang alisnya tinggi sebelah dan duduk di meja kasir tadi menjelaskan dengan sabar. Itu merupakan proses pelurusan rambut dengan bahan kimia. Prosesnya berlangsung dari jam satu sampai lima. Harganya satu juta. Semua itu kuiyakan: mungkin karena cinta.

Seperti itukah, seharusnya cinta? Ketika kulakukan sesuatu yang pacarku minta?

Sekarang semuanya telah selesai.

Aku diminta untuk memandang cermin.

Nampak sesosok perempuan ayu balik menatapku.

Aku tak mengenal perempuan itu.

Sosok perempuan itu sering kutemui pada banyak sosok lain, tapi sosok itu bukan aku. Sosok itu tinggi semampai, langsing, berkulit sawo matang dan rambutnya lurus seperti spageti. Rambutku kribo. Itu bukan diriku. Mungkin jutaan perempuan lain mati-matian ingin punya rambut lurus seperti yang didikte oleh standar kecantikan ideal (katanya). Tapi, perempuan di cermin itu bukan aku.

Saat itulah sesuatu terasa meremas dada.

Aku kesulitan bernapas dan ingin menangis keras-keras. Aku merasa tertindas. Aku merasa kalah. Aku ingin marah, tapi diriku mengatakan bahwa aku tidak punya daya untuk melakukan itu sehingga solusi yang tersisa hanya pasrah. Aku berduka karena menyaksikan dirku sendiri, malam tadi, sepakat bahwa perempuan berambut gimbal tidak layak dicintai.

Seseorang, tolong beritahu aku, seperti inikah rasanya patah hati?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tentang Rebonding dan Patah Hati.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Abi Ardianda | @abiardianda

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar