1.4K
Cerita ini dimulai dari ibu saya yang harus berhenti sekolah saat duduk di bangku kelas 2 SMA. Tepatnya, saat seorang pria yang berprofesi sebagai seorang guru olahraga ingin meminangnya.

Mungkin Ibu saya terpesona kharisma pria yang piawai bermain gitar dan bersuara merdu ini. Artis daerah, orang-orang menyebutnya demikian--karena kabarnya, ia sempat rekaman album kaset Karambaangan. Sebenarnya mirip petikan gitar Kalimantan, namun Karambaangan lebih variatif karena dilengkapi dengan nyanyian khas daerah. Dengan keahlian itu, pria yang akhirnya menjadi Bapak saya itu sempat menjadi idola para perempuan.

Ibu tidak pernah bercerita tentang hal ini kepada saya. Informasi ini justru saya dapat dari sana-sini, termasuk ketika para tetangga bercerita tentang masa kacil saya.

Setelah Ibu dan Bapak menikah, konflik mulai terjadi ketika Ibu mengandung saya, dan Bapak mulai tergoda dengan kawan perempuan yang kerap menemaninya rekaman. Bahkan, belakangan diketahui bahwa perempuan itu mengandung. Saat itu, Bapak tetap memilih saya dan Ibu.

Namun, begitu saya lahir, konflik semakin menjadi-jadi. Bapak sering meninggalkan rumah untuk urusan sepak bola antarkecamatan (salah satu alasan mengapa saya tumbuh besar membenci sepak bola). Saat kembali ke rumah, Bapak lebih memilih membeli saguer (minuman sejenis tuak) untuk diminum sebelum tidur; ketimbang membelikan susu. Bapak merasa rugi jika uangnya digunakan untuk membeli susu.

Setiap hari, Ibu berpikir keras dan berusaha menemukan minuman pengganti susu untuk saya. Saya pun terpaksa harus minum ue mbio--atau air beras. Air beras diambil dari air rebusan beras di belanga saat beras baru dimasak setengah matang di atas tungku api. Lalu air beras ini diberi sedikit gula selagi masih hangat.

Jadi, selain masa kecil saya tidak bahagia, masa kecil saya juga kurang bahagia.

Tidak berhenti di sini, saya pun harus melihat Ibu menerima perlakuan kasar. Entah apa yang bergolak dalam diri Bapak waktu itu hingga dapat melakukan kekerasan sedemikian. Efeknya masih terasa hingga sekarang. Telinga sebelah kiri Ibu terganggu akibat pukulan keras Bapak. Saat Ibu sudah tak mampu lagi menahan rasa sakit dan perlakuan Bapak, Ibu memutuskan meninggalkan rumah diam-diam, lantas kembali ke rumah orangtuanya.

Saat menikah dulu, Ibu dan Bapak tinggal di 'rumah guru'. Rumah di halaman sekolah yang diperuntukkan bagi para guru yang berasal dari daerah lain. Saat Bapak mendapati 'rumah guru' sudah kosong tanpa saya dan Ibu, Bapak mengamuk. Bapak berusaha mencari kami sampai ke rumah Kakek. Ibu tak mau dibawa pergi oleh Bapak, dan meminta tolong kepada tetangga untuk membawa saya pergi. Harapannya, tetangga bisa menyembunyikan saya di rumah mereka sehingga Bapak tak bisa menemukan dan membawa pergi saya dan Ibu.

"Dari rumah ke rumah, kau dibawa lewat jendela agar tak satupun melihat," cerita seorang Ibu tetangga yang membantu menyembunyikan saya.

Akhirnya, Kakek dan Nenek membantu mengurus perceraian kedua orang tua saya. Belum genap saya berusia 2 tahun, kedua orang tua saya berpisah. Saya diangkat anak oleh Kakek dan Nenek. Ibu memilih berangkat ke Jakarta untuk menjauh dan menghindari kemungkinan bertemu Ayah, sambil berusaha melepaskan diri dari trauma.

Hal yang membuat saya sedih selama 19 tahun adalah kenyataan bahwa selama itu pula, saya mengenal Ibu sebagai kakak kandung saya. Bukan sebagai Ibu yang melahirkan saya. Bertahun-tahun, saya bahkan menyapanya sebagai Kakak, bukannya Ibu.

Sempat saya berpikir untuk tak terlahir dari keluarga ini. Semua yang saya alami di masa kecil masih terus membayangi masa remaja saya. Saya harus berupaya berdamai dengan diri sendiri untuk memaafkan kondisi masa kecil saya. Saya sering bertanya-tanya apakah saya akan tumbuh menjadi pribadi yang berbeda jika saya bisa mengalami dibesarkan oleh kedua orang tua saya.

Namun, sekarang, saya merasa Tuhan memelihara perkara ini dengan baik.

Ibu saya bertahun-tahun kemudian dipertemukan dengan pria yang lebih baik, lebih sabar, dan lebih penyayang. Saya pun kemudian memiliki seorang adik perempuan.

Terkadang, rasa cemburu menghampiri saya saat melihat Ibu dan Ayah tiri menyayangi dan memanjakan adik perempuan saya. Namun di sisi lain, saya juga bangga karena mampu memenangkan hati dan menaklukkan ego saya sendiri. Saya bahagia melihat keluarga kecil Ibu sekarang, keluarga saya.

Saya meyakini bahwa kemanapun saya pergi, masalah apapun yang saya hadapi, merekalah tempat saya bisa nyaman untuk kembali. Membuat saya merasa bahwa saya juga memiliki sebuah keluarga.

#bukanrahasialagi



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tentang Masa Kecil yang (Tidak) Bahagia dan Menelisik Rahasia-rahasia Ibu.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Suzana Dera | @suzanadorotheadera

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar